Sebanyak 354 peserta didik mendapat penanganan medis setelah menyantap makanan MBG di Karo. Di tengah investigasi pemerintah dan temuan dugaan kelalaian pengelolaan bahan pangan, sebagian siswa membawa pulang trauma dan kehilangan kepercayaan terhadap makanan yang sebelumnya mereka konsumsi di sekolah.
KARO, BONARINEWS — Yang tertinggal dari sepiring Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi Aldy Prayoga bukan rasa kenyang atau tenaga untuk melanjutkan pelajaran.
Yang tersisa justru rasa takut.
Beberapa jam setelah menyantap makanan MBG di sekolah pada Kamis (13/8/2026), siswa SMA Negeri 1 Berastagi, Kabupaten Karo, itu mulai merasakan gatal di bagian dalam leher. Keluhan kemudian berkembang menjadi pusing dan sakit perut hebat.
Di sekolah, rasa sakit itu masih berusaha ditahannya. Tetapi ketika tiba di rumah, kondisinya memburuk hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit.
“Trauma, Bang,” kata Aldy ketika menceritakan pengalamannya.
Kalimat pendek itu mungkin menjadi salah satu gambaran paling sederhana tentang dampak yang ditinggalkan kejadian tersebut.
Aldy bukan hanya sakit. Ia kehilangan keberanian untuk kembali menyantap makanan yang sebelumnya diberikan sebagai bagian dari program pemerintah.
“Enggak mau lagi (makan MBG), bontot aja nanti paling,” ujarnya.
Bagi Aldy, setelah sembuh dan kembali bersekolah, membawa bekal dari rumah atau membeli makanan sendiri terasa lebih aman.
Dari Ruang Kelas ke Ruang Perawatan
Kejadian itu bermula pada Kamis siang.

Sejumlah siswa yang telah menyantap makanan MBG mulai merasakan keluhan. Ada yang mengalami gatal-gatal, pusing, mual, sakit perut hingga tubuh melemah.
Di tengah situasi yang mulai tidak biasa itu, guru meminta siswa yang mengalami gejala untuk menghentikan konsumsi makanan.
Aldy masih mengingat suasana di sekolah ketika itu.
Ia kemudian menuju UKS. Di sana, ia melihat kondisi beberapa siswa lain yang menurutnya lebih parah.
“Sampai UKS itu langsung ada orang kejang-kejang. Makanya langsung dilarikan ke rumah sakit,” tuturnya.
Dari sekolah, para siswa kemudian tersebar ke sejumlah fasilitas kesehatan di Berastagi dan Kabanjahe.
Skala kejadian perlahan terlihat dari jumlah pasien yang datang.

Berdasarkan rekapitulasi sementara Tim Satgas/Dinas Kesehatan Kabupaten Karo per Jumat (14/8/2026) pukul 16.00 WIB, 354 peserta didik tercatat mendapat penanganan medis.
Sebanyak 110 pasien menjalani rawat inap, 242 pasien telah dipulangkan dalam kondisi membaik, sementara dua pasien dirujuk ke rumah sakit di Medan.
Di RS Efarina Etaham Berastagi tercatat 101 pasien. Sebanyak 61 orang masih menjalani rawat inap, 39 dipulangkan, dan satu pasien dirujuk ke RS Haji Medan.
RSU Kabanjahe menangani 35 pasien, dengan dua pasien rawat inap, 32 dipulangkan, dan satu dirujuk ke RS Bina Kasih Medan.
RS Amanda Raya Berastagi menangani jumlah terbesar, yakni 212 pasien. Sebanyak 46 masih dirawat dan 166 telah dipulangkan.
Lima pasien lainnya ditangani RS Mina Kabanjahe dan satu pasien dirawat di RS Yoreskitha.
Angka-angka itu menunjukkan besarnya beban yang harus ditanggung fasilitas kesehatan dalam waktu singkat.
Tetapi di balik angka 354, ada 354 pengalaman manusia yang tidak seluruhnya tercatat dalam tabel.
Ada anak yang muntah.
Ada yang sakit perut.
Ada yang harus dirawat.
Ada orang tua yang mendadak meninggalkan pekerjaan dan aktivitasnya untuk menjaga anak.
Dan ada anak seperti Aldy yang pulang membawa ketakutan terhadap makanan yang sebelumnya dipercaya aman.
Satu Anak Harus Mendapat Perawatan Intensif

Dampak paling berat terlihat pada seorang siswi yang akhirnya dirujuk ke RS Haji Medan.
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menjenguk pasien tersebut. Menurut Bobby, kondisi siswi itu lebih berat dibandingkan pasien lainnya dan sempat mengalami penurunan kesadaran sebelum dirujuk ke Medan.
Pemerintah provinsi kemudian meminta agar pasien mendapat perawatan intensif hingga kondisinya benar-benar pulih.
Peristiwa itu juga membuat Bobby menyampaikan permintaan maaf kepada orang tua pasien dan memastikan pemerintah akan mengawal perawatannya.
Keterangan dari rumah sakit pada Sabtu (15/8) menggambarkan bahwa pemulihan tidak serta-merta berarti persoalan selesai.
Direktur RSU Haji Medan Yulinda Elvi Nasution mengatakan pasien yang dirawat intensif mengalami nyeri perut hebat yang datang berulang. Nyeri tersebut bahkan memerlukan pemberian obat pereda nyeri oleh tim medis.
Dengan demikian, istilah “membaik” dalam data pasien yang dipulangkan tidak serta-merta menghapus pengalaman sakit yang telah dialami para korban.
Orang Tua Menunggu Jawaban

Di RS Efarina Etaham, keresahan tidak hanya datang dari anak-anak.
Orang tua juga menunggu jawaban.
Fitriani br Sijabat, orang tua Agnesia Paruliana br Silitonga, menyampaikan keluhan langsung kepada Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono ketika mengunjungi pasien di Berastagi.
Yang paling ia persoalkan adalah ketidakjelasan mengenai penyebab anaknya sakit.
Keluarga membutuhkan informasi mengenai zat atau racun apa yang diduga terdapat dalam makanan yang dikonsumsi korban.
Bagi orang tua, mengetahui penyebab bukan sekadar persoalan rasa ingin tahu.
Jawaban itu menentukan apakah makanan yang sama masih aman dikonsumsi, apakah kejadian bisa berulang, dan siapa yang harus bertanggung jawab apabila ditemukan kelalaian.
Fitriani juga mempertanyakan perhatian dan kompensasi bagi keluarga yang harus mendampingi korban selama menjalani perawatan.
Kekecewaannya bahkan membuatnya mempertanyakan keberlanjutan MBG.
“Saya kecewa dengan MBG. Kalau boleh, tidak usah ada MBG, karena selama ini kami sehat,” ujarnya.
Kalimat itu bukan sekadar penolakan terhadap program pemerintah. Ia adalah suara seorang ibu yang sedang berhadapan dengan pengalaman buruk setelah anaknya sakit.
Ketika Pejabat Berkata “Tidak Mengkhawatirkan”

Di tengah kepanikan pada hari pertama, muncul pula perbedaan nada dalam melihat kondisi korban.
Bupati Karo Antonius Ginting, setelah mengecek para pelajar yang dirawat di RS Amanda Berastagi pada Kamis, mengatakan kondisi para siswa tidak mengkhawatirkan.
“Dari 255 anak sekolah yang kemungkinan, ini masih kemungkinan gejala keracunan, ini semuanya tidak ada yang mengkhawatirkan,” ujarnya ketika itu.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai kabar baik karena anak-anak dalam keadaan baik-baik.
Namun, beberapa jam dan hari setelahnya, gambaran kondisi di lapangan menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu.
Sebagian besar pasien memang akhirnya dipulangkan. Tetapi 110 orang sempat menjalani rawat inap dan dua orang harus dirujuk ke Medan. Salah satu pasien bahkan sempat mengalami penurunan kesadaran dan mendapat perawatan intensif.
Di situlah pentingnya membedakan antara mayoritas pasien yang kemudian membaik dan tidak adanya kondisi yang mengkhawatirkan.
Keduanya bukan hal yang sama.
Pertanyaan tentang Ikan di Dapur MBG

Pada awal kejadian, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut belum diketahui. Sampel makanan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui penyebabnya.
Namun, pada Minggu (16/8), Kepala BGN Sudaryono mengungkap temuan investigasi sementara.
Menurut Sudaryono, terdapat sekitar 200–300 ekor ikan yang tidak dimasukkan ke freezer dan dibiarkan pada suhu ruang selama sekitar 12 jam.
Ia menyebut hal tersebut sebagai bentuk kelalaian dalam pengelolaan bahan baku dan menegaskan bahwa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak boleh melakukan kelalaian yang dapat membahayakan penerima manfaat.
Temuan itu menjadi titik penting dalam penyelidikan.
Namun, temuan tersebut belum boleh ditulis sebagai kesimpulan bahwa ikan itulah yang pasti menyebabkan seluruh siswa sakit.
Sebab, penyebab medis dan hubungan kausalnya tetap harus dibuktikan melalui pemeriksaan laboratorium dan investigasi resmi.
Perbedaan antara “ditemukan kelalaian” dan “penyebab keracunan telah terbukti” harus tetap dijaga.
Justru di sanalah pertanggungjawaban pemerintah diuji.
Bukan Sekadar Soal Satu Menu
Kasus di Karo akhirnya membawa persoalan MBG ke pertanyaan yang lebih besar.
Program makanan untuk anak sekolah tidak hanya membutuhkan makanan yang bergizi. Ia membutuhkan sistem yang mampu menjamin bahwa makanan tersebut aman sejak bahan baku dibeli, disimpan, diolah, dikemas, diangkut, hingga disantap anak-anak.
Satu kesalahan dalam rantai itu dapat berpindah dari dapur ke ruang kelas.
Dan ketika terjadi, akibatnya tidak berhenti pada satu piring makanan.
Ada rumah sakit yang harus menerima pasien dalam jumlah besar.
Ada orang tua yang harus meninggalkan pekerjaan.
Ada anak yang harus menjalani rawat inap.
Ada keluarga yang membutuhkan kepastian.
Dan ada siswa yang kemudian berkata, “Enggak mau lagi.”
Bagi penyelenggara program, kalimat itu seharusnya menjadi alarm.
Sebab keberhasilan program makanan bergizi tidak cukup diukur dari berapa banyak porsi yang berhasil dibagikan.
Ukuran paling mendasar adalah apakah makanan itu aman untuk dimakan anak-anak.
“Saya Enggak Butuh Penurunan, Saya Butuh Nol Kasus”
Sudaryono sendiri mengatakan BGN tidak cukup hanya melihat angka kejadian keracunan menurun.
Targetnya, kata dia, adalah tidak ada kasus sama sekali.
“Memang tingkat jumlah keracunannya turun tapi saya enggak butuh penurunan, saya butuhnya nol kasus. Enggak boleh lagi ada,” ujarnya.
Pernyataan itu membawa persoalan Karo kembali kepada titik awal: kepercayaan.
Bagi pemerintah, MBG adalah program pemenuhan gizi.
Bagi siswa, makanan itu hadir di atas meja sekolah.
Bagi orang tua, makanan itu masuk ke tubuh anak mereka.
Karena itu, ketika sesuatu berjalan salah, yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas satu menu atau kinerja satu dapur.
Yang dipertaruhkan adalah rasa percaya.
Aldy sudah memberikan jawabannya untuk sementara.
Setelah pengalaman sakit dan melihat teman-temannya dilarikan ke rumah sakit, ia memilih membawa bekal sendiri.
“Enggak mau lagi.”
Di balik kalimat sederhana itu terdapat pekerjaan besar yang harus dilakukan pemerintah: mengembalikan keyakinan bahwa makanan yang diberikan kepada anak-anak di sekolah benar-benar bergizi, aman, dan dikelola dengan standar yang tidak memberi ruang bagi kelalaian.
Sampai penyebab pasti kejadian ini benar-benar terang, sampai hasil pemeriksaan laboratorium dibuka secara transparan, dan sampai langkah pertanggungjawaban dijelaskan kepada keluarga korban, pertanyaan itu belum selesai.
Apa yang sebenarnya terjadi di balik 354 anak yang jatuh sakit di Karo?
Dan yang tak kalah penting:
Bagaimana memastikan anak-anak yang kembali duduk di bangku sekolah tidak perlu lagi memilih antara makan dari program pemerintah atau membawa bekal sendiri karena takut?
Tim Penulis: Dedy Hutajulu & Sastra