Trenggiling Langka Muncul Lagi di Trowulan, Warga Mojokerto Heboh dan Ahli Soroti Alarm Alam

Bagikan Artikel

MOJOKERTO, BONARINEWS.com – Kemunculan satwa langka kembali terjadi di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Seekor Trenggiling Jawa berhasil diselamatkan setelah ditemukan warga di Dusun Pandansili, Desa Wonorejo, Rabu malam 15 April 2026 sekitar pukul 23.30 WIB.

Satwa dilindungi tersebut pertama kali ditemukan sekelompok pemuda yang sedang berkumpul di sekitar permukiman. Mereka melihat bayangan gelap bergerak perlahan dan mendekat untuk memastikan.

Setelah mengetahui hewan itu adalah trenggiling, warga memilih mengamankan satwa tersebut lalu melaporkannya kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Kabupaten Mojokerto dan petugas terkait.

Respons cepat dilakukan BPBD sebelum satwa kemudian diserahkan kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur untuk penanganan lebih lanjut.

Keesokan harinya, tim konservasi dari Resort Konservasi Wilayah Mojokerto Lamongan datang ke lokasi dan melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi hewan.

Hasil identifikasi menyebutkan satwa tersebut merupakan Trenggiling Jawa atau Manis javanica dalam kondisi hidup.

Spesies ini termasuk kategori Critically Endangered atau Kritis berdasarkan daftar merah IUCN dan masuk Appendix I CITES, yang berarti dilindungi secara ketat dari perdagangan internasional.

Selanjutnya, trenggiling dibawa ke Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur untuk menjalani observasi kesehatan, rehabilitasi, dan penilaian kelayakan pelepasliaran ke habitat alaminya.

Namun di balik penyelamatan ini, muncul pertanyaan besar dari kalangan konservasi. Mengapa kemunculan trenggiling di Trowulan terus berulang dalam beberapa tahun terakhir.

Data lapangan menunjukkan temuan serupa terjadi lebih dari sekali dalam tiga tahun terakhir, terutama di sekitar kawasan permukiman dan lahan terbuka.

Kondisi ini diduga menjadi sinyal adanya perubahan habitat atau tekanan ekologis yang mendorong satwa keluar dari ruang hidup aslinya.

Balai Besar KSDA Jawa Timur berencana melakukan identifikasi dan inventarisasi habitat potensial trenggiling di wilayah Trowulan dan sekitarnya.

Langkah ini dinilai penting untuk mengetahui apakah kawasan tersebut masih memiliki daya dukung ekologis, sekaligus mencegah konflik manusia dan satwa liar di masa mendatang.

Kesadaran warga yang melapor tanpa melukai satwa mendapat apresiasi karena menunjukkan masyarakat bisa menjadi garda terdepan konservasi.

Kasus di Trowulan ini menjadi pengingat bahwa penyelamatan satu ekor trenggiling bukan akhir cerita, melainkan alarm bahwa alam sedang berubah dan perlu dijaga bersama.

Penulis: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *