Oleh: Ahmad Amri Falah
Secangkir kopi atau teh pada pagi hari bagi banyak orang bukan sekadar kebiasaan. Aroma dan rasanya menjadi bagian dari rutinitas sebelum memulai pekerjaan. Kafein di dalamnya membantu mengusir kantuk, meningkatkan kewaspadaan, dan membuat tubuh terasa lebih siap beraktivitas.
Namun, manfaat kopi dan teh tidak berhenti pada efek jangka pendek tersebut. Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara konsumsi kopi atau teh dalam jumlah tertentu dengan fungsi kognitif yang lebih baik serta risiko demensia yang lebih rendah.
Meski demikian, temuan tersebut perlu dipahami secara proporsional. Kopi dan teh belum dapat disebut sebagai obat atau pencegah demensia. Hubungan yang ditemukan dalam penelitian tidak otomatis membuktikan bahwa kafein menjadi penyebab langsung seseorang terhindar dari demensia.
Kafein dan Rasa Kantuk
Kafein merupakan zat stimulan yang secara alami terdapat dalam kopi dan teh. Salah satu cara kerjanya adalah menghambat aktivitas adenosin, senyawa di otak yang berperan menimbulkan rasa kantuk.
Ketika efek adenosin terhambat, seseorang dapat merasa lebih terjaga dan waspada. Inilah alasan kopi kerap menjadi teman bekerja, terutama ketika seseorang harus berkonsentrasi dalam waktu lama.
Kafein juga dapat memengaruhi sejumlah sistem kimiawi di otak, termasuk yang berkaitan dengan suasana hati. Efek tersebut dapat membuat seseorang merasa lebih berenergi dan bersemangat dalam jangka pendek.
Namun, efek stimulan ini bukan berarti kafein dapat menggantikan tidur. Kurang tidur yang berlangsung terus-menerus justru dapat mengganggu konsentrasi, daya ingat, dan kesehatan secara keseluruhan.
Lalu, bagaimana dengan demensia?
Kopi, Teh, dan Fungsi Kognitif
Demensia merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan penurunan kemampuan kognitif yang cukup berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Gangguan dapat mencakup daya ingat, kemampuan berpikir, bahasa, hingga kemampuan mengambil keputusan.
Risiko demensia meningkat seiring bertambahnya usia. Karena itu, para peneliti terus mencari berbagai faktor yang mungkin berkaitan dengan kesehatan otak dalam jangka panjang.
Sejumlah penelitian observasional menemukan bahwa orang yang mengonsumsi kopi atau teh secara moderat memiliki risiko demensia yang lebih rendah dibandingkan kelompok tertentu yang tidak mengonsumsinya.
Penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi kopi dan teh berkaitan dengan sejumlah indikator kesehatan otak dan pembuluh darah. Hal ini menarik karena kesehatan pembuluh darah memiliki hubungan erat dengan kesehatan otak.
Namun, penting untuk membedakan antara korelasi dan sebab-akibat.
Jika sebuah penelitian menemukan bahwa peminum kopi memiliki risiko demensia lebih rendah, temuan itu belum membuktikan bahwa kopi sendirilah yang menyebabkan risiko tersebut menurun. Bisa saja terdapat faktor lain yang ikut berperan, seperti pola makan, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, kebiasaan tidur, atau karakteristik sosial dan ekonomi seseorang.
Karena itu, kopi sebaiknya tidak diperlakukan sebagai “pelindung otak” yang berdiri sendiri.
Berapa Banyak yang Masih Wajar?
Manfaat kafein sangat bergantung pada jumlah dan kondisi masing-masing orang. Konsumsi terlalu banyak justru dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan, seperti sulit tidur, gelisah, jantung berdebar, atau gangguan pencernaan.
European Food Safety Authority menyebut konsumsi kafein hingga 400 miligram per hari secara umum tidak menimbulkan kekhawatiran keamanan bagi orang dewasa sehat. Namun, jumlah kafein dalam secangkir kopi atau teh sangat bervariasi, bergantung pada jenis minuman, ukuran sajian, dan cara penyeduhannya.
Karena itu, menyamakan 400 miligram dengan jumlah cangkir tertentu tidak selalu tepat.
Konsumsi kafein juga perlu disesuaikan dengan kondisi individu. Orang yang sensitif terhadap kafein mungkin mengalami gangguan tidur meskipun mengonsumsinya dalam jumlah yang tidak terlalu besar.
Bagi sebagian orang, waktu minum juga penting. Minum kopi terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu kualitas tidur. Padahal, tidur yang cukup merupakan bagian penting dari pemeliharaan fungsi kognitif.
Bukan Sekadar Mengandalkan Kopi
Jika tujuan utamanya adalah menjaga kesehatan otak hingga usia lanjut, kopi atau teh seharusnya ditempatkan sebagai bagian kecil dari gaya hidup sehat, bukan sebagai strategi tunggal.
Aktivitas fisik teratur, pola makan seimbang, tidur yang cukup, menjaga tekanan darah dan kadar gula darah, tidak merokok, serta tetap aktif secara sosial dan mental memiliki peran yang jauh lebih luas dalam menjaga kesehatan tubuh dan otak.
Dengan kata lain, secangkir kopi mungkin dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari yang menyenangkan. Tetapi kesehatan otak tidak ditentukan oleh apa yang kita minum pada pagi hari saja.
Demensia merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Tidak ada satu jenis makanan atau minuman yang dapat memberikan jaminan seseorang terbebas dari penyakit tersebut.
Yang dapat dilakukan adalah membangun kebiasaan yang secara keseluruhan mendukung kesehatan tubuh dan otak.
Jadi, apakah kopi dan teh dapat mencegah demensia?
Jawabannya belum sesederhana itu.
Penelitian menunjukkan adanya hubungan yang menarik antara konsumsi kopi dan teh dengan fungsi kognitif serta risiko demensia. Namun, bukti tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kafein secara langsung mencegah demensia.
Karena itu, nikmatilah kopi atau teh secukupnya. Jangan menjadikannya pengganti tidur, pola makan sehat, atau aktivitas fisik.
Secangkir kopi di pagi hari mungkin membantu kita lebih terjaga untuk menjalani hari. Tetapi untuk menjaga otak tetap sehat hingga usia lanjut, yang dibutuhkan bukan hanya satu minuman, melainkan kebiasaan hidup yang konsisten.