BONARINEWS – Sepuluh hari adalah waktu yang panjang bagi sebuah pencarian. Tetapi bagi keluarga yang menunggu seseorang pulang, sepuluh hari mungkin terasa seperti waktu yang tidak bergerak sama sekali.
Pada 17 September 2026, operasi SAR gabungan terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal Arupadhatu I yang hilang di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, resmi dihentikan. Keputusan itu diambil setelah pencarian dilakukan selama sepuluh hari dan diperluas melalui berbagai sektor di laut, darat, dan udara. Tim SAR belum menemukan kapal maupun tanda-tanda keberadaan delapan orang yang berada di dalamnya.
Secara prosedural, pencarian memang memiliki batas.
Tetapi kehilangan tidak.
Di situlah beratnya keputusan tersebut.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan operasi dihentikan karena pencarian dinilai sudah tidak efektif. Namun, pintu pencarian tidak benar-benar ditutup. Jika masyarakat atau nelayan menemukan petunjuk baru yang dapat dikonfirmasi, operasi dapat dibuka kembali.
Kalimat itu menyisakan dua kenyataan sekaligus.
Yang pertama, kemampuan manusia memiliki batas.
Yang kedua, harapan belum memiliki titik akhir.
Selama sepuluh hari, ratusan personel SAR menyisir wilayah yang luas. Pada hari terakhir, area pencarian mencapai sekitar 8.509 mil laut persegi. Sebanyak 523 personel terlibat dalam operasi yang dilakukan melalui berbagai jalur. Tim juga menemukan 13 objek terapung, tetapi setelah diverifikasi, benda-benda tersebut tidak berkaitan dengan kapal Arupadhatu I.
Angka-angka itu menunjukkan betapa besar upaya yang telah dilakukan.
Namun, di balik angka tersebut ada delapan manusia.
Ada lima jurnalis yang berangkat untuk menjalankan tugas. Ada kapten, awak kapal, dan seorang pemandu yang ikut dalam perjalanan. Mereka bukan sekadar nama dalam daftar pencarian. Mereka adalah anak, suami, ayah, saudara, teman, dan rekan kerja bagi orang-orang yang sampai hari ini masih menunggu kabar.
Karena itu, berita tentang penghentian operasi SAR tidak pernah benar-benar menjadi berita tentang sebuah operasi yang selesai.
Ia adalah berita tentang keluarga yang harus melanjutkan hidup di tengah ketidakpastian.
Tidak ada kepastian bahwa mereka akan segera mendapatkan jawaban. Tidak ada kepastian kapan sebuah petunjuk akan ditemukan. Bahkan tidak ada kepastian apakah laut akan mengembalikan sesuatu yang selama sepuluh hari dicari.
Yang ada hanya satu kemungkinan: jika suatu hari ditemukan petunjuk baru, pencarian dapat kembali dilakukan.
Mungkin bagi sebagian orang, operasi SAR adalah soal prosedur, waktu, tenaga, cuaca, luas wilayah, dan efektivitas pencarian.
Bagi keluarga, ini jauh lebih sederhana.
Mereka hanya ingin tahu ke mana orang yang mereka cintai pergi.
Mereka ingin sebuah jawaban.
Dan selama jawaban itu belum ditemukan, sulit mengatakan bahwa sebuah kehilangan benar-benar telah selesai.
Peristiwa ini juga mengingatkan kita pada satu sisi pekerjaan jurnalistik yang sering luput dari perhatian. Jurnalis bekerja untuk mendatangi tempat-tempat yang dianggap penting untuk diketahui publik. Mereka berada di lapangan ketika sebagian orang memilih tetap berada di rumah. Mereka mencari informasi agar masyarakat dapat memahami apa yang sedang terjadi.
Kali ini, lima jurnalis tersebut berangkat untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Namun, perjalanan untuk mencari berita berubah menjadi berita tentang hilangnya mereka sendiri.
Ironis, tetapi sekaligus menyedihkan.
Pekerjaan jurnalistik memang menuntut keberanian. Namun keberanian tidak berarti mengabaikan keselamatan. Di balik setiap peliputan lapangan, selalu ada risiko yang harus diperhitungkan. Laut, cuaca, aktivitas gunung api, kondisi kapal, komunikasi, hingga perubahan situasi dapat mengubah sebuah perjalanan dalam hitungan menit.
Karena itu, tragedi ini seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang kapan pencarian dihentikan.
Ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting: bagaimana memastikan keselamatan orang-orang yang bekerja di lapangan?
Sebab berita boleh dikejar.
Informasi boleh dicari.
Tetapi nyawa tidak pernah boleh dianggap sebagai bagian dari biaya sebuah pekerjaan.
Hari ini operasi SAR telah dihentikan. Kapal Arupadhatu I belum ditemukan. Delapan orang masih belum diketahui keberadaannya. Namun, penghentian operasi bukan berarti semua orang berhenti peduli.
Nelayan tetap dapat menjadi mata di laut. Masyarakat dapat menyampaikan informasi. Rekan-rekan jurnalis dapat terus mengawal kabar. Dan keluarga tetap memiliki hak untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai perkembangan kasus ini.
Pada akhirnya, pencarian mungkin memiliki batas waktu karena manusia memiliki keterbatasan.
Tetapi ingatan tidak.
Nama-nama mereka tidak boleh berhenti sebagai delapan orang yang hilang dalam sebuah berita. Mereka adalah manusia yang pergi menjalankan tugas dan belum kembali.
Karena itu, ketika kapal pencarian kembali ke dermaga dan operasi resmi dinyatakan selesai, mungkin ada satu hal yang belum selesai sama sekali: penantian.
Dan bagi mereka yang menunggu, satu petunjuk kecil pun masih berarti.
Sebab di tengah laut yang luas, terkadang yang dicari bukan sekadar sebuah kapal.
Yang dicari adalah jawaban.
Dan selama jawaban itu belum ditemukan, harapan akan selalu memiliki alasan untuk tetap menyala.
Penulis: Redaksi