Jakarta, Bonarinews.com – Sebanyak 150 alumni Program Pengabdian Pejuang Digital 2026 siap diterjunkan ke daerah terdepan terluar dan tertinggal untuk memperkuat pembelajaran berbasis teknologi. Program ini menjadi langkah nyata pemerataan pendidikan di Indonesia.
Para peserta dinyatakan siap setelah mengikuti pembekalan intensif selama tujuh hari yang difasilitasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam pelatihan tersebut, mereka dibekali kemampuan pemanfaatan teknologi pembelajaran serta kesiapan menghadapi tantangan di lapangan.
Staf Ahli Menteri, Didik Suhardi, menegaskan bahwa para alumni harus menjadi motor penggerak perubahan di daerah.
Tugas kita adalah memotivasi memfasilitasi dan memprovokasi kebaikan. Sekarang kita punya alat alat canggih. Jadilah agen perubahan di daerah, ujarnya.
Sementara itu, Dirgayuza Setiawan menilai kekuatan utama para peserta bukan hanya pada kemampuan akademik, tetapi juga pada kisah perjuangan yang mampu menginspirasi siswa di daerah.
Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso, menambahkan bahwa para alumni diharapkan mampu memberikan dampak nyata meski jumlahnya terbatas. Ia menekankan pentingnya ketangguhan dan kemampuan mencari solusi di lapangan.
Program ini juga mendorong pemanfaatan teknologi seperti Interactive Flat Panel untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan kontekstual di sekolah.
Salah satu peserta, Dewi Wulansari yang akan bertugas di Kupang, mengaku mendapatkan perspektif baru terkait pembelajaran digital. Ia optimistis teknologi dapat meningkatkan kualitas pendidikan di daerah 3T.
Hal serupa disampaikan Muhammad Kadri dari Merauke yang menilai kehadiran teknologi di daerah terpencil menjadi langkah penting untuk menghadirkan kesetaraan akses pendidikan.
Melalui program ini, pemerintah berharap para alumni mampu menjadi penggerak perubahan, tidak hanya dalam pemanfaatan teknologi, tetapi juga dalam menumbuhkan semangat belajar, keberanian bermimpi, dan daya saing generasi muda di seluruh pelosok negeri. (Lindung Silaban)