Oleh: Mardi Panjaitan*)
Hari itu saya datang ke kelas membawa satu rencana. Di hadapan saya ada enam anak. Mereka masih kecil-kecil. Dua di antaranya adalah anak Down Syndrome. Rencana saya sederhana. Kami akan bermain bulutangkis.
Ternyata tidak semudah itu.
Jangankan bermain. Memegang raket pun mereka tidak berselera. Bukan saya yang tidak mau.
Mereka.
Saya tersenyum. Saya pun mulai berpikir.
Hari itu saya belajar satu hal. Enam anak, enam keinginan.
Dava memilih caranya sendiri. Ia berguling-guling di lantai. Berkali-kali saya mengangkatnya, berkali-kali pula ia kembali berguling.
Bagi Dava, mungkin itulah permainan yang paling menyenangkan hari itu.
Teman-temannya pun memiliki kesukaan masing-masing. Saya seperti membentur tembok ketika berusaha menjalankan rencana yang sudah disiapkan.
Akhirnya kami mengubah cara.
Saya memegang dua anak. Anak-anak lainnya didampingi orang tua masing-masing. Kami berjalan mengelilingi sekolah, sekitar lima ratus meter, lalu berhenti di tempat perosotan.
Mereka bermain.
Orang tua ikut bergerak.
Semua berkeringat.
Tidak ada raket. Tidak ada pertandingan bulutangkis. Namun, tujuan Pendidikan Jasmani hari itu tercapai.
Saya datang membawa satu rencana pembelajaran. Saya pulang membawa pelajaran yang lebih besar.
Sebelum mengajar anak, guru harus belajar membaca anak.
—
Ada hari lain ketika saya bertemu Ferdi.
Tubuhnya besar. Hari itu hanya ia yang hadir mengikuti pelajaran olahraga. Lebih dari setengah jam saya membujuknya agar bangkit dari tempat duduknya.
Ia menggeleng.
Saya mengajak lagi. Ia tetap menggeleng. Tangannya malah menarik tangan saya. “Pak Mardi, sini aja kita nyanyi-nyanyi,” pintanya sambil memeluk saya.
“Boleh. Tapi Adek berdiri, ya. Kita joget!”
Musik dangdut kesukaannya mengalun dari telepon genggam. Kami berjoget bersama.
Satu lagu selesai. Kami lanjut lagu berikutnya. Setelah beberapa lagu, saya mengajaknya keluar kelas. Kali ini ia mau.
Di bawah pohon rindang, mamanya sedang menunggu. Ferdi memanggil mamanya dan meminta ikut bermain. Jadilah kami bertiga bermain sepak bola.
Saya mengoper bola kepadanya. Bola bergerak pelan ke arahnya, tetapi tetap saja lolos dari jangkauannya. “Ayo, Dek! Kejar bolanya!” teriak mamanya.
Ferdi berlari. Bola kembali lolos dari kakinya. “Kejar!” saya menyemangati sambil bertepuk tangan.
Ferdi berlari menuju bola. Namun, tepat di bawah tiang bendera, ia tiba-tiba berhenti. Tubuhnya berdiri tegap. Tangannya memberi hormat. Lalu terdengar suaranya dengan nyaring menyanyikan Indonesia Raya.
Mamanya tertawa terpingkal-pingkal. Saya yang sejak tadi menahan tawa akhirnya ikut tertawa.
Hari itu Ferdi berkeringat. Bajunya basah. Ia bergerak dengan senang.
Saya datang untuk mengajarkan olahraga. Ferdi mengajari saya sesuatu yang lain.
Tujuan pembelajaran tidak harus berubah hanya karena jalan menuju tujuan itu berubah.
—
Sejak saat itu saya semakin sering bertanya kepada diri sendiri sebelum mengajar: Siapa anak yang sedang saya hadapi?
Pertanyaan itu sederhana. Namun, jawabannya tidak pernah sederhana. Ada anak yang membutuhkan gambar. Ada yang lebih mudah memahami melalui gerakan. Ada yang membutuhkan pengulangan.
Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada pula yang hanya perlu seseorang yang terus mengatakan, “Kamu bisa.”
Di situlah saya memahami bahwa pembelajaran mendalam tidak dimulai dari banyaknya materi yang berhasil disampaikan.
