Jakarta, BONARINEWS – Siapa sangka limbah abu boiler dari industri kelapa sawit yang selama ini dianggap tidak bernilai, justru menyimpan potensi besar untuk teknologi masa depan. Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN kini mengubah limbah tersebut menjadi nanosilika, material berukuran sangat kecil yang bisa menjadi kunci pengembangan perangkat penyimpanan energi generasi baru.
Setiap tahun, jutaan ton limbah abu sawit dihasilkan industri kelapa sawit di Indonesia. Selama ini, limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Namun di balik itu, kandungan silika (SiO₂) yang mencapai 50 hingga 65 persen membuatnya sangat potensial untuk diolah menjadi material bernilai tinggi.
Peneliti Pusat Riset Elektronika BRIN, Rike Yudianti, menjelaskan bahwa nanosilika memiliki ukuran sekitar 8 hingga 10 nanometer dengan karakteristik unggul seperti luas permukaan besar, struktur pori yang bisa diatur, serta kemampuan modifikasi kimia yang tinggi. Hal ini membuatnya sangat cocok untuk berbagai aplikasi, mulai dari kosmetik, biomedis, konstruksi, hingga teknologi energi.
Dalam riset terbarunya, BRIN memanfaatkan nanosilika untuk pengembangan superkapasitor fleksibel, yaitu sistem penyimpanan energi yang dapat ditekuk dan mengikuti bentuk perangkat elektronik wearable masa depan.
Menurut Rike, tantangan terbesar dalam pengembangan superkapasitor fleksibel adalah penggunaan elektrolit cair yang rentan bocor, menguap, dan tidak stabil saat perangkat ditekuk atau digunakan dalam jangka panjang. Karena itu, riset BRIN kini berfokus pada pengembangan elektrolit padat yang lebih stabil dan aman.
Di sinilah nanosilika memainkan peran penting. Material ini membantu meningkatkan kontak antara elektrolit dan elektroda, mempercepat transfer ion, serta meningkatkan disosiasi molekul di dalam sistem. Kandungan gugus silanol (–Si–OH) di dalamnya juga menjadi faktor penting dalam mendukung kinerja elektrokimia.
Meski menjanjikan, tantangan masih ada pada antarmuka antara elektrolit dan elektroda yang harus tetap stabil saat perangkat digunakan dalam kondisi fleksibel. Namun BRIN menyebutkan bahwa stabilitas elektrokimia sistem ini sudah mulai berhasil dijaga dalam pengujian awal.
Riset ini juga dilakukan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi di Indonesia dan Jepang, sekaligus mengembangkan strategi perakitan perangkat agar tetap optimal meski digunakan dalam kondisi ditekuk dan bergerak.
Inovasi ini membuka peluang besar bagi masa depan teknologi energi, terutama untuk perangkat elektronik fleksibel dan wearable yang semakin berkembang. Dari limbah yang selama ini terbuang, lahir harapan baru bagi energi masa depan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Penulis: Dedy Hu