Oleh: Devilaria Damanik
Hidup dimulai dengan angka dan berakhir dengan angka.
Saat seorang anak lahir, tanggal, bulan, dan tahunnya dicatat. Ketika ia meninggal, angka-angka itu kembali dibuka untuk menghitung berapa lama ia pernah hidup. Di antara dua tanggal itu, ada banyak angka lain yang akan mengikutinya: usia masuk sekolah, nilai ujian, umur mencari kerja, jumlah gaji, saldo rekening, harga rumah, sampai angka yang menentukan apakah ia masih layak bekerja atau sudah waktunya disingkirkan.
Sejak awal, manusia sudah diperkenalkan pada angka. Barangkali sebelum benar-benar memahami arti kehidupan, ia lebih dulu belajar bahwa segala sesuatu memiliki ukuran.
Umur harus bertambah. Nilai harus tinggi. Gaji harus naik. Tabungan harus banyak. Kalau bisa, semuanya lebih besar daripada milik orang lain.
Angka seperti tidak pernah merasa cukup.
Seorang pekerja menerima gaji setiap bulan. Katakanlah tujuh juta rupiah. Di atas kertas, angka itu tampak lumayan. Tetapi setelah dikurangi biaya makan, tempat tinggal, listrik, transportasi, cicilan, dan kebutuhan keluarga, yang tersisa tidak seberapa. Ia menghitung ulang pengeluaran, mengurangi belanja, menunda keinginan, dan menyimpan sedikit uang untuk masa depan.
Ia ingin hidup lebih baik. Maka ia mulai berinvestasi saham.
Setiap hari, ia membuka aplikasi di ponselnya. Angka hijau membuatnya berharap. Angka merah membuatnya gelisah. Ia membaca berita, memeriksa grafik, dan mencoba memahami pergerakan harga. Ia tahu bahwa uang tidak bisa bertambah tanpa risiko. Namun, ia juga tahu bahwa jika hanya mengandalkan gaji, masa depannya mungkin akan berjalan lebih lambat daripada kenaikan harga kebutuhan hidup.
Maka ia mempertaruhkan sebagian uang yang dikumpulkannya dengan susah payah.
Ironisnya, uang yang diperoleh dengan bekerja selama sebulan bisa menyusut dalam beberapa menit. Ia seperti sedang berlari di tempat: bekerja untuk mendapatkan angka, lalu menghabiskan waktu dan ketenangan demi mempertahankan angka itu.
Kadang ia berpikir, orang kaya tentu lebih mudah menghadapi kerugian. Jika memiliki miliaran rupiah, kehilangan beberapa juta mungkin hanya mengurangi sebagian kecil kekayaan. Tetapi bagi orang yang tabungannya terbatas, kehilangan jumlah yang sama bisa berarti menunda kebutuhan, membatalkan rencana, atau menambah kecemasan untuk berbulan-bulan.
Angka yang sama tidak selalu berarti beban yang sama.
Namun, dunia jarang bertanya seberapa berat beban yang ditanggung seseorang. Dunia lebih tertarik pada hasil akhirnya: berapa kekayaanmu, berapa gajimu, berapa keuntunganmu, dan berapa banyak yang berhasil kau kumpulkan.
Seolah-olah hidup adalah perlombaan dengan garis akhir yang terus dipindahkan.
Orang yang memiliki sedikit ingin lebih banyak. Orang yang memiliki banyak ingin lebih banyak lagi. Yang satu takut tidak mampu bertahan, yang lain takut kehilangan kedudukannya. Mereka berbeda jumlah, tetapi bisa terjebak dalam kecemasan yang sama.
Lalu kita menyebutnya keberhasilan.
Kita bertanya umur seseorang, penghasilannya, jumlah anaknya, harga rumahnya, dan nilai kendaraannya. Pertanyaan itu terdengar biasa. Namun, kadang-kadang, yang sebenarnya ingin kita ketahui bukanlah keadaan orang lain, melainkan posisi kita sendiri di hadapan mereka.
Apakah kita lebih berhasil? Lebih kaya? Lebih layak dihormati?
Kita mengukur diri dengan angka milik orang lain, lalu merasa bangga ketika berada di atas dan merasa gagal ketika berada di bawah.
Padahal, angka tidak pernah menjelaskan seluruh kehidupan seseorang. Angka di rekening tidak mencatat berapa banyak malam yang ia habiskan dalam kecemasan. Angka gaji tidak menunjukkan berapa lama ia harus meninggalkan keluarganya. Angka usia tidak menjelaskan apakah ia benar-benar menikmati hidupnya.
Tetapi manusia telanjur menyukai sesuatu yang mudah dibandingkan. Angka membuat penilaian terasa sederhana. Kita tidak perlu mengenal seseorang terlalu jauh. Cukup tanyakan berapa yang ia punya.
Lalu datanglah angka-angka yang lebih besar.
Angka yang diumumkan dalam pidato. Angka yang tercetak dalam laporan. Angka yang digunakan untuk membuktikan keberhasilan sebuah pemerintahan. Pertumbuhan ekonomi naik sekian persen. Investasi mencapai sekian triliun. Anggaran pembangunan meningkat. Produksi bertambah. Pendapatan negara tumbuh.
Semua terdengar meyakinkan.
Namun, di suatu tempat, seorang ibu masih menghitung uang belanja agar cukup sampai akhir minggu. Seorang ayah menghitung sisa tabungannya sebelum memutuskan apakah anaknya bisa melanjutkan sekolah. Seorang lulusan menghitung berapa bulan lagi ia sanggup bertahan tanpa pekerjaan. Seorang petani menghitung hasil panen yang tersisa setelah biaya produksi dan utang dibayar.
Mereka juga hidup di dalam angka, tetapi tidak selalu merasakan keberhasilan yang diumumkan melalui angka.
Barangkali angka-angka itu benar. Barangkali pertumbuhan memang terjadi. Barangkali investasi memang bertambah. Tetapi sejak kapan kenaikan sebuah angka otomatis berarti kehidupan semua orang menjadi lebih baik?
Pertumbuhan milik siapa?
Keuntungan dinikmati oleh siapa?
Dan jika kekayaan bertambah, mengapa masih ada begitu banyak orang yang harus menghitung uang receh sebelum membeli kebutuhan sehari-hari?
Pertanyaan seperti itu jarang menjadi pusat perayaan. Sebab, kita lebih senang mendengar berapa banyak yang telah dicapai daripada bertanya siapa yang mendapatkan hasilnya dan siapa yang membayar harganya.
Angka bisa menjadi bukti keberhasilan. Tetapi angka juga bisa menjadi tirai yang menutupi ketimpangan.
Di balik satu angka pertumbuhan, mungkin ada orang-orang yang kehidupannya membaik. Namun, mungkin ada pula yang kehilangan tanah, pekerjaan, atau tempat tinggal. Di balik satu angka investasi, ada uang yang bergerak dan keuntungan yang diharapkan. Tetapi siapa yang menikmati keuntungan itu? Siapa yang menanggung risikonya? Apakah semua orang mendapatkan kesempatan yang sama?
Angka tidak selalu berbohong. Manusialah yang bisa memilih angka mana yang ingin ditampilkan dan kenyataan mana yang lebih baik disembunyikan.
Pikiran itu membawanya kepada angka-angka pemilihan umum.
Berapa banyak orang yang datang ke tempat pemungutan suara? Berapa banyak suara yang diperoleh seorang calon hingga ia dipercaya memimpin? Berapa banyak janji yang disampaikan selama kampanye? Dan berapa banyak yang masih diingat setelah kursi kekuasaan berhasil diduduki?
Suara rakyat dihitung satu per satu. Selisihnya bisa menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Setiap suara memiliki arti ketika pemilihan berlangsung.
Tetapi setelah penghitungan selesai, apakah setiap suara masih memiliki arti yang sama?
Rakyat telah memberikan angka. Kekuasaan telah diberikan. Lalu, siapa yang menghitung janji-janji yang tidak ditepati?
Siapa yang mencatat berapa banyak keputusan yang merugikan masyarakat? Berapa banyak uang negara yang tidak digunakan sebagaimana mestinya? Berapa banyak kerusakan yang ditinggalkan oleh kebijakan yang keliru? Berapa banyak orang yang harus menanggung akibat dari keputusan segelintir orang?
Untuk memilih pemimpin, kita memiliki cara menghitung yang jelas. Untuk menilai janji, kita sering kehilangan ketelitian.
Padahal, janji juga seharusnya memiliki angka: berapa yang dijanjikan, berapa yang dikerjakan, berapa yang gagal, dan berapa yang harus dipertanggungjawabkan.
Begitu pula dengan hutan.
Pohon dapat dihitung. Luas lahan dapat diukur. Kerugian dapat ditaksir. Jumlah izin dapat dicatat. Tetapi apakah semua itu cukup untuk menggambarkan apa yang hilang ketika hutan ditebang?
Bagaimana menghitung sungai yang tak lagi bisa digunakan? Bagaimana menghitung rasa takut orang-orang yang kehilangan tempat tinggal? Bagaimana menghitung masa depan anak-anak yang harus mewarisi kerusakan yang tidak mereka sebabkan?
Mungkin semuanya bisa diperkirakan. Tetapi perkiraan tidak selalu membuat orang merasa bertanggung jawab.
Sebab, sesuatu yang jauh lebih mudah dihitung daripada dirasakan sering kali lebih mudah pula diabaikan.
Malam itu, ia kembali melihat aplikasi saham di ponselnya. Angka merah masih ada. Kerugiannya belum pulih. Gajinya bulan depan juga belum masuk. Ia masih harus bekerja, membayar tagihan, dan menyusun ulang rencana keuangan.
Ia tidak tiba-tiba membenci uang. Ia tahu uang diperlukan untuk hidup. Ia tetap ingin memiliki tabungan yang cukup, rumah yang layak, dan masa depan yang tidak terlalu mencemaskan. Ia tidak menganggap keinginan itu sebagai kesalahan.
Yang mulai ia ragukan adalah kebiasaannya menilai segala sesuatu berdasarkan jumlah.
Ia selama ini menghitung berapa yang berhasil ia dapatkan, tetapi jarang bertanya berapa banyak ketenangan yang hilang untuk mendapatkannya. Ia menghitung keuntungan, tetapi lupa menghitung risiko yang tidak sanggup ia tanggung. Ia menghitung hari menuju gajian, tetapi jarang bertanya apakah hidupnya hanya akan menjadi jarak antara satu tanggal pembayaran dan tanggal berikutnya.
Dan ketika melihat angka-angka yang lebih besar, ia menyadari bahwa persoalan serupa tidak berhenti pada dirinya.
Sebuah negeri pun bisa sibuk menghitung kekayaan tanpa benar-benar memeriksa siapa yang menikmatinya. Bisa merayakan pertumbuhan tanpa memastikan siapa yang tertinggal. Bisa menghitung suara rakyat tanpa sungguh-sungguh mendengarkan suara mereka setelah pemilihan selesai.
Kita begitu teliti menghitung uang yang keluar dari dompet sendiri, tetapi sering terlalu cepat memaklumi uang yang keluar dari kas bersama.
Kita menginginkan setiap rupiah dalam rekening pribadi dapat dipertanggungjawabkan. Mengapa kita tidak menuntut ketelitian yang sama terhadap setiap rupiah uang negara?
Kita marah ketika kehilangan uang karena kesalahan kecil. Mengapa kita tidak sama marahnya ketika kerugian yang jauh lebih besar dibicarakan seolah-olah hanya angka di dalam laporan?
Mungkin karena angka yang hilang dari rekening kita terasa dekat, sementara angka yang hilang dari kehidupan bersama terasa jauh. Padahal, akibatnya bisa tinggal lebih lama daripada yang kita bayangkan.
Ia mematikan layar ponselnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak ingin memeriksa apakah angka sahamnya berubah. Ia ingin memikirkan sesuatu yang selama ini luput dari perhitungannya.
Berapa banyak kehidupan yang membaik karena kekayaan yang kita kumpulkan?
Berapa banyak orang yang mendapat kesempatan karena kekuasaan yang kita berikan?
Berapa banyak kerusakan yang berhasil kita cegah sebelum semuanya terlambat?
Ia tidak memiliki jawaban pasti. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu terasa lebih penting daripada selisih angka di layar ponselnya.
Besok, ia akan kembali bekerja. Gajinya tetap harus dihitung. Pengeluarannya tetap harus dikendalikan. Hidup tidak bisa dijalani hanya dengan renungan. Angka tetap diperlukan untuk mengambil keputusan, menjaga keuangan, dan merencanakan masa depan.
Namun, angka seharusnya membantu manusia memahami kehidupan, bukan menjadi alasan untuk mengabaikannya.
Sebab, di balik setiap angka kemiskinan ada manusia yang sedang bertahan. Di balik setiap angka kerusakan ada kehidupan yang berubah. Di balik setiap angka suara ada kepercayaan yang diberikan. Dan di balik setiap angka kekayaan negara ada hak masyarakat yang harus dijaga.
Kita mungkin tidak bisa menghitung semuanya dengan sempurna. Tetapi kita bisa memilih untuk tidak berpaling.
Pada akhirnya, umur kita akan menjadi angka. Harta kita akan menjadi angka. Bahkan nama kita, suatu hari nanti, mungkin hanya tersisa dalam catatan dengan dua tanggal yang dipisahkan sebuah tanda hubung.
Ketika hari itu tiba, tak seorang pun akan membawa saldo rekeningnya ke liang kubur. Tak ada grafik saham yang ikut mengukur nilai hidupnya. Yang tersisa adalah apa yang pernah ia lakukan, siapa yang pernah ia tolong, dan kerusakan apa yang ia tinggalkan.
Lalu, jika hidup memang harus dihitung, pertanyaan yang paling penting barangkali bukanlah berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.
Melainkan: berapa banyak manusia yang harus kehilangan sesuatu agar angka kita bisa terus bertambah?
Dan ketika semua angka akhirnya dijumlahkan, siapa yang berani memastikan bahwa hasilnya benar-benar adil?