DIKSARLA Angkatan XI Tahun 2026 menjadi ajang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kepedulian lingkungan bagi generasi muda Kota Gunungsitoli.
GUNUNGSITOLI, BONARINEWS – Organisasi Pecinta Alam Tapak Kaki kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi muda yang tangguh dan peduli lingkungan melalui pelaksanaan Pendidikan Dasar dan Latihan (DIKSARLA) Angkatan XI Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari dua malam, mulai 26 hingga 28 Juni 2026, digelar di kawasan Baho Gamira, Desa Fadoro Hilimbowo, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa, Kota Gunungsitoli.
DIKSARLA menjadi tahapan akhir bagi calon anggota setelah menjalani pembelajaran di kelas selama kurang lebih satu bulan. Dalam proses tersebut, peserta dibekali berbagai pengetahuan dasar mengenai organisasi, etika kepecintaalaman, pelestarian lingkungan, keselamatan, hingga keterampilan lapangan yang wajib dimiliki seorang pecinta alam.
Bohalima DIKSARLA XI, Herman Batee yang akrab disapa Tambilkha, menjelaskan bahwa kegiatan lapangan menjadi sarana untuk mengimplementasikan seluruh materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Menurutnya, pendidikan dasar ini tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, mental, jiwa kepemimpinan, dan rasa tanggung jawab terhadap sesama maupun lingkungan.
Ia mengaku bersyukur seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung lancar dan diikuti peserta dengan semangat tinggi hingga penutupan.
Petualangan peserta dimulai dengan long march dari Alun-Alun Kota Gunungsitoli menuju lokasi kegiatan di Baho Gamira. Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dalam melatih ketahanan fisik, kerja sama tim, dan kemampuan beradaptasi di alam terbuka.
Selama berada di lokasi, peserta mengikuti berbagai praktik lapangan yang menantang, mulai dari pencarian nama rimba, pencarian bandana, susur gua atau caving, latihan Single Rope Technique (SRT), hingga materi teknis lainnya yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan dan solidaritas antaranggota.
Ketua Umum Pecinta Alam Tapak Kaki, Tolona Gea, memberikan apresiasi kepada seluruh panitia, instruktur, dan peserta yang berhasil menyelesaikan setiap tahapan pendidikan dengan baik.
Ia menegaskan bahwa DIKSARLA merupakan gerbang awal bagi anggota muda untuk memahami nilai-nilai kepecintaalaman yang menempatkan kecintaan terhadap alam, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai prinsip utama.
Menurutnya, anggota baru diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan teknis yang memadai, tetapi juga integritas, karakter yang kuat, dan semangat menjadi pelopor pelestarian lingkungan di Kepulauan Nias.
Pada DIKSARLA Angkatan XI Tahun 2026, Tapak Kaki secara resmi menerima sembilan anggota baru, yakni Tuhoni Lase (Sino), Indra Gulo (Ewali), Forman Gea (Gawu), Eben Zai (Ndraso), Iren Halawa (Luaha), Milka Harefa (Ndrofi), Fania Lase (Lawuo), Kezia Harefa (Tano), dan Dearni Zebua (Simbo).
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan sukses hingga penutupan pada 28 Juni 2026.
Melalui DIKSARLA XI, Pecinta Alam Tapak Kaki kembali menegaskan perannya dalam membangun sumber daya manusia yang peduli lingkungan, memiliki keterampilan kepecintaalaman, serta siap berkontribusi bagi masyarakat dan kelestarian alam di Kepulauan Nias.
Penulis: Alfa Christofer