Sekolah Rakyat Jadi “Jembatan Emas”, Wamensos Agus Jabo Sebut 45 Ribu Siswa Siap Dijangkau pada 2026

Bagikan Artikel

CIBINONG, BONARINEWS.com – Pemerintah menegaskan komitmennya menghadirkan akses pendidikan bagi keluarga rentan melalui program Sekolah Rakyat. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menyebut Sekolah Rakyat sebagai “jembatan emas” bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

Hal itu disampaikan saat penutupan Pelatihan Manajemen Pembelajaran bagi Guru dan Kepala Sekolah Rakyat Tahun 2026 di HARRIS Hotel Cibinong City Mall, Cibinong, Sabtu (25/4/2026).

Menurut Agus Jabo, Sekolah Rakyat bukan sekadar menyediakan pendidikan formal, tetapi menjadi instrumen strategis negara untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi.

“Sekolah Rakyat adalah jembatan emas bagi keluarga rentan dan miskin agar anak-anak mereka memiliki masa depan lebih baik,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, mayoritas keluarga miskin masih memiliki tingkat pendidikan rendah. Di sisi lain, jutaan anak usia sekolah tercatat belum pernah sekolah atau putus sekolah.

Sebagai langkah konkret, pemerintah meningkatkan kuota peserta didik Sekolah Rakyat dari 20 ribu menjadi 45 ribu siswa pada 2026. Kebijakan ini diharapkan memperluas akses pendidikan sekaligus memberi dampak nyata bagi keluarga kurang mampu.

Selain menambah kuota, Kementerian Sosial Republik Indonesia juga melakukan langkah proaktif dengan menjemput langsung anak-anak yang tidak bersekolah, termasuk memperluas titik lokasi Sekolah Rakyat di berbagai daerah.

Agus Jabo menegaskan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada peran guru dan kepala sekolah dalam membangun sistem pendidikan yang kuat serta berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, ia juga memberikan apresiasi kepada guru dan kepala sekolah terbaik yang dinilai berkontribusi besar dalam pengembangan Sekolah Rakyat.

Program ini diharapkan tidak hanya mengubah masa depan anak-anak penerima manfaat, tetapi juga memulihkan harapan keluarga untuk bangkit dari keterbatasan ekonomi.

Penulis: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *