Waspada! BRIN Ungkap Potensi Wabah Pes Kembali Mengintai Indonesia

Bagikan Artikel

SALATIGA, BONARINEWS.com — Ancaman penyakit mematikan kembali menjadi perhatian serius. BRIN mengingatkan bahwa penyakit Pes berpotensi muncul kembali di Indonesia meski sudah lama tidak terdeteksi.

Peneliti BRIN, Ristiyanto, mengungkapkan adanya fenomena yang dikenal sebagai silent period, yakni kondisi ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, namun sebenarnya masih memiliki potensi untuk kembali mewabah.

“Penyakit ini seolah menghilang, padahal masih ada dan bisa muncul kembali sewaktu-waktu,” ujarnya.

Penyakit Pes sendiri disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis dan ditularkan melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus. Meski kasus pada manusia tidak ditemukan dalam lebih dari satu dekade, bakteri, vektor, dan reservoirnya masih terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia.

Peneliti lain dari BRIN, Muhammad Choirul Hidajat, menambahkan bahwa perubahan lingkungan menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit ini.

Deforestasi, alih fungsi lahan, serta pertumbuhan penduduk menyebabkan habitat tikus semakin dekat dengan permukiman manusia. Kondisi ini memperbesar peluang penularan melalui pinjal yang membawa bakteri berbahaya tersebut.

Tak hanya itu, perubahan iklim juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.

“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor, dan meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang harus diwaspadai,” jelasnya.

Beberapa wilayah di Pulau Jawa seperti Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung bahkan masih dikategorikan sebagai daerah fokus, meskipun belum ada laporan kasus terbaru pada manusia.

BRIN menegaskan bahwa ketiadaan kasus bukan berarti ancaman telah hilang. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipatif melalui penguatan sistem surveilans terpadu, peningkatan sanitasi lingkungan, serta pemantauan wilayah bekas endemis.

Penelitian ini merupakan kolaborasi antara BRIN, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta mitra internasional dari China dan Prancis.

“Pes di Indonesia saat ini mungkin sedang ‘tertidur’. Namun tanpa kewaspadaan, penyakit ini bisa bangkit kembali,” pungkasnya.

Penulis: Lindung Silaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *