Bandung, BONARINEWS – Upaya mengembangkan teknologi bawah laut karya anak bangsa terus menunjukkan kemajuan. Tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil melakukan uji coba robot bawah air atau Remotely Operated Vehicle (ROV) di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Pengujian yang dilakukan pada Kamis (28/5/2026) itu menjadi langkah penting dalam pengembangan teknologi observasi dan pemetaan bawah laut yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk penelitian arkeologi, konservasi, hingga pengembangan sektor pariwisata.
Robot bawah air tersebut merupakan hasil penelitian bertajuk DEEP-UNDER ROV yang didanai Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB sejak tahun 2025 melalui Program Penelitian Dosen Muda. Proyek ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu, mulai dari teknik komputer, teknik geodesi dan geomatika, teknik mesin, hingga arkeologi.
Tim riset dipimpin oleh Hilton Tnunay, Ph.D. dari Kelompok Keahlian Teknik Komputer Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB. Pengembangan perangkat juga melibatkan mahasiswa sarjana dan magister Teknik Elektro ITB sebagai bagian dari proyek tugas akhir dan penelitian akademik.
ROV yang dikembangkan dirancang mampu beroperasi hingga kedalaman 50 meter di bawah permukaan laut. Salah satu fungsi utamanya adalah melakukan pemetaan objek bawah air menggunakan teknologi fotogrametri, yakni teknik menghasilkan model tiga dimensi dari kumpulan foto yang diambil dari berbagai sudut.
Dalam pengujian terbaru di Kepulauan Seribu, robot berhasil beroperasi dengan baik hingga kedalaman sekitar 20 meter. Meski kondisi cuaca dan lingkungan laut tidak selalu ideal, perangkat tersebut mampu merekam gambar dasar laut dengan kualitas yang dinilai cukup baik oleh tim peneliti.
Menurut Hilton Tnunay, pengujian lapangan memberikan banyak pengalaman berharga yang tidak bisa diperoleh hanya melalui simulasi atau pengujian laboratorium.
“Robot bawah air yang kami uji kali ini merupakan hasil iterasi ketiga sejak penelitian dimulai pada awal 2025. Banyak pelajaran penting yang hanya bisa didapatkan ketika perangkat benar-benar digunakan di lapangan,” ujarnya.
Meski menunjukkan hasil positif, tim peneliti mengakui masih terdapat sejumlah aspek yang perlu disempurnakan. Berbagai pengembangan lanjutan akan dilakukan agar robot mampu menghasilkan pemetaan bawah laut dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.
Peneliti Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Gabriella Alodia, Ph.D., menjelaskan bahwa pengujian saat ini sengaja dilakukan pada musim pancaroba guna menghindari risiko cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi kinerja perangkat.
Menurutnya, pengujian laboratorium tetap menjadi bagian penting untuk memastikan kekuatan motor penggerak robot saat menghadapi arus laut serta ketahanan struktur terhadap gelombang yang lebih besar.
Ke depan, tim ITB dan BRIN telah menyiapkan target yang lebih ambisius. Pada Oktober 2026 mendatang, mereka berencana melakukan pemetaan terhadap salah satu dari tiga bangkai kapal yang berada di perairan Kepulauan Seribu.
Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Harry O. Sofian, mengatakan teknologi ini memiliki potensi besar untuk mendukung penelitian arkeologi bawah laut yang selama ini masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Menurutnya, pemetaan dan pemodelan bangkai kapal secara detail tidak hanya bermanfaat untuk kebutuhan penelitian sejarah dan arkeologi, tetapi juga dapat membantu mengungkap penyebab tenggelamnya kapal pada masa lalu.
Selain itu, data yang dihasilkan juga berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan wisata edukasi berbasis warisan budaya bawah laut yang semakin diminati di berbagai negara.
Kolaborasi ITB dan BRIN ini diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi observasi laut nasional yang lebih maju. Keberhasilan uji coba tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi karya peneliti Indonesia semakin siap bersaing dalam pengembangan teknologi maritim dan eksplorasi bawah laut di masa depan. (Redaksi)