Medan, BONARINEWS.com – Persoalan sampah di Kota Medan kian mendesak untuk ditangani secara sistemik. Setiap hari, masyarakat Kota Medan menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah. Angka fantastis ini menjadi tantangan besar yang membutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga masyarakat di tingkat rumah tangga.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan rembuk antara GNI Medan CDP dengan pihak Kecamatan Medan Belawan dan Kecamatan Medan Marelan yang digelar di Belawan Coffee & Resto, Belawan, Senin (27/4/2026).
Dalam rembuk tersebut, Program Manajer GNI Medan CDP, Anwar Suhut, memaparkan inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui bank sampah dengan menjadikan posyandu sebagai titik kumpul sampah terpilah.
“Setiap bulan ada sampah yang dikumpulkan masyarakat, dan itu tidak lagi berakhir di TPA. Sampah yang dikumpulkan masyarakat itu bisa ditabung, dan menghasilkan sirkulasi ekonomi masyarakat,” ujar Anwar.
Ia menjelaskan, GNI memiliki 18 fasilitator yang selama ini aktif mendampingi posyandu dan terlibat langsung mengedukasi masyarakat agar memilah dan menabung sampah.
Menurutnya, pendekatan ini menjawab keluhan masyarakat yang selama ini sulit mengakses bank sampah karena jaraknya jauh.
“Dengan menjadikan posyandu sebagai titik kumpul sampah terpilah, masyarakat lebih mudah menjangkaunya. Ini solusi praktis untuk membangun kebiasaan baru,” katanya.
Anwar menambahkan, langkah ini juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Medan yang memberi kewenangan kepada kecamatan untuk mengelola sampah dan menjaga kebersihan sesuai Peraturan Wali Kota Medan.
Sementara itu, perwakilan Kecamatan Medan Belawan, Dani Whardana, menyebut semangat Wali Kota Medan dalam pengentasan masalah sampah telah mendorong lahirnya banyak bank sampah di berbagai wilayah.
Menurut Dani, persoalan sampah di kawasan pesisir seperti Belawan dan Marelan tidak hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut budaya masyarakat.
“Persoalan sampah itu ada dua. Pertama kultur. Masyarakat pesisir masih kurang peduli lingkungan dan gampang membuang sampah sembarangan,” ujarnya.
Ia mencontohkan, masyarakat Belawan masih banyak yang membuang sampah ke laut, sementara di Marelan masih banyak yang membakar sampah.
Selain kultur, persoalan lainnya adalah ketersediaan wadah pemilah sampah dan sistem mobilisasi sampah yang masih bisa dimanfaatkan.
“Harus ada pemilahan mana sampah yang masih bisa didaur ulang dan mana yang memang harus berakhir di TPA. Benefit yang diterima masyarakat juga harus jelas,” katanya.
Dani mendukung penuh gerakan yang dibangun GNI dengan melibatkan sekolah dan menjadikan posyandu sebagai drop point sampah terpilah.
Dalam diskusi itu, Sekretaris Pengurus PKH Kecamatan menilai tidak semua masyarakat rutin datang ke posyandu. Karena itu, ia mengusulkan adanya petugas yang menjemput sampah terpilah langsung ke rumah-rumah warga.
“Peserta PKH sangat potensial dilibatkan. Saya membawahi sekitar 10 ribu peserta PKH. Ini kekuatan besar untuk mendukung penanganan sampah dari rumah tangga,” ujarnya.
Ia menyatakan tertarik dengan konsep menabung sampah karena selain membantu kebersihan lingkungan, juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Melalui rembuk ini, GNI Medan CDP berharap lahir gerakan kolektif yang lebih terstruktur untuk menekan volume sampah di Kota Medan, sekaligus mengubah sampah dari persoalan menjadi sumber manfaat ekonomi bagi warga. (Redaksi)