Terobosan ITB Ubah Larva Black Soldier Fly Jadi Pepton, Buka Jalan Industri Bioteknologi Nasional Lepas dari Impor

Bagikan Artikel

Bandung, BONARINEWS – Ketergantungan Indonesia terhadap pepton impor berpeluang berkurang setelah tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mengembangkan pepton berbahan dasar larva Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam. Inovasi ini disebut menjadi yang pertama di dunia yang memanfaatkan serangga tersebut sebagai sumber pepton untuk kebutuhan industri bioteknologi.

Riset tersebut dikembangkan oleh tim dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB di bawah pimpinan Dr. Ir. Muhammad Yusuf Abduh, M.T., bersama mahasiswa dan alumni. Inovasi ini tidak hanya menawarkan alternatif bahan baku dalam negeri, tetapi juga menghadirkan solusi bagi pengelolaan limbah organik.

Selama ini, pepton merupakan salah satu komponen utama yang digunakan sebagai media pertumbuhan mikroorganisme di laboratorium, industri farmasi, hingga produksi pupuk hayati. Namun seluruh kebutuhan pepton nasional masih bergantung pada produk impor dengan harga yang relatif tinggi.

Muhammad Yusuf Abduh mengatakan kondisi tersebut menjadi alasan timnya mencari sumber protein alternatif yang mudah diperoleh di Indonesia.

“Kami melihat Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang melimpah. Larva Black Soldier Fly menjadi pilihan karena kandungan proteinnya tinggi sekaligus memiliki kemampuan mengolah limbah organik, sehingga memberikan manfaat ganda,” ujarnya.

Dalam prosesnya, larva BSF dibudidayakan menggunakan limbah organik, kemudian diolah menjadi hidrolisat protein yang berfungsi sebagai pepton. Pendekatan tersebut menciptakan rantai produksi yang tidak hanya menghasilkan bahan baku industri, tetapi juga membantu mengurangi timbunan sampah organik.

Berdasarkan hasil kajian tim peneliti, kebutuhan pepton di Indonesia diperkirakan mencapai 13,9 juta kilogram setiap tahun. Besarnya permintaan tersebut dinilai menjadi peluang bagi tumbuhnya industri pepton dalam negeri yang mampu bersaing dengan produk impor.

Selain menyasar laboratorium dan industri bioteknologi, pepton hasil pengembangan ITB juga berpotensi dimanfaatkan dalam produksi pupuk hayati, sehingga biaya produksi dapat ditekan melalui penggunaan bahan baku lokal.

Muhammad Yusuf Abduh berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat segera memasuki fase hilirisasi melalui kerja sama dengan dunia usaha dan investor.

Ia optimistis pepton berbasis Black Soldier Fly memiliki prospek besar karena belum banyak dikembangkan di dunia. Selain memperkuat industri bioteknologi nasional, inovasi tersebut juga dinilai mampu menciptakan nilai ekonomi baru dari limbah organik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Melalui riset ini, ITB berupaya menghadirkan solusi yang menjawab beberapa tantangan sekaligus, mulai dari pengurangan impor bahan baku industri, peningkatan nilai tambah biomassa lokal, hingga pengembangan ekonomi sirkular yang mendukung keberlanjutan lingkungan.

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *