JAKARTA, BONARINEWS – Masalah kesuburan kini menjadi perhatian serius di Indonesia. Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengungkap jutaan pasangan usia subur di Tanah Air mengalami infertilitas atau sulit memiliki keturunan.
Hal itu disampaikan Dante saat meresmikan peluncuran kembali layanan fertilitas Klinik Yasmin Reproductive Cluster di RSCM Kencana, Selasa (26/5/2026).
Menurut Dante, perjalanan pasangan yang menjalani program kehamilan bukan hanya soal pengobatan medis, tetapi juga perjuangan menjaga harapan dan kondisi mental.
“Mereka datang bukan untuk berobat dari sakit fisik, tetapi memperjuangkan sebuah kehidupan yang belum hadir,” ujar Dante.
Data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization tahun 2025 mencatat sekitar 17,5 persen populasi dewasa dunia mengalami infertilitas. Sementara di Indonesia, Kementerian Kesehatan menyebut sekitar 10 hingga 15 persen pasangan usia subur mengalami gangguan kesuburan.
Artinya, ada sekitar 4 sampai 6 juta pasangan di Indonesia yang membutuhkan bantuan medis agar bisa memperoleh keturunan.
Dante mengatakan kondisi ini menjadi tantangan besar karena berkaitan langsung dengan kualitas generasi masa depan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
“Kalau nanti generasi ini pertumbuhannya bagus, maka kita akan punya usia produktif yang bagus di tahun 2045,” katanya.
Di tengah meningkatnya kasus infertilitas, layanan bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) juga mengalami lonjakan peminat. Secara nasional, jumlah pasien program bayi tabung meningkat dari 23 ribu pasien pada 2021 menjadi 36 ribu pasien pada 2024.
Saat ini Indonesia memiliki 59 rumah sakit di 15 provinsi yang telah mengantongi izin layanan IVF, termasuk RSCM Kencana melalui Klinik Yasmin.
Klinik tersebut memiliki berbagai layanan kesehatan reproduksi, mulai dari program bayi tabung, gangguan haid, endometriosis, PCOS, keguguran berulang, ginekologi remaja, menopause hingga preservasi fertilitas.
Sepanjang 2025, Klinik Yasmin mencatat 95 kehamilan dari 221 siklus program yang dijalankan. Layanan itu juga didukung tenaga medis spesialis obstetri, ginekologi dan andrologi.
Selain menghadirkan teknologi modern, layanan fertilitas kini juga dikembangkan lebih humanis melalui pendampingan pasien oleh perawat khusus, sistem satu pasien satu perawat, hingga kolaborasi dengan layanan akupunktur.
Pemerintah berharap pengembangan layanan fertilitas modern dan ramah pasien dapat membantu lebih banyak pasangan Indonesia mendapatkan penanganan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Penulis: Dedy Hu