GRESIK, BONARINEWS.com – Konflik antara pelestarian satwa langka dan kebutuhan hidup warga kembali mencuat di Pulau Bawean. Persoalan ini dibahas dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Desa Suwari, Kecamatan Sangkapura, Selasa malam 8 April 2026.
Sekitar 50 warga dari enam dusun hadir dalam forum yang mempertemukan masyarakat, pemerintah, dan pegiat konservasi untuk mencari jalan tengah atas persoalan interaksi negatif manusia dengan satwa liar.
Kegiatan tersebut diinisiasi Yayasan Alam Biodiversitas Indonesia dengan menghadirkan Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui tim Resort Konservasi Wilayah RKW 09 sebagai narasumber.
Dalam pemaparan, dijelaskan bahwa Rusa Bawean merupakan satwa endemik langka yang hanya hidup di Pulau Bawean dan memiliki status rentan sehingga membutuhkan perlindungan serius.
Namun di sisi lain, warga mengaku menghadapi masalah nyata di lapangan. Mereka menyampaikan keluhan terkait kerusakan lahan pertanian akibat serangan babi hutan serta tanaman sengon yang dirusak Rusa Bawean.
Kondisi tersebut membuat masyarakat berada dalam posisi sulit. Mereka diminta menjaga satwa dilindungi, tetapi juga harus mempertahankan sumber penghidupan keluarga dari sektor pertanian.
Menanggapi hal itu, tim konservasi menyampaikan rencana tindak lanjut berupa pengendalian babi hutan melalui pemasangan kandang jebak yang akan dilakukan bersama lembaga konservasi di Jawa Timur.
Sementara untuk penanganan konflik dengan Rusa Bawean, pemerintah masih melakukan kajian lebih lanjut guna merumuskan kebijakan teknis yang tepat dan berkeadilan.
Warga sementara diimbau menggunakan langkah mitigasi sederhana berbasis pengalaman lokal sambil menunggu solusi jangka panjang.
Forum tersebut menegaskan bahwa konservasi tidak hanya bicara soal menjaga satwa, tetapi juga berkaitan langsung dengan realitas sosial dan ekonomi masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.
Tanpa pendekatan partisipatif dan adil, upaya pelestarian berpotensi menimbulkan penolakan di tingkat akar rumput.
Kasus di Desa Suwari menjadi gambaran penting bahwa masa depan konservasi Bawean harus mampu melindungi satwa langka tanpa mengorbankan kesejahteraan warga.
Penulis: Dedy Hu