MEDAN, BONARINEWS – Kepedulian terhadap kesehatan anak berkebutuhan khusus mempertemukan dua negara dalam sebuah kolaborasi kemanusiaan. Tim kesehatan dari Malaysia bersama perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara menggelar bakti kesehatan bagi peserta didik SLB-E Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi kerja sama internasional antara perguruan tinggi swasta anggota APTISI Sumatera Utara dengan Pusat Kanser Tun Abdullah Ahmad Badawi, Universiti Sains Malaysia (USM).
Kolaborasi itu diperkuat melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Implementation Arrangement (IA) yang menjadi landasan kerja sama di bidang pendidikan, kesehatan, serta pengabdian kepada masyarakat.
Usai penandatanganan kerja sama, tim medis dari Malaysia bersama dokter Indonesia langsung memberikan layanan pemeriksaan kesehatan kepada siswa SLB-E Negeri Pembina Sumut.
Sebanyak 70 peserta didik mengikuti pemeriksaan kesehatan yang mencakup pemeriksaan gigi dan mulut, mata, serta telinga. Dari jumlah tersebut, 30 siswa berasal dari jenjang sekolah dasar.
Tidak hanya menghadirkan layanan medis, kegiatan ini juga memberikan edukasi kepada para orang tua melalui seminar bertema “Remaja dan Kesehatan Reproduksi”.
Seminar tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua dalam mendampingi anak memasuki masa remaja, terutama dalam memberikan pengetahuan dan pendampingan kesehatan reproduksi yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Fauzi Hardiansyah, ST. M.Ak, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan terhadap upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan dan kesehatan bagi anak berkebutuhan khusus.
Melalui kegiatan ini, para pihak berharap kerja sama antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat dapat terus berkembang.
Kolaborasi Indonesia-Malaysia tersebut tidak hanya memberikan manfaat langsung berupa layanan kesehatan bagi peserta didik, tetapi juga menjadi langkah memperkuat ekosistem pendidikan khusus yang lebih inklusif di Sumatera Utara.
“Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan layanan kesehatan bagi peserta didik, tetapi juga membuka ruang kolaborasi internasional yang memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan khusus di Sumatera Utara,” demikian semangat yang tercermin dalam kegiatan tersebut. (Redaksi)