MEDAN, BONARINEWS — Ketidakakuratan data kesejahteraan dapat menjadi penghalang bagi anak dari keluarga berpenghasilan rendah untuk mengakses pendidikan tinggi. Sejumlah orangtua di Sumatera Utara mengaku sempat menghadapi kendala memperoleh bantuan pendidikan karena status desil keluarga mereka dinilai tidak sesuai dengan kondisi ekonomi sebenarnya.
Pengalaman itu disampaikan dalam kegiatan reses anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, bersama ratusan orangtua mahasiswa di Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Medan Sunggal, sebagaimana dilaporkan dalam keterangan kegiatan tersebut.
Salah satu orangtua yang menceritakan pengalamannya adalah Rita, pedagang sayur di kawasan Pasar Sukaramai, Medan. Ia mempertanyakan penetapan status kesejahteraan keluarganya ketika anaknya sempat dinyatakan tidak lolos karena persoalan desil.
“Bagaimana mungkin kami yang jualannya sering kucing-kucingan dengan Satpol PP dikategorikan sebagai orang mampu? Tapi saat anak kami sempat dinyatakan tidak lulus karena desil, kami hanya bisa pasrah. Hingga akhirnya, campur tangan Tuhan hadir lewat perjuangan Bapak dr Sofyan Tan,” ujar Rita.
Cerita serupa disampaikan Sri Mulyarianti, seorang guru honorer di sekolah swasta dengan penghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan. Dengan lima anak yang harus dibiayai, ia mengaku kesulitan menghadapi persoalan data kesejahteraan yang memengaruhi kesempatan anaknya melanjutkan pendidikan.
Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan mengatakan, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak kehilangan kesempatan kuliah akibat data yang tidak akurat.
Ia mengungkapkan telah berulang kali mengikuti rapat hingga larut malam dalam upaya mendorong perbaikan validitas data desil bersama Badan Pusat Statistik (BPS).
“Kami harus berjuang rapat hingga tengah malam agar data kemiskinan ini valid. Negara harus hadir memastikan anak-anak orang miskin tidak kehilangan haknya untuk kuliah hanya karena kesalahan sistem pendataan,” kata Sofyan Tan.
Dalam kegiatan itu, sejumlah orangtua menyampaikan rasa syukur setelah anak-anak mereka memperoleh kesempatan mengakses pendidikan tinggi. Pendampingan dan upaya memperjuangkan perbaikan data disebut menjadi bagian dari proses yang membantu mereka mengatasi kendala tersebut.
Meski demikian, pengalaman para keluarga itu menyoroti pentingnya ketepatan data sosial ekonomi dalam penyaluran bantuan pendidikan. Proses pemutakhiran dan koreksi data perlu memastikan kondisi nyata keluarga turut diperhitungkan sehingga calon mahasiswa yang memenuhi kriteria tidak terhambat oleh persoalan administratif.
Sofyan Tan juga berpesan kepada mahasiswa agar serius menjalani perkuliahan, belajar tekun, dan berusaha meraih prestasi. Menurut dia, kesempatan memperoleh pendidikan tinggi perlu dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar untuk mendapatkan gelar atau uang saku.
Ia berharap pendidikan dapat membantu mahasiswa memperbaiki masa depan keluarga sekaligus membentuk generasi yang berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
Kisah Rita dan Sri menjadi pengingat bahwa akses pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bantuan, tetapi juga dengan keakuratan data yang menjadi dasar penentuan penerimanya.
Penulis: Dedy Hutajulu