KALSEL, BONARINEWS – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan mengganggu habitat bekantan. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat kebakaran berlangsung, tetapi juga dapat berlanjut selama ekosistem mengalami pemulihan.
Founder Sahabat Bekantan Indonesia sekaligus akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bidang Biologi Konservasi, Amalia Rezeki, mengatakan bekantan sangat bergantung pada vegetasi tepian sungai dan kawasan lahan basah.
“Asap dapat menurunkan kualitas udara dan berpotensi mengganggu sistem pernapasan manusia dan satwa,” kata Amalia di Banjarbaru, Sabtu (19/9/2026).
Menurut dia, gangguan terhadap habitat bekantan dapat terjadi akibat asap, kerusakan vegetasi tepian sungai, hingga berkurangnya tutupan pohon yang menjadi tempat mencari makan, berlindung, beristirahat, dan berpindah.
Kondisi lingkungan yang terganggu juga berpotensi memengaruhi perilaku bekantan, termasuk aktivitas makan, beristirahat, dan pergerakan kelompok. Namun, dampak kesehatan pada bekantan di lokasi tertentu tetap perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan pemantauan lapangan.
Karena itu, pemulihan vegetasi tepian sungai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan habitat bekantan setelah karhutla.
Penulis: Dedy Hutajulu