Hari Ketiga Pascagempa M7,7, 27 Ibu Hamil di Nangahale Masih Mengungsi Tanpa Tenda Pemerintah

Bagikan Artikel

TALIBURA, BONARINEWS — Tiga hari setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, ratusan warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di lokasi pengungsian dengan fasilitas seadanya.

Di antara mereka terdapat 27 ibu hamil yang hingga Senin, 17 Agustus 2026, belum mendapatkan tenda pengungsian dari pemerintah.

Warga masih menggunakan terpal sebagai alas untuk tidur dan beristirahat. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian pengungsi merupakan kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan dan layanan khusus.

“Ada satu orang ibu hamil dalam keadaan diinfus karena sakit tanpa tenda pengungsian. Kasihan,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak disebutkan.

Berdasarkan pendataan pengungsian mandiri masyarakat Desa Nangahale, terdapat 393 kepala keluarga atau 1.551 jiwa yang mengungsi. Mereka terdiri atas 762 laki-laki dan 768 perempuan.

Selain 27 ibu hamil, terdapat 75 ibu menyusui, 179 lansia, 90 balita, 603 anak-anak, dan 19 penyandang disabilitas.

Mengungsi di Lima Titik

Warga Nangahale memilih meninggalkan rumah dan bertahan di lima titik pengungsian yang dianggap lebih aman setelah gempa mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Lima lokasi tersebut adalah Posko 1 Bukit Tujabao dengan 21 KK atau 69 jiwa, Posko 2 Gereja Nangahale dengan 17 KK atau 47 jiwa, Posko 3 belakang SMK bagian timur sebanyak 154 KK atau 610 jiwa, Posko 4 belakang SMK bagian barat sebanyak 70 KK atau 350 jiwa, serta Posko 5 belakang SMP 46 Nangahale sebanyak 131 KK atau 475 jiwa.

Posko 3 menjadi titik dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 610 jiwa.

Namun, sampai hari ketiga, warga masih belum memperoleh tenda pengungsian yang disiapkan pemerintah. Mereka bertahan menggunakan perlengkapan yang tersedia di sekitar lokasi.

Situasi ini menjadi semakin berat apabila kondisi cuaca berubah. Terpal yang digunakan warga belum memberikan perlindungan sebagaimana tenda pengungsian, terutama bagi ibu hamil, bayi, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.

Terkendala Laporan?

Informasi yang sebelumnya diterima Bajopos.com menyebutkan bahwa salah satu kendala penyaluran tenda berkaitan dengan rekapitulasi laporan dari Kecamatan Talibura yang disebut belum diterima BPBD Kabupaten Sikka.

Sementara laporan dari Desa Nangahale disebut telah dikirimkan.

Namun, informasi tersebut belum dapat dikonfirmasi secara langsung kepada pihak Kecamatan Talibura.

Upaya konfirmasi kepada Camat Talibura telah dilakukan, tetapi nomor telepon yang dihubungi belum dapat tersambung.

Pemerintah Kecamatan Talibura maupun BPBD Kabupaten Sikka tetap memiliki ruang untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi tersebut, termasuk langkah penanganan dan proses distribusi bantuan kepada warga Nangahale.

10 Rumah Rusak

Selain persoalan pengungsian, pendataan sementara juga mencatat 10 rumah warga mengalami kerusakan.

Mereka adalah Sulman, Tahrip, Nasring, Kasahir, Hamsani, Tahap, Rawine, Risal, Halija, dan Indra.

Enam kepala keluarga tercatat berada di Dusun Namandoi, sedangkan empat lainnya berada di Dusun Nangahale.

Data kerusakan tersebut masih membutuhkan verifikasi untuk mengetahui tingkat kerusakan masing-masing rumah serta memastikan bangunan yang terdampak masih aman atau tidak untuk ditempati.

Trauma Tsunami Pulau Babi

Keputusan warga Nangahale untuk mengungsi juga tidak bisa dilepaskan dari pengalaman bencana yang pernah terjadi di kawasan tersebut.

Pada 12 Desember 1992, gempa besar yang disusul tsunami menghantam wilayah Flores bagian timur. Pulau Babi menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak sangat parah.

Berdasarkan data yang dihimpun masyarakat, 263 orang meninggal dunia dari sekitar 700 penduduk Pulau Babi. Sebagian warga yang selamat kemudian dipindahkan, termasuk ke Desa Nangahale.

Pengalaman tersebut meninggalkan trauma bagi masyarakat.

Karena itu, ketika gempa M7,7 kembali mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, sebagian warga memilih tidak mengambil risiko dengan tetap tinggal di rumah.

Mereka membawa keluarga dan memilih mencari tempat yang dianggap lebih aman.

27 Ibu Hamil Butuh Perhatian Khusus

Kondisi 27 ibu hamil di antara ribuan pengungsi menjadi salah satu persoalan yang membutuhkan perhatian segera.

Kebutuhan mereka bukan hanya makanan dan air minum, tetapi juga tempat beristirahat yang layak, sanitasi, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.

Apalagi, seorang ibu hamil dilaporkan harus mendapatkan infus ketika masih berada di lokasi pengungsian tanpa tenda.

Dalam situasi pascabencana, kelompok rentan membutuhkan penanganan yang tidak dapat disamakan dengan pengungsi lainnya.

Pemerintah diharapkan segera memastikan tersedianya tenda atau tempat perlindungan yang layak, sekaligus memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.

Dengan 1.551 jiwa yang tersebar di lima titik, kebutuhan pengungsi juga mencakup makanan, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, kebutuhan bayi dan anak-anak, serta perlindungan bagi lansia, ibu hamil, ibu menyusui dan penyandang disabilitas.

Tiga hari telah berlalu sejak gempa mengguncang Flores. Warga Nangahale telah memilih menyelamatkan diri dari ancaman bencana dengan meninggalkan rumah.

Kini, mereka menunggu pemerintah memastikan tempat pengungsian juga memberikan rasa aman dan perlindungan yang layak.

Bagi 27 ibu hamil, penantian itu menjadi lebih mendesak.

Reporter: Faidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *