IOM dan UN Dorong Jurnalis Kedepankan Empati dalam Pemberitaan Isu Migrasi

Bagikan Artikel

MEDAN, BONARINEWS – UN Indonesia melalui International Organization for Migration (IOM) mendorong jurnalis untuk mengedepankan perspektif kemanusiaan, empati, dan etika dalam meliput isu migrasi.

Hal tersebut disampaikan Siska Widyawati, UNIC, IOM Head of Field Office in Medan sekaligus UNHCR Representative in Medan, saat membuka kegiatan Journalist Training and Fellowship in Medan yang berlangsung di Santika Hotel Medan, Rabu (10/6/2026).

Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama International Organization for Migration (IOM), UN Indonesia, dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan.

Siska mengatakan, pelatihan tersebut menjadi ruang bersama bagi jurnalis untuk memperkuat pemahaman dalam memberitakan isu migrasi secara lebih mendalam. Menurutnya, migrasi tidak hanya berkaitan dengan perpindahan seseorang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga menyangkut cerita dan pengalaman manusia di baliknya.

“Ketika kita berbicara tentang migrasi, sebenarnya kita tidak hanya berbicara tentang perpindahan orang dari satu tempat ke tempat lain. Kita berbicara tentang ibu yang meninggalkan anaknya, keluarga yang terpisah, anak-anak yang tumbuh jauh dari rumah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap individu yang muncul dalam pemberitaan migrasi bukan sekadar angka atau data, tetapi memiliki harapan, ketakutan, kehilangan, dan perjuangan dalam kehidupannya.

Menurut Siska, jurnalis memiliki peran penting dalam menghadirkan pemberitaan yang mampu membuka pemahaman masyarakat tanpa menghilangkan nilai kemanusiaan.

“Bagaimana kita bisa memberikan ruang terhadap kehidupan sehari-hari. Sebuah berita bisa membuka ruang pemahaman, tetapi juga bisa memperkuat stigma jika tidak dilakukan dengan hati-hati,” katanya.

Ia mengingatkan agar jurnalis selalu mempertimbangkan dampak pemberitaan, termasuk keamanan narasumber, perlindungan identitas, penggunaan foto, hingga pemilihan judul.

“Empati bukan berarti membuat kita kehilangan sikap kritis. Justru empati membuat pertanyaan kita lebih hati-hati, lebih adil, dan lebih bertanggung jawab,” ujar Siska.

Ia mencontohkan, jurnalis perlu mempertimbangkan apakah identitas narasumber aman untuk dipublikasikan, apakah foto yang digunakan tetap menjaga martabat seseorang, serta apakah judul berita dapat membantu masyarakat memahami persoalan atau justru menimbulkan kebencian.

Siska menegaskan, cerita tentang migrasi tidak seharusnya selalu menggambarkan seseorang sebagai korban. Banyak dari mereka yang juga bekerja, menjadi orang tua, belajar, berkontribusi terhadap ekonomi, dan menjadi bagian dari masyarakat.

“Jurnalisme bukan hanya tentang siapa yang paling cepat memberitakan, tetapi siapa yang paling adil dan siapa yang paling bertanggung jawab dalam memberitakan,” pungkasnya.

Melalui pelatihan tersebut, ia berharap jurnalis dapat memperkaya sudut pandang dalam menghasilkan karya jurnalistik yang akurat, berimbang, dan tetap mengedepankan kemanusiaan.

Penulis: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *