1.551 Warga Nangahale Masih Mengungsi, Belum Ada Tenda Pemerintah: Terpal Jadi Alas Tidur

Bagikan Artikel

NTT, BONARINEWS — Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) masih menyisakan ketakutan bagi warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Sebanyak 393 kepala keluarga atau 1.551 jiwa memilih mengungsi secara mandiri di lima titik setelah merasakan kuatnya guncangan. Hingga hari kedua pascagempa, warga disebut belum mendapatkan tenda pengungsian dari pemerintah dan masih bertahan dengan fasilitas seadanya.

Terpal yang tersedia digunakan warga terutama sebagai alas untuk tidur dan beristirahat. Kondisi ini menjadi perhatian karena para pengungsi tidak hanya terdiri dari orang dewasa, tetapi juga kelompok rentan.

Data pengungsian mandiri mencatat terdapat 762 laki-laki dan 768 perempuan. Di antara mereka terdapat 27 ibu hamil, 75 ibu menyusui, 179 lansia, 90 balita, 603 anak-anak, serta 19 penyandang disabilitas.

Lima titik pengungsian tersebut yakni Posko 1 Bukit Tujabao sebanyak 21 KK atau 69 jiwa, Posko 2 Gereja Nangahale sebanyak 17 KK atau 47 jiwa, Posko 3 di belakang SMK bagian timur sebanyak 154 KK atau 610 jiwa, Posko 4 di belakang SMK bagian barat sebanyak 70 KK atau 350 jiwa, serta Posko 5 di belakang SMP 46 Nangahale sebanyak 131 KK atau 475 jiwa.

Posko 3 menjadi lokasi dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 610 jiwa dari 154 KK.

Kondisi pengungsian semakin memprihatinkan karena terpal yang digunakan warga belum dapat menggantikan fungsi tenda sebagai tempat perlindungan. Warga membutuhkan tempat yang mampu melindungi mereka dari panas, hujan, angin, sekaligus memberikan ruang istirahat yang lebih aman.

Trauma Tsunami Pulau Babi

Keputusan warga untuk meninggalkan rumah juga tidak terlepas dari trauma terhadap bencana besar yang pernah melanda kawasan Flores.

Pada 12 Desember 1992, gempa bumi yang kemudian disusul tsunami menerjang sejumlah wilayah Flores. Pulau Babi menjadi salah satu kawasan yang mengalami dampak parah.

Sebagian masyarakat yang selamat dari tragedi tersebut kemudian dipindahkan ke sejumlah wilayah, termasuk Desa Nangahale.

Karena pengalaman tersebut, guncangan gempa kali ini kembali memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Warga memilih berada di lokasi terbuka dan menjauh dari rumah hingga situasi dinilai lebih aman.

10 Rumah Warga Rusak

Selain memicu pengungsian, gempa juga menyebabkan kerusakan terhadap rumah warga.

Pendataan sementara mencatat 10 kepala keluarga memiliki rumah yang mengalami kerusakan. Mereka adalah Sulman, Tahrip, Nasring, Kasahir, Hamsani, Tahap, Rawine, Risal, Halija, dan Indra.

Enam kepala keluarga pertama tercatat berada di Dusun Namandoi, sedangkan empat lainnya berada di Dusun Nangahale.

Data tersebut masih membutuhkan verifikasi untuk mengetahui tingkat kerusakan masing-masing bangunan. Pemeriksaan menjadi penting sebelum warga kembali ke rumah guna memastikan bangunan benar-benar aman untuk ditempati.

Kebutuhan Mendesak di Lokasi Pengungsian

Dengan jumlah pengungsi mencapai 1.551 jiwa, kebutuhan warga Nangahale tidak hanya berupa makanan dan air bersih.

Ketersediaan tenda atau tempat perlindungan yang layak menjadi kebutuhan mendesak. Selain itu, diperlukan sanitasi, layanan kesehatan, kebutuhan bayi dan anak-anak, serta fasilitas khusus bagi lansia, ibu hamil, ibu menyusui, dan penyandang disabilitas.

Dukungan psikososial juga dibutuhkan mengingat sebagian masyarakat memiliki pengalaman traumatis akibat bencana tsunami Pulau Babi 1992.

Pemerintah diharapkan segera memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi di lima titik pengungsian tersebut sekaligus melakukan verifikasi terhadap rumah-rumah yang mengalami kerusakan.

Kecamatan Belum Berikan Penjelasan

Camat Talibura yang dikonfirmasi media ini belum memberikan penjelasan. Nomor telepon yang dihubungi tidak dapat tersambung.

Sementara itu, informasi yang diterima media menyebutkan belum tersedianya tenda hingga hari kedua diduga berkaitan dengan rekapitulasi laporan dari Kecamatan Talibura yang belum diterima BPBD Kabupaten Sikka, meskipun laporan dari tingkat desa disebut telah dikirimkan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, warga Nangahale masih bertahan di lokasi pengungsian.

Gempa mungkin telah berhenti mengguncang tanah, tetapi rasa takut belum sepenuhnya hilang. Bagi 1.551 warga Nangahale, kebutuhan saat ini bukan sekadar tempat untuk tidur, melainkan kepastian bahwa mereka mendapatkan perlindungan yang aman dan layak hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman.

Reporter: Faidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *