Belawan, BONARINEWS – MIS Al-Fathin Belawan terus menanamkan karakter peduli lingkungan kepada peserta didik sejak hari pertama masuk sekolah. Melalui rangkaian kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATSAMA) bagi siswa kelas I, sekolah menggelar gerakan edukasi pilah sampah sebagai bagian dari pembentukan kebiasaan hidup bersih dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Kegiatan yang dilaksanakan pada hari keenam MATSAMA tersebut mengajak peserta didik mengenal jenis-jenis tempat sampah secara sederhana. Anak-anak juga diajak mempraktikkan langsung memungut dan memilah sampah bekas jajanan mereka sebagai bagian dari pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Salah seorang guru MIS Al-Fathin, Nia Ananda, mengatakan pendidikan karakter peduli lingkungan perlu ditanamkan sejak anak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah.
“Sejak hari pertama sekolah, kami ingin menanamkan pembiasaan karakter peduli lingkungan kepada anak-anak. Pada kegiatan ini mereka belajar membedakan jenis tempat sampah secara sederhana, kemudian mempraktikkan langsung memungut dan memilah sampah bekas jajanan mereka sendiri,” ujar Nia.
Menurutnya, metode belajar melalui praktik langsung membuat anak-anak lebih mudah memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Alhamdulillah, anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Kami berharap kebiasaan baik yang ditanamkan sejak dini dapat terus terbawa dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah,” tambahnya.
Gerakan tersebut merupakan bagian dari perjalanan perubahan di MIS Al-Fathin yang merupakan sekolah mitra binaan Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan CDP dalam program penguatan budaya pengelolaan sampah di sekolah.
Perubahan mulai terasa ketika delapan guru mengikuti pelatihan pengelolaan sampah yang difasilitasi GNI Medan CDP. Mereka adalah Nia Ananda, Masda, Ulfa, Yulisa, Fadilah, Riski, Intan, dan Suhaila.
Pelatihan tersebut mengubah cara pandang para pendidik bahwa sampah bukan lagi sekadar sesuatu yang harus dibuang, tetapi dapat dipilah, dikelola, bahkan memiliki nilai ekonomi.
Di bawah kepemimpinan Kepala MIS Al-Fathin, Tati Utami, semangat itu kemudian diwujudkan dalam kebijakan sekolah. Pengelolaan sampah tidak lagi sebatas imbauan, melainkan menjadi aturan yang berlaku bagi seluruh warga sekolah.
Salah satu kebijakan yang paling dikenal adalah penerapan sanksi edukatif. Siapa pun yang kedapatan membuang sampah sembarangan diwajibkan membawa 1 kilogram sampah daur ulang dari rumah. Aturan tersebut berlaku tanpa pengecualian, baik bagi siswa, guru, tenaga kependidikan, maupun kepala sekolah.
Peraturan itu dipasang di setiap kelas, dibacakan secara berkala, serta terus diingatkan kepada seluruh warga sekolah setiap pagi saat barisan.
Seiring waktu, perubahan yang awalnya dibangun melalui aturan berkembang menjadi kebiasaan. Kesadaran menjaga kebersihan tumbuh bukan lagi karena takut terhadap sanksi, melainkan karena telah menjadi bagian dari budaya sekolah.
Salah seorang siswa kelas V-B, Nadhifah Athira Zaina, mengaku merasakan perubahan tersebut.”Dulu saya sering buang sampah sembarangan,” tuturnya.
Kini, menurut Nadhifah, dirinya bersama teman-teman telah terbiasa membuang dan memilah sampah pada tempatnya serta saling mengingatkan apabila ada yang masih lalai menjaga kebersihan.
Project Manager Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan CDP, Anwar Suhut, mengatakan perubahan di MIS Al-Fathin menunjukkan bahwa budaya peduli lingkungan dapat dibangun apabila sekolah memiliki komitmen yang kuat dan dilakukan secara konsisten.
“Kesadaran menjaga lingkungan harus dibangun sejak dini melalui pengalaman langsung. Ketika anak-anak dibiasakan memilah sampah, membuang sampah pada tempatnya, dan melihat itu sebagai kebiasaan sehari-hari, maka nilai tersebut akan lebih mudah melekat hingga mereka dewasa,” ujar Anwar.
Ia menambahkan, GNI tidak hanya mendorong sekolah menjalankan kegiatan seremonial, tetapi juga memperkuat kapasitas guru dan kepala sekolah agar mampu mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam proses belajar mengajar serta melahirkan berbagai inovasi pengelolaan sampah di sekolah.
“Tahun ini kami kembali bekerja sama dengan donor dari Korea Selatan untuk mendampingi sekitar 120 sekolah di Kecamatan Medan Belawan dan Medan Marelan dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis sekolah, termasuk pengembangan bank sampah sekolah. Harapannya, budaya peduli lingkungan yang telah tumbuh di sekolah-sekolah dampingan dapat terus berkelanjutan dan memberi dampak bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.
Melalui pembiasaan sejak hari pertama sekolah hingga kebijakan yang diterapkan secara konsisten, MIS Al-Fathin membuktikan bahwa perubahan budaya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Dari sekadar memilah sampah, sekolah kini sedang menumbuhkan generasi yang bertanggung jawab, peduli lingkungan, dan siap menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Penulis: Dedy Hutajulu