MEDAN, BONARINEWS — Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan menilai Sensus Ekonomi 2026 memiliki peran penting dalam memetakan kekuatan dan kebutuhan ekonomi Indonesia. Menurut dia, data sensus dapat menjadi kompas bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan sekaligus peta bagi pelaku usaha untuk menentukan sektor ekonomi yang memiliki prospek.
Pernyataan itu disampaikan Sofyan dalam Forum Group Discussion (FGD) Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara di Ballroom Hotel Emerald Garden International, Medan, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Sofyan mengatakan data mengenai jumlah dan skala usaha, mulai dari mikro, kecil, menengah hingga besar, diperlukan untuk mengetahui struktur perekonomian Indonesia secara menyeluruh.
“Data tersebut digunakan sebagai kompas atau peta untuk membangun kebutuhan perusahaan dan masyarakat Indonesia yang jumlahnya 287 juta lebih,” kata Sofyan.
Menurut dia, masyarakat tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri. Aktivitas ekonomi saling berkaitan, mulai dari pelaku usaha hingga produsen di tingkat bawah.
Ia mencontohkan kegiatan ekonomi masyarakat di kawasan pertanian Deli Serdang. Ketika pulang dari daerah pertanian di Kecamatan STM Hulu, STM Hilir dan Biru-Biru, ia kerap membawa hasil pertanian masyarakat.
“Saya baru kembali dari STM Hulu dan STM Hilir di Biru-Biru. Setiap saya pulang dari daerah pertanian, mobil saya penuh dengan makanan. Itulah betapa hebatnya rakyat kita, mereka memiliki kekuatan sendiri. Mereka menanam di rumahnya sendiri,” ujar Sofyan.
Ia menilai aktivitas ekonomi semacam itu menunjukkan adanya mata rantai ekonomi yang panjang. Sebuah kegiatan ekonomi, kata dia, tidak hanya menguntungkan pelaku utama, tetapi juga menggerakkan produsen, pedagang, pekerja, petani, nelayan hingga usaha pendukung lainnya.
Karena itu, Sofyan mengatakan masa depan perekonomian Indonesia sangat bergantung pada kemampuan pemerintah membaca kondisi ekonomi secara akurat.
“Saya selalu berpikir bahwa masa depan bangsa Indonesia itu terletak pada perekonomian seperti apa yang harus direncanakan. Karena itu kita membutuhkan dokter-dokter ekonomi, dokter-dokter sensus yang turun ke lapangan untuk memetakan dan mencari apa yang menjadi modal bagi bangsa Indonesia untuk melangkah lebih bagus,” katanya.
Sofyan menilai jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan potensi ekonomi sekaligus pasar yang harus dikelola dengan baik. Namun, jumlah penduduk yang besar harus diikuti peningkatan pendapatan dan daya beli.
“Dari seorang pedagang, kalau melihat pembelinya harus banyak. Penduduk banyak berarti pembelinya banyak. Tapi kalau jumlahnya banyak, penghasilannya kecil, uang yang bisa dibelanjakan juga kecil,” ujarnya.
Menurut dia, Indonesia perlu mendorong agar jumlah penduduk yang besar diikuti dengan meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat.
“Kita menginginkan semuanya hebat. Jumlah penduduk yang banyak, duitnya juga banyak,” kata Sofyan.
Ia kemudian mencontohkan perkembangan ekonomi Cina yang menurut dia mampu meningkatkan daya beli masyarakat hingga mendorong aktivitas ekonomi dan pariwisata ke berbagai negara.
Sofyan menegaskan sensus ekonomi yang bermutu penting untuk memetakan kondisi perekonomian secara akurat. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Menurut Sofyan, peningkatan perekonomian tidak hanya berdampak pada kesejahteraan masyarakat, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kondisi sosial. Ketika masyarakat memiliki penghasilan dan kesempatan ekonomi yang lebih baik, tekanan sosial yang dapat memicu tindak kriminal diharapkan ikut berkurang.
“Kalau perekonomian bangsa meningkat, angka kriminalitas menurun, pembunuhan berkurang. Karena itu, sensus yang bermutu sangat penting untuk memetakan perekonomian dan membantu pemerintah menyusun kebijakan yang tepat,” katanya.
Sofyan juga menyoroti tantangan dalam menjangkau pelaku usaha besar dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Menurut dia, pengusaha besar tidak selalu mudah ditemui jika hanya diundang dalam forum resmi.
Karena itu, ia mengaku berupaya membantu petugas sensus menjangkau kelompok pengusaha melalui komunitas dan pertemuan informal yang biasa mereka hadiri.
“Pengusaha besar kalau diundang kembali belum tentu datang. Kita harus masuk ke sarang mereka. Mereka punya kebiasaan berkumpul setiap Jumat, ada yang Minggu, Senin atau Selasa untuk makan siang. Tempat-tempat tersebut yang harus kita datangi,” ujar Sofyan.
Ia mengatakan pendekatan langsung tersebut penting untuk memperoleh data ekonomi yang lebih akurat. Menurut Sofyan, petugas sensus harus memiliki kepercayaan diri ketika melakukan wawancara dan memahami tujuan pertanyaan yang diajukan kepada pelaku usaha.
