MEDAN, BONARINEWS – International Organization for Migration (IOM) mendorong jurnalis untuk menghadirkan pemberitaan isu migrasi secara lebih berimbang dengan melihat sisi kemanusiaan, kontribusi, serta kompleksitas persoalan di balik perpindahan manusia.
Hal itu disampaikan Miko dari IOM Regional Office for Asia and the Pacific dalam sesi materi kegiatan Journalist Training and Fellowship in Medan yang berlangsung di Santika Hotel Medan, Rabu (10/6/2026). Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama International Organization for Migration (IOM), UN Indonesia, dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan.
Miko mengatakan, masih banyak pemberitaan mengenai migrasi yang tidak tepat dan cenderung menempatkan kelompok migran, terutama pengungsi, sebagai pihak yang pertama kali disalahkan ketika terjadi persoalan.
“Banyak berita yang tidak benar mengenai apa yang biasanya terjadi saat migrasi. Pengungsi sering kali menjadi pihak pertama yang dipersalahkan. Ini terjadi di seluruh dunia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, migrasi bukan hanya sekadar perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain, tetapi merupakan fenomena sosial yang memiliki berbagai latar belakang, mulai dari mencari pekerjaan, pendidikan, dampak perubahan iklim, hingga konflik.
Menurutnya, apabila migrasi dikelola secara tertib dan aman, keberadaan migran dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dan perekonomian.
“Pengungsi atau migran tidak selalu menjadi beban. Mereka juga dapat berkontribusi terhadap ekonomi, membawa keterampilan, dan menjadi bagian dari masyarakat,” katanya.
Miko menjelaskan, IOM merupakan organisasi internasional yang bergerak dalam isu migrasi dan saat ini memiliki 174 negara anggota. IOM bekerja bersama pemerintah serta berbagai mitra di dunia dalam menangani tantangan migrasi.
“Kami berusaha mengatasi tantangan dan persoalan soal migrasi, tetapi kami juga mendorong agar migrasi dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Dalam paparannya, ia menyebut terdapat berbagai alasan seseorang melakukan migrasi. Selain faktor ekonomi, perubahan iklim yang semakin parah juga menjadi salah satu pendorong meningkatnya perpindahan penduduk.
Ia menjelaskan, migrasi mencakup perpindahan seseorang melewati batas negara maupun di dalam negara, baik secara sukarela maupun terpaksa.
“Orang berpindah untuk pekerjaan, pendidikan, atau karena dampak iklim. Namun ada juga yang berpindah karena konflik dan situasi yang tidak memungkinkan mereka tetap tinggal,” katanya.
Miko juga mengingatkan jurnalis agar berhati-hati menggunakan istilah dalam pemberitaan, khususnya terkait migran dalam situasi tidak berdokumen.
Menurutnya, istilah “migran ilegal” sebaiknya dihindari karena dapat memperkuat stigma dan diskriminasi. Ia menyebut istilah yang lebih tepat adalah “migran dalam situasi irregular” karena status tersebut berkaitan dengan aturan hukum suatu negara, bukan menjadikan seseorang sebagai ilegal.
“Tidak ada manusia yang bisa menjadi ilegal. Mereka bisa berada dalam situasi irregular karena aturan sebuah negara. Penggunaan istilah sangat penting karena dapat memengaruhi cara masyarakat melihat migran,” jelasnya.
Selain itu, Miko juga menjelaskan perbedaan antara penyelundupan manusia dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Menurutnya, kedua hal tersebut sering disamakan, padahal memiliki unsur yang berbeda.
Penyelundupan manusia terjadi ketika seseorang secara sadar meminta bantuan untuk berpindah negara, sedangkan TPPO melibatkan unsur eksploitasi, ancaman, pemaksaan, atau penipuan terhadap korban.
Ia mencontohkan, seseorang yang membayar untuk berpindah negara atas keputusan sendiri berbeda dengan korban yang dipaksa bekerja tanpa upah atau mengalami eksploitasi.
Miko berharap jurnalis dapat membantu mengubah narasi pemberitaan migrasi yang selama ini lebih banyak menyoroti konflik dan masalah.
“Sering kali migrasi diberitakan ketika ada kabar buruk, ketika ada masalah, atau ketika migran terlibat tindak pidana. Padahal ada banyak cerita positif tentang bagaimana migrasi bisa menjadi bagian dari pembangunan,” katanya.
Ia menambahkan, migrasi juga dapat membawa manfaat melalui transfer keterampilan, sumber daya keuangan, penguatan tenaga kerja, serta keberagaman budaya.
Melalui pelatihan tersebut, IOM berharap para jurnalis mampu menghasilkan karya jurnalistik yang lebih adil, akurat, dan mampu menggambarkan persoalan migrasi secara utuh.
Penulis: Dedy Hu