Megawati Mengaku Menangis Usai Nonton Film Pesta Babi, Singgung Hutan Sawit hingga Kedaulatan Bangsa

Bagikan Artikel

Yogyakarta, BONARINEWS – Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri mengaku menangis setelah menonton film dokumenter berjudul Pesta Babi. Pengakuan itu disampaikannya saat berbicara dalam forum National Policy Dialogue bertema Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Megawati menyoroti berbagai persoalan lingkungan hidup, alih fungsi lahan, hingga pentingnya menghormati masyarakat adat dalam pembangunan nasional.

“Saya kemarin menangis ketika melihat film Pesta Babi. Itu benar adanya,” kata Megawati.

Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu mengaku prihatin melihat semakin luasnya kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi perkebunan, sementara keberadaan masyarakat adat dan tradisi lokal kerap terabaikan.

Menurut Megawati, pembangunan tidak boleh mengorbankan hak-hak masyarakat adat yang telah lama hidup dan menjaga wilayahnya secara turun-temurun.

“Sudah seberapa banyak hutan hanya dijadikan tanaman sawit, untuk apa? Di sana ada tradisi adat, ada hukum adat, ada hukum wilayah. Mereka minta dihargai, apakah salah?” ujarnya.

Dalam forum tersebut, Megawati juga mengingatkan pentingnya Indonesia kembali memperkuat identitasnya sebagai bangsa maritim. Ia menilai selama ini potensi laut Indonesia belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai fondasi pembangunan nasional.

Padahal, Indonesia memiliki posisi strategis yang berada di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta dianugerahi kekayaan hayati laut yang sangat besar.

“Indonesia itu bukan sekadar negara daratan. Kita adalah bangsa maritim dengan posisi strategis di kawasan Samudra Hindia dan Pasifik,” tegasnya.

Megawati menekankan bahwa konsep “Tanah Air” seharusnya menjadi cara pandang bangsa Indonesia dalam melihat laut sebagai pemersatu wilayah sekaligus sumber kemajuan peradaban.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai dasar pembangunan nasional. Menurutnya, penguatan riset, inovasi, dan kedaulatan maritim harus tetap berpijak pada identitas bangsa dan semangat berdikari yang diwariskan para pendiri negara.

“Jangan lupakan sejarah bangsa sendiri. Pancasila itu nilai universal yang dihormati dunia internasional,” katanya.

Selain itu, Megawati meminta BRIN dan perguruan tinggi memperkuat riset yang terhubung dengan kebutuhan industri dan kebijakan publik. Ia menilai hasil penelitian harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian bangsa.

Megawati juga mengingatkan pentingnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terhadap kekayaan hayati Indonesia agar tidak diklaim negara lain.

“Tolong sosialisasikan soal paten itu, karena begitu sudah dipatenkan, itu menjadi hukum internasional,” ujarnya.

Dalam paparannya, Megawati turut mengusulkan agar perguruan tinggi di Indonesia memiliki fokus keunggulan masing-masing. Ia mencontohkan UGM sebagai pusat pengembangan Pancasila dan demokrasi, IPB sebagai pusat kedaulatan pangan, Universitas Indonesia untuk kedokteran dan sistem keuangan, serta ITB untuk teknologi industri dan pertahanan.

Tak hanya itu, Megawati juga menyinggung perlunya arah pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan agar visi pembangunan nasional tidak berubah setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan haluan pembangunan yang jelas untuk menjaga kesinambungan pembangunan bangsa di masa depan.

Menutup pidatonya, Megawati mengajak seluruh elemen bangsa untuk percaya pada kekuatan sendiri dan tidak bergantung pada negara lain dalam mengelola sumber daya alam maupun menentukan arah pembangunan nasional.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang percaya kepada kekuatan bangsanya sendiri. Laut harus kembali menjadi jalan kemajuan peradaban Indonesia,” pungkasnya.

Penulis: Lindung Silaban



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *