Anggota DPR RI Sofyan Tan membagikan kisah masa kecilnya yang penuh kemiskinan saat menyerahkan Program Indonesia Pintar (PIP) di Medan. Pengalaman pahit itu menjadi alasan kuat mengapa ia terus memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
MEDAN, BONARINEWS – Kisah masa kecil Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, sukses menyentuh hati ratusan orang tua siswa penerima Program Indonesia Pintar (PIP) tingkat SMA dan SMK di Kampus Satya Terra Bhinneka, Kecamatan Medan Sunggal, Sabtu (25/7/2026).
Di hadapan para orang tua siswa, Sofyan Tan tidak memulai sambutannya dengan membahas angka maupun kebijakan. Ia justru mengungkap pengalaman hidup yang membekas hingga kini, saat dirinya tumbuh dalam keluarga miskin.
“Saya sudah merasakan tidak enaknya jadi orang miskin. Selop tetangga hilang, kita yang dituduh maling. Datang ke rumah saudara, dikira mau pinjam uang. Sakit hati,” ungkap Sofyan Tan.
Pernyataan tersebut membuat suasana seketika hening. Sejumlah orang tua tampak mengangguk, sementara sebagian lainnya tersenyum getir karena merasa pernah mengalami situasi serupa.
Sofyan Tan menceritakan dirinya merupakan anak kesepuluh dari sepuluh bersaudara yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Kondisi itu membuat sebagian besar kakaknya tidak dapat melanjutkan pendidikan. Namun, ia memilih bertahan demi bisa terus bersekolah.
“Saya ngotot harus sekolah. Kalau tidak sekolah, saya mogok makan,” kenangnya.
Ia juga mengungkap fakta yang selama ini jarang diketahui publik. Saat lahir, orang tuanya hampir menyerahkannya kepada orang lain karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat sulit.
“Dulu waktu saya lahir, saya hampir dikasih ke orang lain karena miskin sekali. Kata ibu saya, untung dulu tidak jadi diberikan. Karena pada akhirnya, dari sepuluh bersaudara, hanya saya yang dianggap berhasil,” tuturnya.
Pengalaman itulah yang membuat Sofyan Tan meyakini bahwa pendidikan merupakan jalan paling nyata untuk memutus rantai kemiskinan.
“Bapak dan ibu boleh miskin harta, tetapi jangan miskin otak. Anak-anak bapak dan ibu harus menjadi orang pintar supaya tidak lagi hidup miskin. Mereka yang akan mengangkat harkat dan martabat keluarga,” katanya yang disambut tepuk tangan peserta.
Menurutnya, kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Ia mencontohkan Korea Selatan yang merdeka pada tahun yang sama dengan Indonesia, namun mampu berkembang jauh lebih pesat karena menjadikan pendidikan sebagai investasi utama.
Sofyan Tan menyebut sekitar 70 persen tenaga kerja di Korea Selatan merupakan lulusan perguruan tinggi. Sementara di Indonesia, tenaga kerja masih didominasi lulusan sekolah dasar. Selain itu, jumlah peneliti di Korea Selatan juga jauh lebih banyak dibanding Indonesia.
Karena itu, setiap penyerahan Surat Keputusan beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP), Sofyan Tan selalu mengumpulkan langsung para orang tua siswa agar dapat memberikan motivasi sekaligus memastikan bantuan pendidikan benar-benar dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Ia mengingatkan agar dana PIP tidak dipotong oleh pihak mana pun dan tidak digunakan untuk kebutuhan di luar pendidikan.
“Dana ini sepenuhnya untuk biaya sekolah anak. Jangan dipakai untuk kebutuhan pribadi. Gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah, seragam, buku, atau kebutuhan pendidikan lainnya,” pesannya.
Sofyan Tan menegaskan dirinya akan terus memperjuangkan akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu, termasuk membantu anak-anak mendapatkan beasiswa hingga jenjang perguruan tinggi.
Menutup sambutannya, ia menitipkan harapan besar kepada para orang tua agar terus mendukung pendidikan anak-anak mereka.
“Mudah-mudahan anak-anak bapak dan ibu penerima PIP hari ini kelak menjadi pemimpin nasional. Memang perjalanan mereka tidak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Tetapi jangan pernah menyerah. Pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib,” ujarnya.
Bagi Sofyan Tan, kemiskinan memang pernah meninggalkan luka mendalam. Namun melalui pendidikan, luka itu berubah menjadi harapan. Harapan yang kini terus ia perjuangkan agar semakin banyak anak Indonesia mampu bangkit dari kemiskinan dan meraih masa depan yang lebih baik.
Penulis: Dedy Hutajulu