Jadikan Semua Bangsa Murid-Ku: Menjadi Utusan Kristus dengan Otoritas dari Tuhan

Bagikan Artikel

Di tengah kesibukan hidup dan berbagai tuntutan dunia, banyak orang percaya memahami bahwa mereka telah diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan melalui Yesus Kristus. Namun sering kali kita lupa bahwa keselamatan bukanlah akhir dari perjalanan iman. Keselamatan justru menjadi awal dari sebuah panggilan yang mulia. Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk menjadi pengikut-Nya, tetapi juga menjadi utusan-Nya di tengah dunia.

Oleh: Ls. Mardi Panjaitan

Dalam Matius 28:16–20, kita menemukan pesan terakhir Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Ia naik ke surga. Bagian firman Tuhan ini dikenal sebagai Amanat Agung, sebuah mandat yang diberikan kepada seluruh orang percaya sepanjang masa.

Sebelum memberikan tugas kepada para murid, Yesus terlebih dahulu menyatakan:

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”

Pernyataan ini bukan sekadar pengantar, melainkan fondasi dari seluruh Amanat Agung. Yesus ingin para murid memahami bahwa mereka tidak akan menjalankan tugas itu dengan kekuatan sendiri. Mereka diutus oleh Tuhan yang memiliki segala kuasa, baik di surga maupun di bumi.

Sering kali kita merasa tidak mampu untuk bersaksi tentang Kristus. Kita merasa kurang pengetahuan, kurang pengalaman, kurang percaya diri, atau takut menghadapi penolakan. Namun Tuhan tidak pernah meminta kita mengandalkan kemampuan diri sendiri. Ia meminta kita mengandalkan kuasa-Nya.

Karena itu, setelah menyatakan otoritas-Nya, Yesus berkata:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”

Kata “karena itu” memiliki makna yang sangat penting. Karena Yesus memiliki segala kuasa, maka murid-murid dapat pergi tanpa rasa takut. Karena Yesus berkuasa atas segala sesuatu, maka Injil harus diberitakan kepada semua bangsa. Karena Yesus adalah Raja atas seluruh ciptaan, maka setiap orang berhak mendengar kabar keselamatan.

Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Sang Guru. Tidak ada murid yang sejati yang hanya mendengar perintah gurunya tanpa melaksanakannya. Salah satu perintah terbesar yang diberikan Yesus adalah memberitakan Injil dan menjadikan semua bangsa murid-Nya.

Tugas ini bukan hanya milik pendeta, penginjil, atau pelayan gereja. Amanat Agung adalah panggilan bagi setiap orang percaya. Di mana pun Tuhan menempatkan kita—di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di kampus, di lingkungan usaha, maupun dalam kehidupan bermasyarakat—kita dapat menjadi saksi Kristus.

Memberitakan Injil tidak selalu berarti berkhotbah dari atas mimbar. Sering kali Injil diberitakan melalui kehidupan yang mencerminkan karakter Kristus. Kejujuran dalam bekerja, kesabaran dalam menghadapi orang lain, kasih yang tulus, kepedulian kepada sesama, serta perkataan yang membangun dapat menjadi kesaksian yang hidup tentang Kristus.

Banyak orang mungkin tidak pernah membaca Alkitab, tetapi mereka dapat melihat Kristus melalui kehidupan orang percaya. Ketika orang lain melihat terang Tuhan dalam hidup kita, mereka sedang menyaksikan Injil yang hidup.

Kebenaran ini ditegaskan kembali dalam firman Tuhan yang tertulis dalam 1 Petrus 2:9:

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.”

Ayat ini mengingatkan bahwa kita dipilih bukan hanya untuk menerima keselamatan, tetapi juga untuk memberitakan karya Tuhan kepada dunia. Menjadi umat pilihan bukanlah hak istimewa untuk dibanggakan, melainkan tanggung jawab yang harus dijalankan.

Tuhan mempercayakan Injil kepada gereja-Nya agar semakin banyak orang mengenal kasih dan keselamatan yang ada di dalam Kristus. Setiap jiwa memiliki nilai yang sangat berharga di mata Tuhan. Karena itu, ketika kita membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhan melalui doa, kesaksian, pelayanan, maupun perhatian yang tulus, kita sedang mengerjakan sesuatu yang memiliki nilai kekal.

Di sinilah kita belajar bahwa tujuan hidup orang percaya bukan hanya menikmati kebahagiaan di dunia ini. Tuhan memang menghendaki kita hidup dalam sukacita dan berkat-Nya, tetapi tujuan yang lebih besar adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal serta membawa sebanyak mungkin orang mengenal Kristus.

Dunia mengajarkan manusia untuk mengejar harta, jabatan, popularitas, dan berbagai pencapaian. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa semua itu bersifat sementara. Harta dapat habis, jabatan dapat berakhir, dan keberhasilan dunia pada akhirnya akan berlalu.

Sebaliknya, jiwa yang diselamatkan memiliki nilai yang kekal. Apa yang kita kerjakan bagi Tuhan hari ini akan memiliki dampak yang melampaui kehidupan dunia ini.

Karena itu, marilah kita menjalani hidup dengan perspektif yang lebih besar. Jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya peroleh?” tetapi juga bertanya, “Siapa yang bisa saya bawa lebih dekat kepada Tuhan?”

Kabar baiknya, Yesus tidak hanya memberi perintah. Ia juga memberikan janji yang luar biasa kepada setiap pengikut-Nya:

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Inilah penghiburan dan kekuatan bagi setiap orang percaya. Kita tidak berjalan sendirian. Tuhan yang mengutus adalah Tuhan yang menyertai. Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang memperlengkapi. Tuhan yang memerintahkan adalah Tuhan yang memberikan kemampuan untuk melaksanakan tugas-Nya.

Ketika menghadapi tantangan dalam bersaksi, Tuhan hadir. Ketika menghadapi penolakan, Tuhan tetap menyertai. Ketika merasa lemah dan tidak sanggup, Tuhan memberikan kekuatan yang baru.

Karena itu, marilah kita menjawab panggilan Tuhan dengan setia. Jadilah murid yang taat kepada Guru-Nya. Jadilah saksi Kristus di mana pun Tuhan menempatkan kita. Gunakan hidup kita untuk memancarkan kasih, kebenaran, dan pengharapan yang berasal dari Tuhan.

Sebab kita adalah umat pilihan-Nya, dipanggil untuk memberitakan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar, dan diutus dengan otoritas dari Tuhan yang memiliki segala kuasa di surga dan di bumi.

Pada akhirnya, Amanat Agung bukan hanya perintah bagi gereja secara umum, tetapi panggilan pribadi bagi setiap orang percaya. Tuhan memanggil kita untuk menjadi terang di tengah dunia yang gelap, menjadi garam di tengah kehidupan yang kehilangan arah, dan menjadi saksi yang setia bagi Kristus.

Mari melangkah dengan iman dan keberanian, sebab Tuhan yang mengutus kita juga berjalan bersama kita.

“Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”

Kiranya panggilan itu dimulai dari keluarga kita, lingkungan kita, tempat kerja kita, dan dari kehidupan kita sendiri hari ini.

Tuhan memberkati.

Penulis: Ls Mardi Panjaitan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *