Sofyan Tan Dorong Bambu Jadi Investasi Masa Depan: Sekali Tanam, Panen Seumur Hidup

Bagikan Artikel

MEDAN, BONARINEWS — Bambu dinilai memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar tanaman pelengkap lingkungan. Jika dikelola secara serius, tanaman tersebut dapat menjadi sumber pangan, bahan baku berbagai produk, hingga investasi jangka panjang yang manfaatnya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Sofyan Tan, mendorong masyarakat mulai melihat bambu dari perspektif tersebut. Menurut dia, karakter bambu yang relatif mudah dibudidayakan membuat tanaman ini layak dikembangkan sebagai komoditas bernilai ekonomi.

“Bambu itu ada sekali tanam, mau panen seumur hidup,” kata Sofyan Tan saat menjadi keynote speaker dalam Bimbingan Teknis Pemanfaatan Bambu sebagai Bahan Baku untuk Berbagai Produk Bernilai Tinggi yang digelar Komisi X DPR RI bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Hotel Four Points by Sheraton Medan, Sabtu (5/9/2026).

Sofyan menjelaskan bambu dapat tumbuh dengan baik dengan dukungan sinar matahari yang cukup dan kondisi tanah yang relatif basah. Bambu yang telah matang dapat dipanen dalam kisaran tiga hingga lima tahun, dengan usia ideal sekitar empat tahun.

Potensi pemanfaatannya juga terdapat hampir di seluruh bagian tanaman. Rebung dapat diolah menjadi bahan pangan, sementara batang bambu dapat digunakan untuk membuat mebel, papan, lantai hingga berbagai produk bernilai tambah.

Daunnya pun memiliki manfaat tersendiri, antara lain sebagai pembungkus makanan.

Sofyan mencontohkan penggunaan daun bambu dalam tradisi pembuatan bakcang. Baginya, pemanfaatan bambu dalam berbagai tradisi masyarakat menunjukkan bahwa pengetahuan terhadap budaya juga dapat membuka peluang ekonomi.

“Dari rebungnya, kemudian batangnya, dan daunnya, semuanya bisa dimanfaatkan, memiliki nilai ekonomi yang bagus,” ujarnya.

Ia mengatakan pemanfaatan bambu bukan sekadar gagasan. Sofyan mengaku telah menggunakan material bambu selama lebih dari dua dekade. Di kawasan Ecolodge Bukit Lawang, misalnya, bambu digunakan dalam pengembangan bangunan dan restoran.

Saat ini, pemanfaatan bambu juga dikembangkan Sofyan dalam pembangunan kawasan orangutan di Pancur Batu. Sejumlah fasilitas seperti rumah, restoran, dan jembatan menggunakan material bambu.

Namun, Sofyan melihat nilai bambu tidak berhenti pada aspek ekonomi. Tanaman tersebut juga memiliki fungsi ekologis, terutama dalam membantu menghadapi kondisi lingkungan tertentu.

Ia menceritakan pengalamannya ketika banjir bandang menerjang kawasan Bukit Lawang. Saat itu, material kayu berukuran besar yang terbawa arus menghantam rumah warga. Pada salah satu rumah, rumpun bambu yang berada di bagian depan mampu menahan sekaligus meredam hantaman material tersebut.

Menurut Sofyan, pengalaman itu menunjukkan bahwa kekuatan bambu tidak hanya terletak pada materialnya yang kuat, tetapi juga pada kelenturannya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mulai menempatkan bambu sebagai bagian dari perencanaan ekonomi jangka panjang. Menanam bambu, kata dia, bukan hanya untuk memperoleh manfaat dalam waktu dekat, tetapi juga menyiapkan aset yang dapat dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.

“Sepulangnya dari sini, berpikiran untuk investasi jangka panjang untuk anak cucu. Tanamlah bambu,” pesannya.

Bimbingan teknis tersebut juga menghadirkan Dr Sarah Augustina, S.Hut., M.Si., sebagai narasumber dari BRIN.

Pesan yang dibawa dalam kegiatan itu memperluas cara pandang terhadap bambu: dari tanaman yang selama ini kerap dipandang sederhana menjadi sumber bahan baku, peluang usaha, sekaligus bagian dari upaya menjaga lingkungan.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *