Oleh: Devilaria Damanik
Rencana itu mulanya dibuat untuk ramai-ramai. Menjelang malam, satu per satu teman mengurungkan niat pergi ke Air Terjun Tanggedu. Perjalanan yang semestinya dipenuhi tawa bersama mendadak menyisakan satu nama: aku.
Pagi harinya, aku tetap bangun, mandi, dan menyiapkan motor. Ada nasihat yang berkali-kali terngiang: jangan pergi sendiri, di sana tidak ada sinyal, lebih baik bersama teman, kalau bisa laki-laki. Aku mendengarkannya, mengangguk dalam hati, lalu tetap melaju.
Kadang, keberanian bukan soal mengabaikan rasa takut, melainkan memutuskan bahwa rasa ingin tahu lebih besar daripada kekhawatiran.
Sekitar lima puluh kilometer perjalanan menantiku. Aku mengandalkan peta digital yang sesekali membuatku berhenti untuk memastikan arah. Jalan menuju Tanggedu seperti sengaja memanjakan siapa pun yang datang: hamparan pantai di satu sisi, padang rumput luas di sisi lain, langit yang seolah tak bertepi.
Aneh rasanya melintasi bentangan sejauh itu tanpa menemukan pengendara yang searah. Hanya beberapa motor dari arah berlawanan, mungkin orang-orang yang hendak bekerja. Jalanan pagi itu sunyi, dan kesunyian sering kali membuat kita lebih akrab dengan pikiran sendiri.
Di tengah padang rumput itulah aku melihat seorang pengendara lain. Tubuhnya tinggi, menunggangi motor trail Kawasaki. Aku sempat menyalipnya, lalu beberapa saat kemudian ia menyalipku kembali. Kami seperti dua orang asing yang diam-diam menuju tujuan yang sama, tanpa perlu saling memperkenalkan diri.
Ia tiba lebih dahulu. Namun ketika aku membeli tiket masuk, sosoknya menghilang entah ke mana.
Dari gerbang, perjalanan berlanjut melewati jembatan gantung, rumah-rumah warga, serta kebun bawang merah dan tanaman sayur yang tertata rapi. Hanya kendaraan roda dua yang bisa masuk hingga titik tertentu. Harga tiket dan parkir sama-sama sepuluh ribu rupiah. Benar kata teman-temanku: sinyal telepon lenyap sepenuhnya.
Untungnya, jalan setapak yang dipijak banyak orang terasa cukup meyakinkan untuk diikuti.
Di titik parkir terakhir, aku kembali bertemu lelaki bertubuh tinggi yang kulihat di padang rumput tadi.
“Ke sini juga?” sapanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Rasanya menenangkan mengetahui bahwa di tempat tanpa jaringan, masih ada sapaan manusia yang bisa menjadi penunjuk arah.
Tangga-tangga panjang menurun menuju air terjun. Sesampainya di bawah, aku memasang tripod, mengabadikan diri, dan membiarkan gemuruh air menjadi latar dari pagi yang kupilih sendiri itu.
Tak lama kemudian, seorang perempuan muda menghampiriku dan meminta bantuan untuk memotretnya. Permintaan sederhana yang dengan senang hati kupenuhi.
Ia berasal dari Jakarta. Sama sepertiku, ia datang seorang diri dengan sepeda motor.
Kami tertawa ketika ia bercerita bahwa dirinya tiba bahkan sebelum petugas loket datang membuka tempat itu. Rupanya, keberanian untuk berangkat sendirian bukanlah sesuatu yang langka. Hanya saja, orang-orang seperti itu sering saling menemukan di tempat-tempat yang jauh dari keramaian.
Tak jauh dari kami, lelaki berjaket trail tadi sibuk memotret aliran air dan bebatuan. Ia mengingatkanku pada Nicholas Saputra dalam film-film perjalanan: lebih suka mengabadikan dunia yang dilihatnya ketimbang memasukkan dirinya ke dalam bingkai.
Pagi itu, Tanggedu belum ramai. Hanya ada kami bertiga, beberapa anak-anak, serta ibu-ibu warga setempat yang menawarkan tempat duduk dan kelapa muda.
“Ayo duduk di sini,” kata seorang ibu.
Aku tersenyum dan memilih duduk di atas batu besar sambil membuka bekal kacang tanah dan telur rebus. Ibu itu kemudian ikut menemaniku. Kami berbagi makanan dan percakapan ringan, sesederhana orang-orang yang tidak saling mengenal tetapi tak merasa asing.
Ketika pengunjung mulai berdatangan, ia pamit untuk kembali bekerja. Aku mengucapkan semangat, lalu mulai menaiki tangga menuju atas.
Di pendopo dekat area parkir, aku menghabiskan waktu lebih lama dari yang kurencanakan. Para pengemudi ojek wisata bercerita tentang turis-turis mancanegara yang sering datang.
“Banyak orang luar negeri ke sini,” kata salah seorang dari mereka. “Tapi kami tidak tahu bahasanya. Kami tidak sekolah tinggi.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kerendahan hati yang begitu tulus.
Lelaki paruh baya yang sejak tadi kulihat memotret alam kemudian ikut bergabung. Ia memintaku menebak usianya.
“Lima puluh?” jawabku asal.
Ia tertawa lepas.
Tebakanku meleset cukup jauh. Dengan bangga ia menyebut usia sebenarnya, lalu berkata bahwa masa pensiun memberinya kebebasan untuk berpetualang ke mana saja.
Ada orang yang menunggu waktu luang untuk mulai menjelajah. Ada pula yang memilih berangkat meski semuanya belum sempurna.
Hari itu, aku belajar bahwa keduanya sama-sama indah.
Sebelum pulang, aku melambaikan tangan kepada para pengemudi ojek dan beberapa orang yang sempat berbagi cerita denganku.
“Hati-hati di jalan!”
Kalimat itu terdengar berulang kali, diucapkan oleh orang-orang yang baru kukenal beberapa jam sebelumnya.
Aku pulang dengan hati yang penuh rasa syukur. Ternyata, perjalanan sendirian tidak pernah benar-benar membuat seseorang sendirian. Selalu ada orang-orang baru, percakapan singkat, dan kebaikan-kebaikan kecil yang menunggu untuk ditemukan.
Hasrat untuk bertualang terus menambah isi kepalaku. Aku tidak pernah tahu apa yang menanti di ujung jalan, bahkan ketika jalurnya belum terlihat jelas. Namun aku belajar untuk tidak menunggu siapa pun agar bisa melangkah.
Sebab sering kali, kejutan terbaik dari semesta hanya datang kepada mereka yang berani berangkat terlebih dahulu.
Penulis adalah seorang petualang
Hmmm… Untung ga tersesat kau ya kak? Wkwkwk.
Tapi memang jangan terbiasa sendiri. Carilah Nicholas Saputra versi yang bisa dijangkau kak 🤣
Menyala kak