Tak Lagi Takut Bertetangga dengan ODHIV, Pengakuan Peserta Bimtek HIV di Medan Ini Bikin Tersentuh

Bagikan Artikel

MEDAN, BONARINEWS – Ketakutan dan stigma terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV) masih menjadi persoalan serius di tengah masyarakat. Banyak orang masih salah memahami cara penularan HIV, bahkan menganggap virus tersebut bisa menyebar melalui udara atau sekadar berinteraksi sehari-hari.

Fakta itu terungkap dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Cegah HIV/AIDS bertajuk Edukasi untuk Semua Warga Kota Medan yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama DPR RI di Hotel Emerald Garden, Medan, Jumat (29/5/2026).

Salah seorang peserta, Bertha Gultom, warga Medan, secara jujur mengakui selama bertahun-tahun dirinya takut bertetangga dengan seseorang yang mengidap HIV. Ia bahkan membatasi interaksi keluarganya karena khawatir virus tersebut dapat menular melalui udara.

Namun pandangannya berubah total setelah mengikuti kegiatan edukasi tersebut.

“Saya selama ini takut dan menjauh karena mengira HIV bisa menular lewat udara. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya sadar pemahaman saya selama ini salah. Saya merasa bersalah karena sudah memberi stigma kepada tetangga saya sendiri,” ungkap Bertha.

Pengakuan itu menjadi gambaran nyata bahwa kurangnya edukasi masih menjadi penyebab utama munculnya diskriminasi terhadap ODHIV.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Mirna Widiyanti, menegaskan HIV tidak dapat menular melalui udara, berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan, menggunakan toilet yang sama, maupun aktivitas sosial sehari-hari lainnya.

Menurut Mirna, virus HIV hanya dapat hidup dalam kondisi tertentu dan tidak mampu bertahan lama ketika berada di luar tubuh manusia.

“HIV membutuhkan inang untuk hidup. Ketika virus berada di luar tubuh manusia dan terpapar udara bebas, virus tidak dapat bertahan. Karena itu masyarakat tidak perlu takut berinteraksi dengan ODHIV,” jelasnya.

Mirna menjelaskan, penularan HIV hanya terjadi melalui hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik yang tercemar, transfusi darah yang terinfeksi, serta penularan dari ibu kepada bayi saat kehamilan, persalinan, atau menyusui.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, mengingatkan bahwa stigma dan diskriminasi masih menjadi tantangan besar dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.

Menurutnya, banyak orang enggan melakukan tes HIV karena takut dikucilkan oleh lingkungan sekitar.

“HIV tidak menular melalui kontak biasa. Jangan sampai ketidaktahuan membuat kita menjauhi orang yang sebenarnya membutuhkan dukungan,” kata Sofyan Tan.

Ia mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait HIV/AIDS. Pada 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564 ribu Orang Dengan HIV di Indonesia. Namun baru sekitar 364 ribu orang yang mengetahui status kesehatannya.

Artinya, masih ada ratusan ribu orang yang hidup dengan HIV tanpa terdeteksi dan berpotensi tidak mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan.

Sofyan Tan juga menyoroti tingginya angka kasus HIV/AIDS di Kota Medan. Hingga kini tercatat sekitar 9.878 kasus HIV/AIDS di ibu kota Sumatera Utara tersebut, sementara sekitar 5.813 orang telah menjalani terapi antiretroviral (ARV).

Selain itu, Sumatera Utara mencatat 3.041 kasus HIV baru sepanjang 2025, menjadikannya salah satu provinsi dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia.

Menurut Sofyan Tan, kelompok usia produktif 25 hingga 48 tahun menjadi kelompok yang paling rentan terpapar HIV. Faktor penyebabnya antara lain perilaku seksual berisiko, berganti-ganti pasangan, serta penyalahgunaan narkoba suntik. “Jangan gonta ganti pacar,” anjurnya.

Para narasumber menegaskan, edukasi, deteksi dini, dan akses pengobatan menjadi kunci utama untuk menekan penyebaran HIV sekaligus menghapus stigma yang masih melekat di masyarakat.

“Jangan menjauhi orangnya, tetapi jauhi perilaku yang berisiko menyebabkan penularan HIV,” tegas Mirna.

Penulis: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *