Oleh: Damayanti Sinaga
“Kalau dulu, orang tidak pernah bertanya berapa yang mereka dapat. Yang ada di pikiran mereka hanya satu, bagaimana membuat Pesta Danau Toba menjadi meriah.”
Kalimat sederhana yang diucapkan Togi Samosir itu sesungguhnya menyimpan sebuah pelajaran besar tentang cara sebuah komunitas membangun kebanggaannya sendiri. Bagi mereka yang pernah mengalami masa keemasan Pesta Danau Toba, festival itu bukan sekadar agenda hiburan tahunan, melainkan peristiwa kebudayaan yang menyatukan seluruh energi masyarakat Parapat.
Hari ini, ketika pariwisata kerap diukur melalui angka kunjungan, besaran investasi, atau nilai transaksi ekonomi, ingatan tentang Pesta Danau Toba pada dekade 1980-an justru mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih mendasar: rasa memiliki.
Menurut para pelaku dan saksi sejarah, Pesta Danau Toba mulai digelar sekitar tahun 1985 atas prakarsa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Namun, keberhasilan penyelenggaraannya tidak semata lahir dari kebijakan birokrasi. Di balik kemegahannya, terdapat kerja kolektif masyarakat yang bergerak dengan kesadaran bahwa pesta itu adalah milik bersama.
Nama-nama seperti GM Panggabean, pengusaha hotel dan restoran di Parapat, bersama tokoh masyarakat lainnya, menjadi penggerak yang menjembatani pemerintah dengan warga. Mereka tidak hanya mengorganisasi acara, tetapi juga menumbuhkan semangat partisipasi yang tulus.
Pada masa itu, hampir tidak ada yang mempertanyakan honorarium atau keuntungan pribadi. Orang tua, pemuda, seniman, pelaku usaha, hingga tokoh adat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing. Yang ingin mereka tunjukkan kepada tamu dari berbagai daerah hanyalah satu hal: Danau Toba memiliki kebudayaan yang agung dan masyarakat yang terbuka.
Pusat kegiatan mula-mula berada di kawasan Tiga Raja. Di tempat itu, pembukaan pesta pernah dihadiri Presiden Republik Indonesia yang menanam pohon beringin sebagai simbol dimulainya perhelatan. Dari sana, kemeriahan berlanjut ke Open Stage dan menjalar ke hampir seluruh penjuru Parapat.
Benteng Belanda, Saritel, kawasan pelabuhan, hingga jalan-jalan utama berubah menjadi ruang publik yang hidup. Selama sepekan penuh setiap bulan Juni, Parapat menjelma menjadi kota festival yang sesungguhnya.
Lomba renang, balap solu, lari goni, permainan rakyat, parade budaya, pertunjukan tari, hiburan malam, hingga penampilan artis nasional berlangsung hampir tanpa jeda. Beberapa kegiatan bahkan digelar bersamaan, memberikan pengalaman yang kaya bagi para wisatawan.
Yang menarik, konsep yang kini populer dengan istilah sport tourism ternyata telah dipraktikkan jauh sebelumnya. Atraksi terjun payung, gantole, demonstrasi pesawat jet, serta berbagai kompetisi olahraga menjadi bagian integral dari Pesta Danau Toba. Dengan demikian, festival ini tidak hanya merayakan budaya, tetapi juga menghadirkan inovasi dalam pengembangan pariwisata.
Tentu, penyelenggaraan acara sebesar itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, tanggung jawab tersebut tidak dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Dunia usaha ikut mengambil bagian.
Perusahaan-perusahaan nasional seperti Coca-Cola, Djarum, Sampoerna, Surya, dan Indomie menjadi sponsor yang mendukung berbagai kebutuhan penyelenggaraan. Akan tetapi, dukungan tersebut lebih dari sekadar bantuan finansial. Kehadiran mereka ikut memperindah wajah Parapat melalui ribuan umbul-umbul yang membentang dari Girsang, Ajibata, hingga pusat kota.
Togi Samosir, yang selama bertahun-tahun terlibat sebagai penanggung jawab lapangan, mengenang bagaimana setiap bambu, tiang, dan umbul-umbul dihitung dengan cermat. Tidak boleh ada yang hilang. Menjaga kepercayaan sponsor dipandang sama pentingnya dengan memastikan acara berlangsung sukses.
Di situlah sesungguhnya letak kekuatan Pesta Danau Toba. Bukan pada besarnya anggaran, bukan pula pada banyaknya sponsor, melainkan pada etos kolektif yang hidup di tengah masyarakat. Semua orang merasa memiliki perayaan tersebut dan bekerja demi nama baik kampung halaman mereka.
Kini, ketika kemeriahan itu tinggal dalam ingatan, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: dapatkah semangat tersebut dihidupkan kembali?
Membangun kembali kejayaan Danau Toba tidak cukup hanya dengan menghadirkan panggung yang lebih megah atau agenda yang lebih besar. Yang lebih mendasar ialah membangkitkan kembali rasa kepemilikan masyarakat terhadap ruang budayanya sendiri. Pariwisata yang berkelanjutan tidak lahir dari proyek sesaat, melainkan dari partisipasi warga yang merasa menjadi bagian dari cerita besar daerahnya.
Sejarah Parapat telah membuktikan, ketika pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha bergerak dalam irama yang sama, sebuah kota kecil di tepian Danau Toba mampu menjadi pusat perhatian nasional. Danau Toba bukan hanya bentang alam yang indah, melainkan juga ruang kebudayaan yang pernah menyatukan banyak orang dalam semangat gotong royong.
Mungkin, yang paling perlu dikenang dari Pesta Danau Toba bukanlah gemerlap panggungnya, melainkan nilai yang menopangnya: kebersamaan yang tidak diukur dengan keuntungan, melainkan dengan kebanggaan untuk memberi yang terbaik bagi tanah kelahiran sendiri.
Penulis adalah seorang jurnalis yang bertahun-tahun meliput di kawasan Danau Toba.