Setelah Banjir Menenggelamkan Ladang, Abdul Rozzaq Menanam Kembali Harapan dari Cabai

Bagikan Artikel

ACEH TAMIANG, BONARINEWS — Lumpur setebal hampir satu jengkal pernah menutup tanah yang selama ini menjadi sandaran hidup Abdul Rozzaq Mubaroq. Di lahan seluas 1,8 hektare di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, yang tersisa setelah banjir besar November 2025 hanyalah batang tanaman yang rebah, sampah yang berserakan, dan tanah yang kehilangan wajahnya.

Sore itu, Rozzaq berdiri di antara tanaman cabai yang mulai menghijau. Tangannya sesekali menyentuh daun-daun muda yang tumbuh dari tanah yang pernah porak-poranda. Namun ketika ia mengingat hari-hari setelah banjir, suaranya berubah berat.

Matanya berkaca-kaca.

“Awalnya saya bingung mau mulai dari mana,” katanya.

Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang bukan sekadar merendam rumah dan jalan. Bagi Rozzaq, air bah itu menghantam sumber penghidupan keluarganya. Tanaman pertanian hilang, alat kerja hanyut, dan lahan yang menjadi tumpuan ekonomi berubah menjadi hamparan lumpur.

Malam-malam setelah banjir menjadi waktu yang berat baginya. Ia menatap wajah anak dan istrinya, sambil memikirkan satu pertanyaan sederhana: bagaimana keluarga ini bisa tetap bertahan?

“Ada rasa sedih, bingung, dan gelisah. Semua bercampur,” ujarnya.

Tapi Rozzaq tidak punya banyak pilihan. Kesedihan tidak bisa mengembalikan ladang. Ia pun kembali datang ke lahan pertaniannya, meski saat itu tanah masih basah dan lumpur masih menempel di mana-mana.

Setiap hari ia membersihkan sisa banjir sedikit demi sedikit.

Bukan hanya tenaga yang ia keluarkan, tapi juga kemauan untuk belajar ulang. Ia membaca berbagai referensi pertanian, mencari informasi dari internet, hingga menonton video tentang cara memulihkan lahan setelah bencana.

“Saya harus tahu bagaimana tanah ini bisa ditanami lagi,” katanya.

Menghidupkan kembali tanah bekas banjir bukan pekerjaan singkat. Lumpur yang mengendap mencapai sekitar 30 sentimeter. Ia harus menunggu kondisi tanah membaik sebelum kembali menanam.

Setelah lumpur mengering, Rozzaq menyewa traktor untuk meratakan lahan. Tanah itu kemudian dibiarkan selama beberapa bulan agar kembali siap menerima tanaman.

Di tengah proses itu, bantuan datang melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Pertamina EP Rantau Field.

Rozzaq bersama Kelompok Tani Tunas Muda mendapat dukungan berupa pemulihan lahan, sarana produksi pertanian, serta ribuan bibit hortikultura.

Ada 6.000 bibit cabai dan 500 bibit tomat yang diberikan. Total bantuan untuk kelompok tani mencapai sekitar 10 ribu bibit tanaman.

Bagi Rozzaq, bantuan itu bukan sekadar bibit.

Itu adalah tanda bahwa ladangnya masih punya masa depan.

Kini sebagian lahan yang dulu tertutup lumpur kembali berwarna hijau. Dari 1,8 hektare lahan terdampak banjir, sekitar 21 rante mulai ditanami kembali.

Cabai rawit tumbuh di 13 rante, cabai merah di lima rante, sementara tiga rante lainnya ditanami sawi.

Bahkan, sawi yang ditanamnya sudah mulai dipanen.

“Alhamdulillah, saya bisa kembali memenuhi kebutuhan hidup dari lahan pertanian,” ujarnya.

Rozzaq tidak menganggap dirinya sebagai petani yang kembali memulai dari nol. Baginya, ia hanya melanjutkan sesuatu yang sempat terhenti oleh bencana.

Sebab tanah, menurut dia, punya cara sendiri untuk pulih.

Begitu juga manusia.

Manager Community Involvement Development Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan sektor pertanian menjadi salah satu bagian penting yang harus dipulihkan setelah bencana.

“Banyak masyarakat menggantungkan hidup dari lahan pertanian. Karena itu pemulihan petani menjadi bagian penting agar mereka bisa kembali memiliki sumber pendapatan,” ujarnya.

Melalui program pemberdayaan masyarakat, Pertamina EP Rantau Field terus mendorong pemulihan ekonomi warga di sekitar wilayah operasi, sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.

Kini, di lahan yang pernah ditenggelamkan banjir, Rozzaq kembali menemukan rutinitasnya.

Menanam.

Merawat.

Menunggu panen.

Dan percaya bahwa dari tanah yang pernah kehilangan harapan, kehidupan bisa tumbuh kembali.

Penulis: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *