Bekasi, BONARINEWS.com – Tragedi kecelakaan kereta api mengguncang wilayah Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4/2026) malam. Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line ditabrak Kereta Api Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi, menyebabkan sedikitnya lima orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Insiden tragis ini terjadi sekitar pukul 20.40 WIB dan langsung memicu kepanikan besar di lokasi kejadian. Proses evakuasi berlangsung dramatis hingga Selasa (28/4/2026) dini hari.Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Bobby Rasyidin, menyampaikan jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi lima orang.
Selain korban meninggal, dilaporkan masih ada sekitar tiga orang yang terperangkap di dalam gerbong dan belum berhasil dievakuasi saat proses penyelamatan berlangsung.
Sebanyak 79 penumpang KRL telah dievakuasi dan dibawa ke sembilan rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Sementara itu, seluruh 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat dari insiden maut tersebut.Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan petugas PT KAI terus bekerja keras mengevakuasi korban yang terjepit di dalam gerbong KRL.
Gerbong perempuan disebut menjadi titik kerusakan paling parah setelah dihantam langsung oleh lokomotif KA Argo Bromo Anggrek dari belakang.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi turun langsung ke lokasi untuk memantau proses evakuasi dan memastikan penanganan korban berjalan maksimal.
Ia menegaskan keselamatan penumpang dan seluruh pihak terdampak menjadi prioritas utama pemerintah.
Menurut penjelasan awal, kecelakaan diduga bermula ketika sebuah KRL lebih dulu menabrak mobil taksi hijau di perlintasan JPL 85.
Insiden itu diduga mengganggu sistem perjalanan kereta di area emplasemen Bekasi Timur.
Saat KRL Commuter Line menuju Cikarang berhenti di Stasiun Bekasi Timur akibat gangguan tersebut, KA Argo Bromo Anggrek yang datang dari arah belakang diduga tidak sempat berhenti dan langsung menghantam rangkaian KRL.
Manajer Humas Daop 1 KAI, Franoto Wibowo, membenarkan bahwa kecelakaan besar ini berawal dari insiden awal KRL menabrak taksi yang melintang di rel.
Sejumlah saksi mata menggambarkan benturan terdengar sangat keras seperti ledakan.
Bahkan, kepala lokomotif KA Argo Bromo Anggrek disebut menembus gerbong paling belakang KRL yang merupakan gerbong khusus perempuan.
Pemerintah kini menyerahkan investigasi penyebab pasti kecelakaan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi untuk memastikan kronologi dan faktor penyebab insiden secara menyeluruh.
PT KAI melalui Vice President Corporate Communication Anne Purba menyampaikan duka mendalam dan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas peristiwa ini.
Kecelakaan ini menjadi salah satu tragedi transportasi paling memilukan di Indonesia sepanjang 2026 dan berdampak besar terhadap operasional kereta di lintas Bekasi, Cikarang, dan Jakarta.
Penulis: Dedy Hu