Ia dimulai ketika anak terlibat. Ketika kegiatan terasa bermakna. Ketika anak merasa aman dan senang untuk mencoba.
Untuk anak berkebutuhan khusus, jalan menuju pengalaman itu tidak selalu sama. Guru harus membaca gerak tubuh, ekspresi, minat, penolakan, bahkan diam.
Sebab tidak semua anak mampu mengatakan kebutuhannya dengan kata-kata.
—
Pelajaran berikutnya datang dari Putri. Ia anak tunarungu. Perjalanannya tidak selalu mudah. Ada hari ketika latihan berjalan lancar, tetapi ada pula hari ketika mendekatinya saja terasa sulit.
Suatu hari Putri jatuh saat latihan. Ia meringis kesakitan. Setelah kejadian itu, beberapa hari saya harus membujuknya agar mau kembali berlatih. Ada rasa takut yang belum hilang.
Saya mendekatinya pelan-pelan. Saya membujuknya lagi. Saya menunggu sampai ia bersedia mencoba.
Lalu saya membisikkan sesuatu di telinganya. Satu kalimat sederhana: “Kalau juara, nanti bisa naik pesawat.”
Entah apa yang terjadi di dalam pikirannya saat itu. Namun, semangatnya kembali muncul. Latihan dimulai lagi.
Sejak itu, setiap latihan selalu punya cerita sendiri. Ada hari ketika Putri bersemangat. Ada hari ketika ia sulit diajak berlatih. Di situlah kesabaran guru diuji.
Putri juga tidak berlatih sendirian. Papanya, Toni Tarihoran, sering mengantar dan menemaninya latihan. Ketika Putri menjalani Pelatnas di Ragunan, saya ikut mengantarnya. Ibunya mendampingi.
Putri menjalani latihan di Ragunan selama satu bulan penuh. Kemudian datang perjalanan yang lebih jauh. Athena.
Pada 2011, Putri menjadi bagian dari kontingen Indonesia dalam Special Olympics World Summer Games 2011 di Athena. Ia turun di nomor lari 100 meter putri.
Saya membayangkan perjalanan yang sudah ditempuhnya. Anak yang sebelumnya takut kembali berlatih setelah jatuh, kini berdiri di lintasan bersama atlet dari berbagai negara.
Putri berlari. Dan ketika perlombaan selesai, ia meraih medali perunggu. Medali itu tentu membanggakan. Namun, bagi saya, medali bukan bagian paling dalam dari kisah Putri.
Medali adalah sesuatu yang terlihat. Yang tidak terlihat adalah hari-hari ketika ia harus dibujuk untuk kembali berdiri. Ada rasa sakit yang harus dilalui. Ada ketakutan yang harus dikalahkan. Ada ayah dan ibu yang terus mendampingi. Ada guru yang tidak berhenti percaya. Dan ada seorang anak yang perlahan belajar percaya kepada dirinya sendiri.
Sebelum Putri berlari di Athena, ia terlebih dahulu belajar bangkit dari jatuhnya sendiri.
—
Kisah Putri membuat saya semakin percaya bahwa sekolah tidak pernah bekerja sendirian.
Ada keluarga yang mendampingi. Ada orang tua yang menunggu. Ada guru yang melatih. Ada lingkungan yang memberi ruang.
Anak mungkin yang berlari. Tetapi ada banyak tangan yang memastikan ia memiliki tempat untuk tumbuh. Karena itu, ketika seorang anak berhasil, saya tidak hanya melihat hasil akhirnya. Saya melihat perjalanan panjang yang ada di belakangnya.
Saya melihat orang tua yang tetap bertahan ketika anaknya lelah. Saya melihat guru yang memilih mencoba lagi ketika cara pertama belum berhasil. Saya melihat sekolah yang membuka pintu kesempatan. Dan saya melihat seorang anak yang perlahan berkata melalui tindakannya sendiri:
“Saya bisa.”
—
Pengalaman bersama anak-anak itu juga mengubah cara saya memandang tugas sebagai kepala sekolah.
Saya sering membayangkan sekolah seperti sebuah bengkel. Pemilik bengkel boleh memiliki kantor. Ia boleh membuat rencana, mengatur pekerjaan, dan menyediakan peralatan. Tetapi kendaraan tidak diperbaiki di kantor pemilik bengkel.
Kendaraan diperbaiki di bengkel.
Di sanalah tangan bekerja. Di sanalah masalah ditemukan. Di sanalah orang mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi.
Sekolah juga begitu.
Banyak keputusan penting memang dibuat di ruang kepala sekolah. Namun, pendidikan sesungguhnya terjadi ketika guru bertemu dengan anak.
Di ruang kelas.
Di lapangan.
Di ruang praktik.
Di tempat bermain.
Di sana guru melihat seorang anak yang tidak mau memegang raket, lalu mencari jalan lain agar ia mau bergerak.
Di sana seorang anak yang semula ragu perlahan berani mencoba. Di sana sebuah potensi yang semula tidak terlihat mulai menemukan jalannya. Di sanalah masa depan bangsa sedang dikerjakan.
—
Karena itu, saya tidak melihat ruang kelas sebagai tempat kecil yang terpisah dari pembangunan bangsa.
Justru sebaliknya.
Masa depan bangsa ditentukan dari ruang kelas.
Indonesia yang adil tidak dimulai dari slogan tentang kesetaraan.
Ia dimulai ketika seorang guru melihat enam anak dengan enam kebutuhan yang berbeda, lalu berusaha memastikan semuanya mendapat kesempatan untuk tumbuh.
Keadilan bukan berarti memberikan hal yang sama kepada setiap anak.
Keadilan berarti memberikan dukungan yang dibutuhkan setiap anak agar ia dapat berkembang.
Indonesia yang makmur pun tidak hanya dibangun dengan menghasilkan anak-anak berprestasi.
Ia dibangun dengan memastikan tidak ada potensi manusia yang hilang karena kita gagal melihatnya.
Putri mengingatkan saya akan hal itu. Bagaimana jika dulu tidak ada yang percaya kepadanya? Bagaimana jika ketika ia merasa tidak sanggup, kami membiarkannya berhenti?
Mungkin kita tidak akan pernah melihat kemampuan yang kemudian membawanya sampai ke Athena.
Dan Indonesia yang berdaulat?
Saya teringat Ferdi.
Hari itu saya mengajaknya mengejar bola. Ia berlari menuju bola, lalu berhenti tepat di bawah tiang bendera.
Ia berdiri tegap.
Ia memberi hormat.
Kemudian ia menyanyikan Indonesia Raya.
Saya tidak mengajarinya melakukan itu hari itu. Tetapi saya melihat sesuatu yang sangat sederhana dan sangat dalam.
Seorang anak merasa bahwa dirinya adalah bagian dari bangsa ini.
—
Saya masih sering mengingat kelas itu. Enam anak. Enam keinginan. Satu guru yang datang membawa satu rencana, lalu pulang membawa banyak pelajaran.
Dari mereka saya belajar bahwa pendidikan bukan tentang memaksa semua anak berjalan di jalan yang sama. Pendidikan adalah tentang menemukan jalan yang memungkinkan setiap anak bergerak dari tempatnya berada menuju kemungkinan terbaik dirinya.
Sebagai kepala sekolah, saya pun belajar bahwa tugas saya bukan menjadi pusat dari semua perubahan. Tugas saya adalah memastikan guru memiliki ruang untuk bekerja. Memastikan mereka memiliki kesempatan untuk mencoba. Memastikan tidak ada guru yang takut mengubah cara ketika cara lama tidak lagi menjangkau anak.
Sebab pada akhirnya, pembangunan bangsa tidak pertama-tama dikerjakan di kantor. Ia dikerjakan di ruang kelas. Di sanalah seorang guru bertemu dengan seorang anak.
Di sanalah keberanian tumbuh. Di sanalah potensi ditemukan. Di sanalah keluarga dan sekolah belajar berjalan bersama. Dan di sanalah Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur sedang dibangun. Satu anak demi satu anak.
Saya datang ke kelas untuk mengajar pelajaran. Tetapi setiap kali pulang, saya membawa pelajaran baru. Saya mengajar pelajaran. Mereka mengajari saya.
*) Penulis adalah Kepala SLB Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara, Menulis Buku “Guru Olahraga Di Atas Garis.