BAWEAN, BONARINEWS.com – Momen langka terjadi di kawasan hutan Blok Gunung Besar, Pulau Bawean, ketika sepasang Burung Hantu Kayu Bawean terlihat muncul pada siang hari. Satwa endemik yang biasanya aktif pada malam hari itu mengejutkan tim patroli yang sedang menyusuri kawasan konservasi, 12 April 2026.
Kemunculan satwa langka tersebut disaksikan Tim SMART Patrol RKW 09 Gresik Bawean bersama Masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari saat melakukan patroli rutin pengawasan hutan.
Suasana pagi yang awalnya tenang berubah menjadi penuh takjub ketika dua burung hantu terlihat bertengger di atas kanopi hutan dalam cahaya matahari.
Salah satu anggota tim, Tifan Nur Rizal, menjadi orang pertama yang menyadari keberadaan satwa tersebut. Ia langsung menghentikan langkah dan memastikan apa yang dilihatnya bukan sekadar bayangan dedaunan.
Dalam waktu singkat, ia berhasil mengabadikan foto dan video dua ekor Burung Hantu Kayu Bawean yang dikenal sangat sulit dijumpai di habitat aslinya.
Menurut Tifan, momen tersebut menjadi pengalaman luar biasa setelah bertahun-tahun melakukan patroli kawasan hutan Bawean.
Ia bahkan menduga salah satu burung yang terlihat kemungkinan merupakan individu yang pernah diselamatkan dari jeratan benang layangan pada Juli 2025, lalu direhabilitasi dan dilepasliarkan kembali ke alam.
Meski belum ada kepastian ilmiah, kemungkinan itu memberi harapan bahwa hutan Bawean masih menjadi rumah aman bagi satwa endemik yang dilindungi.
Burung Hantu Kayu Bawean merupakan spesies langka yang hanya hidup di Pulau Bawean. Satwa ini memiliki peran penting sebagai predator alami yang menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
Karena sifatnya nokturnal atau aktif malam hari, kemunculan di siang hari dinilai sangat jarang dan menjadi catatan penting bagi konservasi satwa liar.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan menyebut dokumentasi satwa endemik di habitat aslinya menjadi bukti bahwa upaya konservasi bersama masyarakat berjalan di jalur yang benar.
Ia menegaskan bahwa perlindungan satwa liar tidak bisa dilakukan satu pihak saja, tetapi harus melalui kolaborasi petugas, warga, dan kesadaran bersama menjaga ruang hidup alam.
Peristiwa langka ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kelestarian hutan Bawean bukan hanya soal pepohonan, tetapi tentang rumah bersama bagi manusia dan satwa liar.
Penulis: Dedy Hu