Hiu Raksasa yang Datang ke Pesisir Irlandia

Bagikan Artikel

Oleh: Ahmad Amri Falah

Ada sesuatu yang ganjil sekaligus memukau di pesisir barat Irlandia. Di antara tebing-tebing hijau dan laut Atlantik yang terbentang luas, sesekali muncul bayangan raksasa bergerak perlahan di permukaan air.

Bukan monster laut. Bukan pula paus.

Itulah hiu basking, salah satu ikan terbesar di dunia yang setiap tahun datang ke perairan Irlandia. Tubuhnya dapat mencapai sekitar 10 meter, tetapi ukurannya yang menggetarkan mata justru berbanding terbalik dengan perilakunya. Hiu ini dikenal sebagai gentle giant, raksasa yang jinak.

Pesisir County Mayo, termasuk Keem Beach di Achill Island dan Semenanjung Mullet, menjadi salah satu kawasan yang dikenal sebagai tempat pengamatan hiu basking. Dari tebing atau geladak perahu, wisatawan berkesempatan melihat ikan raksasa itu berenang di perairan pesisir.

Di sinilah Irlandia menawarkan pengalaman yang berbeda. Alam tidak selalu perlu ditaklukkan untuk dinikmati. Kadang, cukup berdiri di tepi tebing dan menyaksikan makhluk laut raksasa lewat di bawah sana.

Hiu yang Tidak Memburu Manusia

Hiu basking memiliki nama ilmiah Cetorhinus maximus. Ukurannya memang dapat membuat orang yang pertama kali melihatnya merasa gentar. Namun, hiu ini bukan predator yang mengejar manusia.

Makanan utamanya justru organisme berukuran sangat kecil, seperti plankton dan kopepoda. Dengan mulut yang terbuka lebar, hiu basking berenang perlahan sambil menyaring air laut untuk mendapatkan makanan.

Cara makan itulah yang membuatnya kerap terlihat berenang di dekat permukaan.

Dalam bahasa Gaelik, hewan ini dikenal dengan sebutan liamhán gréine, yang secara harfiah merujuk pada ikan matahari. Sebutan tersebut terasa masuk akal ketika melihat perilakunya yang kerap berada di permukaan air.

Dari kejauhan, pemandangan itu mungkin terlihat sederhana. Sirip punggung muncul dari laut, tubuh besar bergerak perlahan, kemudian menghilang kembali. Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuat perjumpaan dengan hewan ini terasa istimewa.

Raksasa yang datang bukan untuk menyerang, melainkan mencari makan.

Menunggu Musim Plankton

Kemunculan hiu basking di perairan Irlandia bukan tanpa sebab. Kehadirannya berkaitan erat dengan kondisi laut dan ketersediaan makanan.

Periode sekitar April hingga awal Juli menjadi salah satu waktu yang menarik untuk mengamatinya. Ketika perairan mulai menghangat dan plankton berkembang, sumber makanan melimpah di sejumlah kawasan pesisir.

Hiu basking kemudian mengikuti sumber makanan tersebut.

Pada Agustus hingga September, peluang pengamatan kembali terbuka seiring aktivitas biologis spesies tersebut di sekitar perairan Irlandia.

Karena itu, perjumpaan dengan hiu basking bukan semata-mata persoalan mendatangi tempat yang tepat. Ada unsur musim, kondisi laut, cuaca, dan keberuntungan yang ikut menentukan.

Alam tidak menyediakan jadwal seperti jadwal penerbangan.

Dan mungkin justru di situlah daya tariknya.

Berbeda dengan pertunjukan yang dapat dimulai tepat ketika wisatawan tiba, perjumpaan dengan satwa liar menuntut kesabaran. Kita datang sebagai tamu, sementara alam tetap berjalan dengan waktunya sendiri.

Irlandia dan Indonesia, Dua Negeri Raksasa Laut

Bagi wisatawan Indonesia, cerita tentang hiu basking barangkali mengingatkan pada hiu paus.

Indonesia memiliki sejumlah lokasi yang dikenal sebagai habitat hiu paus, termasuk Botubarani di Gorontalo, Teluk Cenderawasih di Papua, serta perairan Berau di Kalimantan Timur.

Keduanya sama-sama berukuran besar dan sama-sama memperoleh makanan dengan menyaring organisme kecil dari air laut. Namun, hiu basking dan hiu paus adalah dua spesies berbeda.

Hiu basking hidup terutama di perairan beriklim sedang, termasuk Atlantik Utara. Sementara hiu paus, Rhincodon typus, lebih banyak ditemukan di perairan tropis.

Perbedaan lain terletak pada pengalaman wisata yang ditawarkan.

Di sejumlah lokasi Indonesia, wisatawan dapat mendekati hiu paus menggunakan perahu dan, dengan mengikuti ketentuan setempat, melakukan aktivitas di dalam air. Pengalaman tersebut membuat wisatawan dapat melihat raksasa laut dari jarak sangat dekat.

Di pesisir Irlandia, pengalaman cenderung berupa pengamatan. Jarak dengan satwa dijaga dan aktivitas wisata harus memperhatikan prinsip konservasi.

Dua pengalaman tersebut menunjukkan bahwa wisata satwa tidak harus selalu berarti menyentuh atau berenang bersama hewan.

Melihat dari kejauhan pun dapat menjadi pengalaman yang kuat.

Bahkan, dalam konteks konservasi, menjaga jarak sering kali merupakan bentuk penghormatan yang paling tepat.

Wisata yang Tidak Harus Menaklukkan

Ada kecenderungan dalam pariwisata modern untuk mengukur pengalaman berdasarkan seberapa dekat manusia dapat mendekati satwa liar. Semakin dekat, semakin dianggap menarik. Semakin mudah menyentuh, semakin dianggap istimewa.

Padahal, logika tersebut tidak selalu sejalan dengan kepentingan konservasi.

Hiu basking mengingatkan kita pada bentuk wisata yang berbeda. Wisatawan datang bukan untuk menguasai ruang hidup satwa, tetapi untuk menyaksikan bagaimana satwa itu menjalani kehidupannya sendiri.

Kita hanya menjadi penonton.

Dan justru karena itulah pengalaman tersebut terasa berharga.

Di balik tubuh raksasanya, hiu basking menyimpan pelajaran sederhana tentang ekosistem laut. Kehadirannya mengikuti plankton. Plankton berkembang mengikuti kondisi laut. Kondisi laut dipengaruhi oleh perubahan lingkungan yang jauh lebih besar daripada yang dapat dikendalikan manusia.

Dengan kata lain, ketika seekor hiu basking muncul di permukaan, yang sebenarnya sedang kita lihat bukan hanya seekor ikan raksasa.

Kita sedang melihat sebuah ekosistem bekerja.

Dari tebing-tebing County Mayo hingga perairan Gorontalo, raksasa laut mengajarkan hal yang sama: alam memiliki cara sendiri untuk mengatur kehidupan.

Tugas manusia bukan selalu mendekat sejauh mungkin.

Kadang-kadang, tugas kita justru berhenti pada jarak yang aman, memperhatikan, lalu membiarkan raksasa itu kembali berenang ke laut.

Sebab, perjalanan terbaik tidak selalu tentang seberapa dekat kita dapat menyentuh alam. Bisa jadi, perjalanan terbaik adalah ketika kita pulang dengan kesadaran bahwa ada dunia yang jauh lebih besar daripada manusia, dan dunia itu layak tetap dibiarkan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *