MEDAN, BONARINEWS.com – Peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Momentum itu semestinya menjadi pengingat bahwa perempuan Indonesia pernah—dan dalam banyak hal masih—berjuang atas tubuh serta hak kesehatannya sendiri.
Raden Ajeng Kartini wafat tak lama setelah melahirkan di usia muda. Banyak catatan sejarah menyebut penyebabnya diduga komplikasi kehamilan seperti preeklamsia, kondisi tekanan darah tinggi yang membahayakan ibu dan bayi. Pada zamannya, kesehatan reproduksi nyaris tak dibicarakan. Ia dianggap tabu, disembunyikan, dan diabaikan.
Lebih dari seabad berlalu, gema persoalan itu belum benar-benar hilang.
Di Desa Pantai Cermin, upaya memutus “sunyi” tersebut mulai dilakukan lewat pelatihan peningkatan kapasitas perempuan dan remaja pada 13–14 April 2026. Kegiatan ini membahas kesehatan reproduksi, pencegahan kehamilan tidak direncanakan, serta kekerasan berbasis gender dan seksual—isu yang dulu nyaris tak memiliki ruang aman untuk dibicarakan.
Kegiatan yang difasilitasi Aliansi Sumut Bersatu itu didukung tim fasilitator, di antaranya Veryanto Sitohang, Eva Indriani, Carolina Simanjuntak, Lian Zalukhu, dan Heri Syahputra.
“Perempuan harus punya akses informasi yang benar tentang tubuhnya sendiri. Tanpa itu, kita hanya mengulang sejarah yang sama,” kata Veryanto saat membuka kegiatan.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari program respons bencana Sumatera yang dijalankan bersama Yayasan IPAS. Program itu bertujuan memastikan perempuan dewasa dan remaja terdampak bencana memperoleh akses tepat waktu terhadap layanan kontrasepsi serta perlindungan dari kekerasan berbasis gender.
Di Sumatera Utara, program difokuskan di Kabupaten Langkat, khususnya Kecamatan Tanjung Pura, wilayah yang dinilai memiliki kerentanan bencana sekaligus keterbatasan akses layanan kesehatan reproduksi.
Selama dua hari, peserta diajak membongkar pemahaman lama soal gender. Mereka mulai menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dianggap sebagai “kodrat perempuan” sejatinya merupakan konstruksi sosial yang dapat berubah.
Diskusi semakin relevan ketika isu kekerasan terhadap perempuan dibahas. Narasumber Ferry Wira Padang mengungkap bahwa kekerasan berbasis gender masih tinggi, bahkan makin kompleks dengan munculnya kekerasan di ruang digital. Banyak korban memilih diam karena takut, malu, atau tidak memiliki dukungan.
Di situlah ironi terasa: perempuan masih kerap terjebak dalam ketakutan atas tubuhnya sendiri—situasi yang tak sepenuhnya berbeda dari masa Kartini.
Pada hari kedua, materi kesehatan reproduksi yang disampaikan Supriadi menegaskan bahwa kurangnya edukasi membuat remaja rentan terhadap kehamilan tidak diinginkan, infeksi menular seksual, hingga pengambilan keputusan berisiko.
Fakta itu menunjukkan satu hal penting: ketika pengetahuan tak hadir, mitos akan mengambil alih. Dan dalam banyak kasus, perempuanlah yang menanggung dampaknya.
Di tengah tantangan tersebut, Puskesmas Pantai Cermin, Pemerintah Desa Pantai Cermin, serta Pemerintah Kabupaten Langkat disebut menerima program ini secara terbuka. Komitmen memperbaiki layanan kesehatan reproduksi dan perlindungan dari kekerasan berbasis gender dinilai menjadi langkah penting.
Pelatihan ini bukan sekadar transfer pengetahuan. Ia adalah upaya membuka ruang untuk bertanya, memahami, dan melindungi diri—sesuatu yang tidak dimiliki Kartini pada zamannya.
Jika dahulu perempuan dibungkam oleh norma dan keterbatasan informasi, hari ini tantangannya adalah memastikan tak ada lagi perempuan yang menghadapi risiko kesehatan dan kekerasan dalam ketidaktahuan.
Kartini mungkin gugur karena keterbatasan pengetahuan dan layanan kesehatan di zamannya. Namun kini, setiap perempuan yang berani memahami tubuhnya, melawan stigma, dan bersuara adalah Kartini yang tak lagi diam.
Penulis: Redaksi