Jakarta, BONARINEWS.com — Dukungan terhadap atlet disabilitas intelektual dinilai belum merata, bahkan menjelang ajang nasional yang akan menjadi pintu menuju panggung dunia. Komite Nasional Disabilitas menyerukan keterlibatan semua pihak untuk menyokong gelaran Special Olympics di Nusa Tenggara Timur.
Komisioner Komite Nasional Disabilitas, Jonna Aman Damanik, menegaskan bahwa event olahraga bagi atlet bertalenta khusus tidak bisa hanya bergantung pada satu sektor. Menurut dia, pemerintah pusat, daerah, swasta hingga DPRD perlu mengambil peran nyata.
Ajang yang dimaksud adalah Pekan Special Olympics Nasional yang akan digelar di Kupang pada Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi tahap seleksi menuju kompetisi global yang mempertemukan atlet dari berbagai negara.
Organisasi Special Olympics Indonesia menyebutkan, keterbatasan dukungan masih menjadi kendala utama. Dari target 30 provinsi, baru 21 yang menyatakan kesiapan mengirim kontingen. Jumlah atlet pun baru mencapai sekitar 420 orang, jauh dari target hingga 1.000 peserta.
Ketua Umum SOIna, Warsito Ellwein, menggambarkan kondisi di lapangan yang masih mengandalkan swadaya. Banyak atlet dan tim berangkat dengan biaya mandiri, mulai dari transportasi hingga kebutuhan pendampingan selama pertandingan.
Menurut dia, pemerintah daerah di Nusa Tenggara Timur telah berupaya memberikan dukungan, meski terbatas pada fasilitas dasar seperti penginapan, layanan kesehatan, dan mobilitas selama penyelenggaraan.
Untuk menutup kekurangan, panitia membuka opsi pendanaan alternatif, termasuk skema donasi melalui kegiatan sosial seperti gala dinner dan lelang karya seni.
Di sisi lain, ajang ini memikul target yang lebih besar. Setelah mengirim 25 atlet pada World Games di Berlin 2023, Indonesia diharapkan mampu mengirim hingga 63 atlet ke kompetisi global berikutnya di Santiago, Chile, pada 2027.
Komnas Disabilitas menilai ajang ini bukan sekadar kompetisi olahraga, tetapi juga representasi komitmen negara dalam melindungi hak sekitar 5,2 juta penyandang disabilitas intelektual di Indonesia.
Sementara itu, panitia juga telah mengajukan permohonan audiensi kepada Prabowo Subianto. Harapannya, para atlet dapat bertemu langsung sebagai bentuk dukungan moral dari pemerintah tertinggi.
Namun hingga kini, belum ada kepastian jadwal pertemuan. Panitia menyebut hal tersebut masih menyesuaikan agenda Presiden.
Di tengah keterbatasan, harapan tetap menyala. Bagi para atlet, ajang ini bukan hanya soal medali, melainkan kesempatan untuk diakui, diberi ruang, dan berdiri sejajar di panggung dunia.
Penulis: Dedy Hu