Anak Buruh Tani yang Menembus Batas Kemiskinan

Bagikan Artikel

Rianto berdiri dengan tangan gemetar di hadapan sejumlah orang tua dan mahasiswa. Suaranya tertahan ketika bercerita tentang putrinya, Indi Khairunnisa, yang kini menempuh pendidikan di Program Studi Bisnis Digital Universitas Satya Terra Bhinneka, Medan.

Bagi Rianto, bisa mengantarkan anak ke perguruan tinggi adalah sesuatu yang dulu nyaris tidak terbayangkan.

Warga Saentis, Kecamatan Percut Sei Tuan, itu berasal dari keluarga yang tidak memiliki sejarah pendidikan tinggi. Keterbatasan ekonomi membuat kuliah terasa seperti sesuatu yang berada jauh di luar jangkauan.

“Jujur, saya tak pernah membayangkan ini terjadi. Dalam keluarga kami, tidak pernah ada satu pun yang mengenyam bangku kuliah,” ujar Rianto.

Kesempatan itu datang ketika putrinya memperoleh jalan untuk melanjutkan pendidikan dengan dukungan beasiswa.

Rianto sempat ragu. Benarkah anaknya bisa kuliah tanpa harus membebani keluarga dengan biaya besar?

Keraguan itu ia bawa ketika pertama kali mengantarkan putrinya ke kampus. Mereka bahkan sempat tersesat di perjalanan. Sesampainya di kampus, Rianto masih memastikan kepada petugas keamanan apakah benar anaknya tidak harus membayar biaya kuliah.

Jawaban yang diterimanya perlahan mengubah kecemasan menjadi keyakinan.

Bukan hanya biaya kuliah yang terbantu. Rianto juga mengetahui adanya fasilitas kesehatan bagi mahasiswa.

Ia kemudian memeluk putrinya dan menitipkan pesan.

“Berikan yang terbaik untuk sekolah ini, Nak. Jangan bikin malu. Jadilah bukti bahwa anak buruh pun bisa berdiri tegak,” katanya.

Bagi Rianto, pendidikan bukan sekadar tentang memperoleh gelar. Ia melihatnya sebagai jalan agar anak-anaknya memiliki kesempatan menjalani kehidupan yang berbeda.

Harapan serupa dirasakan keluarga buruh tani penyewa lahan di Simalingkar. Sehari-hari, pasangan suami istri itu menanam sayuran di lahan sewaan dan menjual hasilnya di Pajak Sore.

Mereka memiliki tiga anak dan menyimpan satu cita-cita: ketiganya menjadi sarjana.

Namun, perjalanan menuju perguruan tinggi tidak selalu mudah. Telepon seluler rusak dan persoalan administrasi terkait data ekonomi keluarga sempat menjadi hambatan.

Di tengah keterbatasan itu, bantuan pendidikan menjadi pintu masuk bagi anak-anak dari keluarga seperti mereka.

Program beasiswa yang didukung anggota Komisi X DPR RI dr Sofyan Tan memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari keluarga kurang mampu untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Satya Terra Bhinneka.

Sofyan Tan, yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Sultan Iskandar Muda, mengatakan fasilitas kampus disiapkan untuk mendukung pendidikan mahasiswa, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.

“Tempatnya bagus, tapi untuk siapa? Untuk putra-putri Bapak dan Ibu,” ujarnya kepada para orang tua penerima beasiswa.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar menggunakan bantuan untuk kepentingan pendidikan dan belajar dengan sungguh-sungguh.

Pesan itu berangkat dari pengalaman hidupnya sendiri. Sofyan Tan bercerita pernah tumbuh dalam keluarga sederhana di kawasan Sunggal. Rumahnya dahulu bertembok tepas dan beratap nipah.

“Saya bisa seperti hari ini tidak ujug-ujug jadi. Kemiskinan harus kita lawan dengan kerja keras,” katanya.

Bagi Rianto, perjuangan itu kini berpindah kepada generasi berikutnya.

Ia tidak tahu persis akan seperti apa masa depan anaknya. Namun, untuk pertama kalinya, pendidikan tinggi bukan lagi sekadar mimpi.

Anaknya sudah berada di bangku kuliah.

Dan dari sana, sebuah keluarga yang selama ini akrab dengan keterbatasan mulai berani membayangkan kehidupan yang berbeda.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *