Kreatif dan Cuan! Warga Malaka Jaya Sulap Sampah Jadi Kerajinan Bernilai Jual Tinggi, Jadi Sorotan Jakarta

Bagikan Artikel

Jakarta, BONARINEWS – Di tengah persoalan sampah yang terus menjadi tantangan di perkotaan, warga RW 12 Kelurahan Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur justru menghadirkan solusi kreatif yang bernilai ekonomi.

Mereka berhasil menyulap berbagai limbah rumah tangga menjadi produk kerajinan tangan bernilai jual tinggi, mulai dari tas, dompet, tempat tisu, hingga aksesori unik berbahan dasar sampah plastik seperti bungkus kopi, kemasan minuman, dan bungkus sabun.

Tak hanya itu, inovasi warga juga berkembang hingga ke produk fesyen berupa busana ecoprint dengan motif alami dari dedaunan yang dibuat menggunakan teknik kukus ramah lingkungan.

Kegiatan kreatif ini dipusatkan di dua lokasi utama, yakni rumah warga yang menjadi pusat Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) serta Sanggar Rumah Terampil Hasanah Center yang menjadi ruang belajar keterampilan masyarakat.

Ketua UP2K RW 12 Malaka Jaya, Siti Munawaroh mengatakan, gerakan ini lahir dari kepedulian warga terhadap meningkatnya volume sampah rumah tangga yang berakhir di TPST Bantar Gebang.

Menurutnya, kesadaran lingkungan mulai tumbuh kuat sejak wilayah mereka meraih sertifikasi Program Kampung Iklim tingkat Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2021.

Dari situ, warga mulai membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah sebelum kemudian diolah menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

Sekitar 50 warga yang tergabung dalam kegiatan ini juga mendapatkan pelatihan berbagai keterampilan lain seperti merajut, makrame, membuat manik-manik akrilik, hingga teknik ecoprint.

Sanggar Rumah Terampil Hasanah Center sendiri telah berdiri sejak 2017 dan menjadi wadah edukasi khususnya bagi kaum ibu dalam meningkatkan keterampilan sekaligus kesadaran lingkungan.

Menariknya, para instruktur yang terlibat mengajar secara sukarela tanpa memungut biaya, menjadikan kegiatan ini benar-benar berbasis gotong royong dan kepedulian sosial.

Selain kerajinan, warga juga mengelola lahan kosong seluas sekitar 700 meter persegi untuk produksi kompos, pupuk organik cair, serta kegiatan urban farming yang mendukung ketahanan pangan lingkungan.

Produk-produk hasil olahan warga kemudian dipasarkan melalui berbagai bazar, mulai dari tingkat kelurahan hingga provinsi, termasuk dukungan program CSR di sejumlah kegiatan kota.

Camat Duren Sawit, Kelik Sutanto memberikan apresiasi atas inovasi warga yang dinilai sejalan dengan kebijakan Pemprov DKI Jakarta dalam mendorong pemilahan sampah dari sumbernya.

Ia menilai tantangan saat ini adalah memperluas pasar agar produk-produk UP2K lebih dikenal dan diminati masyarakat, termasuk generasi muda.

Menurutnya, inovasi desain dan sentuhan modern menjadi kunci agar produk daur ulang ini semakin kompetitif di pasar kreatif perkotaan.

Inisiatif warga Malaka Jaya ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak ekonomi baru di tingkat akar rumput Jakarta.

Penulis: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *