MEDAN, BONARINEWS – Pengobatan HIV/AIDS kini semakin maju. Orang dengan HIV (ODHIV) bahkan dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang panjang berkat terapi antiretroviral (ARV) yang disediakan pemerintah secara gratis. Namun, di balik kemajuan tersebut, stigma dan diskriminasi masih menjadi tantangan terbesar dalam upaya pengendalian HIV/AIDS di Indonesia, termasuk di Kota Medan.
Persoalan ini mengemuka dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Cegah HIV/AIDS bertajuk Edukasi untuk Semua Warga Kota Medan yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama DPR RI di Hotel Emerald Garden, Medan, Jumat (29/5/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Mirna Widiyanti, menjelaskan bahwa terapi HIV saat ini menggunakan obat antiretroviral (ARV) yang berfungsi menekan perkembangan virus sehingga tidak merusak sistem kekebalan tubuh.
Menurut Mirna, keberhasilan pengobatan dipantau melalui pemeriksaan viral load atau jumlah virus HIV dalam darah. Semakin rendah viral load, semakin baik kondisi pasien dan semakin kecil risiko penularan.
“ARV bekerja dengan menghambat perkembangan virus HIV. Karena itu pasien harus disiplin mengonsumsi obat agar virus tetap terkendali,” ujarnya.
Mirna menjelaskan pemerintah saat ini menyediakan ARV secara gratis bagi penderita HIV. Salah satu terapi yang banyak digunakan adalah Fixed Dose Combination (FDC), yaitu satu tablet yang mengandung beberapa jenis obat sekaligus sehingga memudahkan pasien menjalani pengobatan.
Namun, keberhasilan terapi sangat bergantung pada kepatuhan pasien.
Menurutnya, penggunaan obat yang tepat, dosis yang tepat, cara yang tepat, dan waktu yang tepat merupakan kunci keberhasilan terapi HIV.
“Kalau pasien sering lupa atau tidak rutin minum ARV, virus bisa berkembang biak kembali dan berpotensi mengalami mutasi. Kondisi ini dapat menyebabkan resistensi sehingga obat tidak lagi efektif,” jelasnya.
Karena itu, pasien HIV yang sudah memulai terapi dianjurkan untuk tidak menghentikan pengobatan tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
Di sisi lain, Mirna menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi semata-mata soal pengobatan, melainkan stigma yang masih melekat terhadap ODHIV.
Banyak orang masih percaya bahwa HIV dapat menular melalui udara, berjabat tangan, berpelukan, menggunakan peralatan makan yang sama, atau sekadar berinteraksi sehari-hari. Padahal anggapan tersebut tidak benar.
“HIV tidak menular lewat udara, sentuhan, pelukan, bersalaman, atau berbagi makanan. Virus ini tidak dapat bertahan hidup lama di luar tubuh manusia,” tegas Mirna.
Penularan HIV, lanjutnya, hanya terjadi melalui hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi, transfusi darah yang tercemar, serta dari ibu kepada bayi saat kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Stigma yang masih kuat di masyarakat terlihat dari pengakuan salah seorang peserta bimtek, Bertha Gultom. Ia mengaku selama bertahun-tahun menjauhi tetangganya yang mengidap HIV karena takut tertular.
“Saya dulu mengira HIV bisa menular lewat udara. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya sadar pemahaman saya selama ini salah dan merasa bersalah karena pernah memberi stigma kepada tetangga sendiri,” ungkapnya.
Mirna juga menceritakan hasil penelitiannya yang menemukan masih adanya diskriminasi terhadap ODHIV di berbagai daerah. Salah satunya terjadi di Surabaya, ketika seorang pedagang sayur dijauhi pembeli setelah diketahui hidup dengan HIV.
Menurutnya, kasus tersebut menunjukkan bahwa kurangnya edukasi masih menjadi akar persoalan diskriminasi terhadap ODHIV.
Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi X, Sofyan Tan, mengatakan stigma dan ketakutan masyarakat justru membuat banyak orang enggan memeriksakan diri sehingga penanganan HIV menjadi lebih sulit.
Ia mengungkapkan, pada 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564 ribu ODHIV di Indonesia. Namun baru sekitar 364 ribu orang yang mengetahui statusnya.
“Artinya masih banyak yang hidup dengan HIV tetapi belum terdeteksi dan belum mendapatkan pengobatan,” kata Sofyan Tan.
Ia juga menyoroti kondisi Kota Medan yang menjadi salah satu daerah dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Sumatera Utara. Hingga kini tercatat sekitar 9.878 kasus HIV/AIDS di Medan dan sekitar 5.813 orang telah menjalani terapi ARV.
Selain itu, Sumatera Utara mencatat 3.041 kasus HIV baru sepanjang 2025. Kelompok usia 25 hingga 48 tahun menjadi kelompok yang paling banyak terpapar karena berada pada usia produktif.
Menurut Sofyan Tan, perilaku seksual berisiko, berganti-ganti pasangan, dan penyalahgunaan narkoba masih menjadi faktor utama penyebaran HIV.
Melalui edukasi yang berkelanjutan, BRIN dan DPR RI berharap masyarakat semakin memahami fakta ilmiah tentang HIV/AIDS, sehingga stigma terhadap ODHIV dapat berkurang dan lebih banyak orang berani melakukan tes serta mendapatkan pengobatan sejak dini.
“Jangan menjauhi orangnya, tetapi jauhi perilaku yang berisiko menyebabkan penularan HIV,” tegas Mirna.
Penulis: Dedy Hu