Sofyan menilai data yang dikumpulkan tidak hanya berkaitan dengan jenis usaha dan omzet, tetapi juga jumlah tenaga kerja, perkembangan usaha, serta hambatan yang dihadapi pelaku usaha.
“Target kita adalah mengetahui jenis usaha dia apa, untung berapa, omzetnya berapa, menghidupi berapa banyak orang, usahanya lebih baik dibanding 2004 atau 2025, dan apa hambatan yang dia terima,” katanya.
Menurut dia, informasi tersebut akan membantu pemerintah memahami kondisi riil dunia usaha sebelum menyusun kebijakan. Data sensus juga dapat menjadi bahan bagi kementerian, DPR, maupun pemerintah daerah dalam menentukan program dan dukungan anggaran.
Sofyan mencontohkan kebijakan di bidang perdagangan, perindustrian, pariwisata hingga perlindungan konsumen. Menurut dia, kebijakan yang tidak didasarkan pada kondisi riil pelaku usaha berisiko tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Data yang diambil dari statistik itu bagian pemerintah untuk membuat kebijakan,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah perlu memahami kesulitan yang dihadapi pelaku usaha sebelum menerapkan kebijakan baru, termasuk kebijakan perpajakan maupun program pengembangan usaha.
“Sering terjadi pemerintah hanya mendengar. Padahal pejabat pemerintah yang membidangi perekonomian harus memahami kesulitan seorang pengusaha,” kata Sofyan.
Selain bagi pemerintah, Sofyan mengatakan data Sensus Ekonomi juga bermanfaat bagi dunia usaha. Data tersebut dapat membantu pengusaha mengidentifikasi jenis usaha yang layak dikembangkan serta melihat peluang pertumbuhan ekonomi, termasuk di sektor pariwisata.
“Data ini membantu mengidentifikasi usaha apa yang layak dikerjakan, bukan lagi meraba-raba apa yang mau dijual. Setelah itu kita bisa melihat bagaimana peningkatan ekonomi, termasuk peluang pariwisata kita ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BPS Provinsi Sumatera Utara Asim Saputra mengatakan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Sumatera Utara telah mendekati tahap akhir. Menurut dia, tersisa sekitar 2,15 persen pendataan yang harus diselesaikan.
“Kami bersyukur sudah bisa melihat titik-titik terang. Tinggal 2,15 persen lagi kita bisa menyelesaikan seluruh pendataan,” ujar Asim dalam forum tersebut.
Asim mengatakan proses pendataan menjadi pengalaman penting bagi petugas, terutama dalam menjangkau pelaku usaha dari berbagai lapisan masyarakat. Ia menyebut kelompok masyarakat tertentu yang jumlahnya relatif kecil memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Sumatera Utara sehingga tetap harus dijangkau dalam sensus.
“Ini pengalaman berharga bagi kami. Bersusah payah melakukan pendataan di lapangan,” katanya.
Asim menargetkan seluruh proses pendataan dapat segera dituntaskan sesuai jadwal.
Ia juga menyoroti perubahan struktur ekonomi masyarakat Sumatera Utara dalam satu dekade terakhir. Menurut Asim, semakin banyak masyarakat yang membangun usaha dari lingkungan keluarga.
“Hari ini lebih dari 1,2 juta orang telah membangun usaha di keluarga,” ujar dia.
Menurut Asim, perkembangan tersebut menunjukkan adanya transformasi dalam pola pekerjaan dan kegiatan ekonomi masyarakat. Ia mencontohkan perubahan profesi yang ditemukan dalam sensus sebelumnya.
“Kalau 2016 kami menemukan banyak tukang ojek pangkalan, sekarang ini tidak ada lagi. Terjadi transformasi ekonomi,” katanya.
Di sisi lain, Asim menilai anak muda menghadapi tantangan yang semakin besar untuk memasuki pasar kerja. Persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat seiring perubahan struktur ekonomi.
Dalam kesempatan itu, Asim menyampaikan apresiasi kepada Sofyan Tan yang membantu mempertemukan petugas sensus dengan sejumlah pelaku usaha besar dan kelompok masyarakat yang selama ini relatif sulit dijangkau.
Menurut Asim, akses terhadap kelompok pengusaha dan kalangan tertentu menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan pendataan. Fasilitasi tersebut membantu petugas memperoleh data yang dibutuhkan.
“Kami berterima kasih kepada Pak Sofyan Tan karena telah memfasilitasi petugas sensus untuk bertemu dengan para pengusaha besar. Selama ini sangat sulit mengakses mereka. Dengan difasilitasi Pak Sofyan Tan, hal itu bisa terwujud. Ini pengalaman berharga bagi kami,” ujar Asim.
Asim berharap seluruh proses Sensus Ekonomi 2026 dapat diselesaikan dengan baik sehingga menghasilkan data yang akurat mengenai struktur dan perkembangan usaha di Sumatera Utara.
Data tersebut nantinya diharapkan menjadi pijakan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi, sekaligus memberikan gambaran bagi dunia usaha mengenai peluang dan tantangan perekonomian Sumatera Utara.
Penulis: Dedy Hutajulu