Oleh: MARDI PANJAITAN
Hari itu saya datang bukan untuk sekadar menyampaikan materi.
Di hadapan ratusan mahasiswa baru Universitas MTU Medan yang mengikuti rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), saya mendapat kesempatan berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pengetahuan di ruang kelas: Wawasan Kebangsaan dan Pancasila.
Namun, seperti setiap kali berdiri di hadapan banyak orang, saya selalu merasa bahwa berbicara sesungguhnya adalah proses dua arah. Ketika kita berbagi pengetahuan, pada saat yang sama kita sedang belajar kembali. Ada energi, tatapan, pertanyaan, dan harapan dari orang-orang yang mendengarkan.
Hari itu, saya melihat semua itu pada wajah mahasiswa baru.
Mereka sedang berada di sebuah persimpangan. Dari dunia sekolah menengah, mereka mulai memasuki kehidupan perguruan tinggi. Sebuah fase baru yang kelak akan menentukan cara mereka melihat dunia, mengambil keputusan, membangun karier, sekaligus menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat.
Karena itu, saya menitipkan satu pesan sederhana: menjadi mahasiswa bukan sekadar berpindah dari bangku SMA ke bangku perguruan tinggi.
Menjadi mahasiswa berarti bersiap menjadi manusia yang mampu berpikir.
Mahasiswa harus memiliki keberanian untuk bertanya, kemampuan untuk memecahkan persoalan, kemauan untuk menciptakan perubahan, dan kesiapan untuk mengambil tanggung jawab. Mereka dapat tumbuh menjadi pemimpin, profesional, wirausahawan, inovator, sekaligus warga negara yang memahami bahwa masa depan bangsa juga berada di tangan mereka.
Saya kemudian mengajak mereka mengenal semangat KICAW: Kreatif, Inovatif, Cerdas, Adaptif, dan Wirausaha.
Lima karakter itu, bagi saya, semakin penting di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat. Pengetahuan saja tidak cukup. Generasi muda perlu kreativitas untuk melihat peluang, inovasi untuk menemukan jalan baru, kecerdasan untuk mengambil keputusan, kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan, dan keberanian berwirausaha untuk menciptakan nilai sekaligus membuka kesempatan bagi orang lain.
Tetapi semua itu harus memiliki fondasi.
Fondasi itu adalah kebangsaan.
Wawasan kebangsaan tidak boleh berhenti sebagai materi yang disampaikan di atas panggung, kemudian dilupakan setelah acara selesai. Ia harus menjelma menjadi perilaku sehari-hari.
Menghargai perbedaan. Menolak perundungan. Menjaga persatuan. Mencintai tanah air. Menjaga lingkungan. Mematuhi aturan. Dan yang tak kalah penting, tidak mudah terseret hoaks, provokasi, maupun ujaran kebencian.
Sebab menjadi orang terdidik bukan hanya tentang seberapa tinggi pendidikan yang kita tempuh. Lebih dari itu, pendidikan seharusnya membuat kita semakin mampu hidup bersama dengan orang lain.
Di hadapan mahasiswa baru itu, saya pun menyampaikan sebuah kalimat yang mudah-mudahan mereka ingat dalam perjalanan panjang mereka di kampus:
“MTU bukan tempat menunggu masa depan. MTU adalah tempat mempersiapkan dan menciptakan masa depan.”
Bagi saya, kalimat itu bukan sekadar slogan.
Perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang untuk mencoba, gagal, belajar, menemukan kembali diri sendiri, lalu tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Kampus bukan ruang tunggu sebelum memasuki kehidupan sesungguhnya. Kampus justru bagian dari kehidupan itu sendiri.
Namun, ada satu kebahagiaan lain yang saya bawa pulang dari MTU.
Selain berbagi dengan ratusan mahasiswa baru, saya mendapat kesempatan bertemu dan bertukar kontak dengan Presiden Direktur PT Mahkota Group, Bapak Usli Sarsi.
Sebuah perjumpaan mungkin terlihat sederhana.
Berkenalan. Berbincang. Bertukar nomor kontak. Lalu masing-masing melanjutkan aktivitas.
Tetapi pengalaman mengajarkan saya bahwa banyak hal besar dalam hidup justru bermula dari perjumpaan yang tampak sederhana.
Kita tidak pernah tahu siapa yang akan kita temui hari ini. Kita tidak pernah tahu percakapan singkat mana yang kelak berkembang menjadi sebuah kolaborasi. Kita juga tidak pernah tahu dari perkenalan mana sebuah persahabatan, kesempatan, atau kebaikan baru akan tumbuh.
Karena itu, saya memandang jejaring bukan sekadar soal memperbanyak kenalan.
Jejaring adalah tentang silaturahmi.
Tentang membuka ruang untuk saling belajar.
Tentang mempertemukan gagasan.
Tentang membangun kepercayaan.
Dan, pada waktunya, tentang berkolaborasi untuk menghadirkan sesuatu yang lebih besar daripada yang dapat kita kerjakan seorang diri.
Dunia yang semakin kompleks tidak mungkin dihadapi sendirian. Kita membutuhkan orang lain. Kita membutuhkan kolaborasi. Kita membutuhkan keberanian untuk membuka pintu dan menyapa orang-orang baru.
Itulah sebabnya saya percaya, setiap perjumpaan selalu memiliki cerita.
Ada orang yang hadir hanya sebentar, tetapi meninggalkan pelajaran panjang. Ada yang kita temui sekali, tetapi kemudian menjadi sahabat. Ada pula yang awalnya hanya bertukar kontak, lalu suatu hari dipertemukan kembali dalam sebuah kesempatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Mungkin, begitulah cara kehidupan bekerja.
Kebaikan sering kali datang melalui manusia lain.
Saya berterima kasih kepada Rektor Universitas MTU Medan, Assoc. Prof. Dr. Dompak Pasaribu, yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada saya untuk hadir dan berbagi dalam kegiatan PKKMB.
Terima kasih juga kepada seluruh panitia dan keluarga besar Universitas MTU Medan atas sambutan hangat serta kesempatan yang diberikan.
Saya datang ke kampus itu dengan niat berbagi.
Tetapi saya pulang membawa lebih banyak daripada yang saya berikan.
Saya membawa pengalaman.
Membawa pertemanan baru.
Membawa silaturahmi baru.
Dan membawa sebuah jejaring baru yang mungkin saja sedang Tuhan siapkan untuk menghadirkan kebaikan di masa depan.
Pada akhirnya, berbagi memang tidak pernah membuat kita kehilangan.
Justru sebaliknya.
Ketika ilmu dibagikan, ia tumbuh di kepala dan hati orang lain.
Ketika pengalaman dibagikan, ia dapat menjadi bekal bagi perjalanan orang lain.
Ketika silaturahmi dibangun, terbuka kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.
Dan ketika kita memilih untuk menjadi manusia yang bermanfaat, kita tidak pernah benar-benar tahu ke mana jejak kebaikan itu akan berjalan.
Hari ini saya berbagi.
Hari ini pula saya menambah jejaring.
Mungkin itulah salah satu keindahan dalam perjalanan hidup: kita berangkat dengan niat memberikan sesuatu, tetapi justru pulang membawa pelajaran.
Maka, mari terus belajar.
Tetap rendah hati.
Tetap membuka diri.
Terus membangun jejaring.
Dan, sejauh yang kita mampu, teruslah menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.
Sebab selama kita mau berbagi, akan selalu ada sesuatu yang bertumbuh.
Selama kita mau membuka diri, akan selalu ada pintu yang terbuka.
Dan selama kita mau menjadi berkat, akan selalu ada kemungkinan Tuhan mempertemukan kita dengan orang-orang yang tepat.
Salam Guru di Atas Garis.