Koperasi, Raksasa Yang Belum Bangun

Bagikan Artikel

Menjelang Hari Koperasi Nasional

Oleh: Agus Lithanta
Ketua Dekopinda Kota Probolinggo
Ketua Komunitas Menulis Bromo Pro Litera

“Koperasi adalah soko guru perekonomian bangsa Indonesia.”

Kalimat itu begitu akrab di telinga kita. Ia hadir dalam pidato-pidato resmi, menjadi bagian dari pelajaran kewarganegaraan, dan menemukan pijakannya dalam Pasal 33 UUD 1945. Namun, ketika kita melihat wajah ekonomi Indonesia hari ini, kalimat tersebut seperti sedang diuji oleh kenyataan.

Di tengah derasnya arus kapitalisme digital, ekspansi korporasi besar, serta ketimpangan ekonomi yang masih menjadi persoalan, koperasi yang dahulu dibayangkan sebagai tiang utama ekonomi rakyat justru tampak kehilangan gaungnya.

Ia bukan hilang. Ia masih ada. Bahkan jumlahnya besar. Namun, dalam banyak hal, koperasi seperti raksasa yang sedang tidur: memiliki kekuatan besar, tetapi belum sepenuhnya bergerak.

Menjelang Hari Koperasi Nasional, pertanyaan yang patut diajukan bukan lagi apakah koperasi masih relevan, melainkan apakah kita memiliki keberanian untuk membangunkannya.

Sebab koperasi bukan sekadar organisasi ekonomi. Ia adalah gagasan tentang bagaimana manusia berhubungan dengan ekonomi. Ia menawarkan jalan bahwa keuntungan tidak harus selalu berujung pada penumpukan modal segelintir orang, tetapi dapat kembali menjadi kesejahteraan bersama.

Pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan koperasi desa/kelurahan Merah Putih menunjukkan bahwa koperasi kembali ditempatkan sebagai instrumen strategis dalam memperkuat ekonomi rakyat, terutama dari desa. Kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa koperasi masih dipandang sebagai kekuatan penting untuk mendorong pemerataan dan kemandirian ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.

Namun, kebijakan saja tidak cukup. Koperasi harus membuktikan dirinya sebagai kekuatan ekonomi yang hidup, bukan sekadar simbol sejarah.

Mengapa Koperasi Penting?

Di sinilah koperasi memiliki posisi yang berbeda dengan logika kapitalisme yang selama ini mendominasi.

Kapitalisme modern bekerja dengan dorongan akumulasi modal. Mereka yang memiliki modal terbesar biasanya memiliki pengaruh terbesar. Keuntungan menjadi tujuan utama, sementara hubungan antara pekerja dan pemilik modal sering kali berjalan dalam posisi yang tidak seimbang.

Koperasi menawarkan prinsip yang berbeda.

Dalam koperasi, anggota bukan sekadar konsumen atau pekerja, tetapi pemilik. Keuntungan tidak hanya berhenti pada pemegang modal, melainkan dibagikan melalui mekanisme Sisa Hasil Usaha berdasarkan partisipasi anggota.

Koperasi mengenalkan demokrasi dalam ekonomi: satu anggota, satu suara. Besarnya kepemilikan modal tidak menentukan besarnya hak seseorang dalam mengambil keputusan.

Prinsip inilah yang membuat koperasi sesungguhnya memiliki kekuatan besar. Ia memindahkan pusat kekuasaan ekonomi dari segelintir pemilik modal kepada komunitas yang menjalankan usaha tersebut.

Tetapi mengapa kekuatan sebesar itu justru tampak melemah?

Penyakit Lama yang Membuat Koperasi Tertidur

Ada beberapa persoalan yang membuat koperasi sulit berkembang.

Pertama, koperasi terlalu lama dipersepsikan sebagai program bantuan, bukan entitas bisnis.

Pada masa lalu, tidak sedikit koperasi lahir karena dorongan administratif atau kebijakan dari atas, bukan karena kebutuhan ekonomi masyarakat. Akibatnya, sebagian koperasi tumbuh dengan ketergantungan terhadap bantuan, bukan dengan kekuatan kewirausahaan.

Ketika dukungan berhenti, banyak yang kehilangan arah.

Padahal koperasi tidak boleh hidup karena belas kasihan. Ia harus berdiri karena kemampuan menciptakan nilai ekonomi.

Kedua, masalah tata kelola.

Koperasi dibangun atas dasar kepercayaan. Ketika pengelolaan tidak transparan, laporan keuangan tidak tertib, atau kepentingan kelompok tertentu lebih dominan daripada kepentingan anggota, maka kepercayaan publik akan runtuh.

Koperasi yang seharusnya menjadi simbol ekonomi bersama justru bisa kehilangan makna jika pengurus dan anggota berjalan dalam jarak yang terlalu jauh.

Ketiga, kegagalan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Dunia ekonomi hari ini bergerak dengan kecepatan teknologi. Konsumen berbelanja melalui aplikasi. Transaksi berlangsung dalam hitungan detik. Data menjadi aset baru.

Sementara itu, masih ada koperasi yang tertahan pada pola lama: rapat yang panjang, administrasi manual, dan layanan yang tidak mengikuti kebutuhan generasi baru.

Bagi anak muda, koperasi sering kali dianggap sebagai institusi masa lalu, bukan masa depan.

Padahal, persoalannya bukan pada konsep koperasi. Masalahnya adalah bagaimana koperasi dikemas dan dijalankan.

Saatnya Menuju Koperasi 4.0

Koperasi tidak cukup hanya mengandalkan romantisme gotong royong masa lalu. Nilai itu penting, tetapi harus bertemu dengan profesionalisme.

Koperasi masa depan harus menjadi koperasi digital.

Teknologi dapat digunakan untuk menghadirkan transparansi. Anggota dapat mengetahui kondisi keuangan koperasi secara langsung. Sistem digital dapat mengurangi ruang penyimpangan dan meningkatkan kepercayaan.

Koperasi juga harus berani membangun platform sendiri. Jangan selamanya menjadi pengguna teknologi milik pihak lain.

Bayangkan koperasi memiliki ekosistem digital yang menghubungkan layanan keuangan, perdagangan kebutuhan sehari-hari, hingga pemasaran produk anggota.

Di sisi lain, pengelolaan koperasi harus berubah. Anggota tetap menjadi pemilik, tetapi manajemen harus dikelola secara profesional.

Sudah saatnya koperasi berhenti memilih pengurus hanya berdasarkan kedekatan sosial atau popularitas. Dunia bisnis membutuhkan kompetensi.

Koperasi juga perlu memperbesar skala.

Ribuan koperasi kecil yang berjalan sendiri-sendiri akan sulit menghadapi korporasi besar. Konsolidasi dan federasi menjadi penting agar koperasi memiliki kekuatan tawar dalam rantai ekonomi.

Koperasi petani, koperasi nelayan, koperasi produsen, dan koperasi konsumen harus bergerak menjadi kekuatan ekonomi besar.

Dunia Sudah Membuktikan

Koperasi bukan utopia.

Di Spanyol, Mondragon Corporation membuktikan bahwa model koperasi dapat bersaing di industri modern.

Di India, Amul berhasil mengangkat jutaan peternak kecil melalui kekuatan koperasi susu.

Di berbagai negara, model koperasi digital mulai berkembang sebagai kritik terhadap ekonomi platform yang sering membuat pekerja kehilangan kendali.

Jika negara lain mampu membuktikan koperasi sebagai kekuatan ekonomi, Indonesia seharusnya memiliki peluang yang lebih besar.

Sebab koperasi bukan konsep asing bagi bangsa ini. Ia tumbuh dari akar budaya kita: musyawarah, gotong royong, dan solidaritas.

Membangunkan Raksasa Itu

Krisis ekonomi global saat ini memperlihatkan kelemahan model pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan tanpa pemerataan.

Ketimpangan, eksploitasi tenaga kerja, dan kerusakan lingkungan menjadi tanda bahwa ekonomi membutuhkan arah baru.

Koperasi menawarkan sebuah gagasan penting: ekonomi yang tetap produktif, tetapi manusiawi.

Namun gagasan tidak akan berarti jika hanya menjadi slogan.

Koperasi harus berhenti menjadi kenangan masa lalu. Ia harus kembali menjadi kekuatan masa depan.

Tidak cukup mengeluhkan persaingan. Tidak cukup menunggu bantuan. Koperasi harus berani masuk ke arena, berinovasi, memanfaatkan teknologi, dan membangun tata kelola yang bersih.

Raksasa itu sebenarnya tidak pernah mati.

Ia hanya terlalu lama tertidur.

Dan menjelang Hari Koperasi Nasional, tugas terbesar kita bukan sekadar merayakan sejarah koperasi, melainkan membangunkan kekuatan besar yang selama ini tersimpan di dalamnya.

Sebab ekonomi yang kuat bukan hanya tentang siapa yang paling besar modalnya, tetapi siapa yang mampu memastikan kesejahteraan tumbuh bersama.

Koperasi bukan masa lalu. Koperasi adalah kemungkinan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *