Bagi banyak orang, sepak bola adalah permainan tentang strategi, ketangkasan, kemenangan, dan kekalahan. Namun, bagi sekelompok pria di Redcar, Inggris, lapangan hijau memiliki arti yang jauh lebih dalam.
Di sana, sepak bola menjadi tempat untuk berbicara tentang kehilangan, kecemasan, tekanan hidup, bahkan keinginan untuk mengakhiri hidup.
Melalui inisiatif No Substitute for Mental Health, klub sepak bola lokal Redcar CF berupaya menjadikan olahraga sebagai pintu masuk untuk membicarakan kesehatan mental, terutama di kalangan pria yang selama ini kerap merasa harus menyimpan persoalan emosional mereka sendiri.
Di tengah masyarakat yang masih memandang pembicaraan tentang perasaan sebagai sesuatu yang sulit bagi laki-laki, ruang seperti lapangan sepak bola justru menawarkan pendekatan yang berbeda. Tidak ada ruang konsultasi yang terasa formal. Tidak ada keharusan untuk langsung menceritakan seluruh masalah.
Cukup datang, bermain, bercanda, kemudian berbicara.
Dari percakapan sederhana di antara rekan satu tim, persoalan yang selama ini dipendam perlahan menemukan tempat untuk diungkapkan.
Ketika Laki-laki Sulit Mengatakan Bahwa Mereka Tidak Baik-baik Saja
Persoalan kesehatan mental di kalangan pria sering kali tidak terlihat. Seseorang dapat tetap bekerja, bercanda, bermain sepak bola, dan menjalani rutinitas sehari-hari sambil menyimpan pergulatan yang tidak diketahui orang lain.
Di lingkungan Redcar, persoalan tersebut menjadi semakin serius karena tingginya angka bunuh diri. Sebagian anggota komunitas bahkan kehilangan teman atau anggota keluarga akibat persoalan kesehatan mental yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Situasi itu mendorong munculnya gagasan bahwa olahraga dapat menjadi salah satu cara untuk membuka percakapan.
Sepak bola memiliki sesuatu yang tidak selalu dimiliki ruang-ruang lain. Ia menciptakan rasa kebersamaan. Orang datang dengan tujuan yang sama, berada dalam satu tim, saling mengoper bola, saling menutup ruang, dan saling membantu ketika salah satu pemain kesulitan.
Hubungan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi dukungan di luar lapangan.
Bagi seseorang yang sedang mengalami masa sulit, mengetahui bahwa ada orang lain yang bersedia mendengarkan dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti.
James Arthur dan Sisi yang Tak Terlihat dari Panggung
Pengalaman serupa juga dibagikan penyanyi James Arthur. Di atas panggung, ia dikenal sebagai seorang performer yang mampu tampil di hadapan ribuan penonton. Namun, kehidupan di balik sorotan lampu ternyata tidak selalu mencerminkan ketenangan yang terlihat oleh publik.
Arthur pernah berbicara mengenai perjuangannya menghadapi kecemasan sosial yang berat. Kondisi tersebut bahkan berkembang hingga membuatnya mengalami agorafobia, keadaan yang dapat membuat seseorang merasa sangat takut atau tidak aman ketika berada di luar lingkungan yang dianggap aman.
Ia juga menggambarkan pengalaman serangan panik yang membuat tubuh dan pikirannya seolah kehilangan kendali. Napas terasa sesak dan muncul keyakinan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Pengalaman tersebut memperlihatkan sisi lain dari kesehatan mental yang sering kali luput dari pandangan publik.
Kesuksesan tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap kecemasan. Popularitas tidak menghapus rasa takut. Dan berada di atas panggung di hadapan ribuan orang tidak selalu berarti seseorang merasa nyaman ketika berhadapan dengan dirinya sendiri.
Pengalaman Arthur menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental dapat dialami siapa saja.
Luka yang Tidak Selalu Terlihat
Di komunitas Redcar CF, persoalan itu hadir dalam bentuk kisah-kisah nyata.
Chris, salah seorang anggota komunitas, harus menghadapi kehilangan ibunya. Belum selesai menghadapi duka tersebut, ia kembali kehilangan dua saudara laki-lakinya yang meninggal akibat bunuh diri dalam rentang empat tahun.
Kehilangan berulang meninggalkan luka yang tidak sederhana.
Namun, berada bersama rekan-rekan satu tim memberinya ruang untuk kembali menjalani hari. Lapangan menjadi tempat untuk bergerak, bercakap-cakap, dan untuk sesaat keluar dari kesunyian yang mungkin muncul setelah kehilangan orang-orang terdekat.
Kisah lainnya datang dari seorang manajer dapur yang juga menjalankan bisnis penyewaan bouncy castle. Tekanan hidup membuatnya sempat kehilangan arah dan merasa tidak lagi mengenali dirinya sendiri.
Ia pernah berada pada titik terendah hingga mencoba mengakhiri hidupnya. Ia selamat setelah istrinya melakukan intervensi.
Kisah tersebut menunjukkan betapa tipisnya batas antara seseorang yang tampak baik-baik saja dan seseorang yang sebenarnya sedang berada dalam kondisi sangat rentan.
Karena itu, dukungan tidak selalu harus dimulai dengan percakapan besar. Terkadang, keberadaan orang lain saja sudah menjadi awal.
Kerentanan Bukan Kelemahan
Salah satu gagasan penting yang muncul dari gerakan ini adalah perubahan cara pandang terhadap maskulinitas.
Laki-laki sering dibesarkan dengan gagasan bahwa mereka harus kuat, mampu menyelesaikan masalah sendiri, dan tidak boleh terlalu banyak menunjukkan emosi. Dalam situasi tertentu, tuntutan tersebut dapat membuat seseorang semakin sulit meminta pertolongan.
James Arthur melihat kerentanan dari sudut pandang berbeda.
Mengakui bahwa diri sendiri sedang tidak baik-baik saja bukanlah tanda kelemahan. Justru diperlukan keberanian untuk mengakui rasa takut, kesedihan, kecemasan, atau keputusasaan yang selama ini disembunyikan.
Keberanian itu mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar.
Kadang-kadang, keberanian hanya berupa keputusan untuk datang ke lapangan ketika seseorang sebenarnya ingin mengurung diri di rumah.
Kadang berupa keberanian untuk mengatakan kepada teman satu tim, saya sedang tidak baik-baik saja.
Dan kadang, keberanian itu adalah menerima uluran tangan.
Sepak Bola sebagai Pintu Masuk
Yang menarik dari inisiatif Redcar CF bukan semata-mata penggunaan sepak bola sebagai aktivitas fisik. Yang lebih penting adalah bagaimana olahraga tersebut menciptakan alasan bagi orang untuk berkumpul.
Tidak semua orang siap datang ke layanan kesehatan mental dan mengatakan bahwa mereka sedang mengalami masalah. Bagi sebagian pria, hal itu mungkin terasa terlalu terbuka atau bahkan menakutkan.
Namun, datang untuk bermain sepak bola adalah sesuatu yang lebih mudah diterima.
Dari sana, percakapan dapat muncul secara alami.
Seseorang mungkin awalnya hanya berbicara mengenai pertandingan. Percakapan kemudian bergeser pada pekerjaan, keluarga, kehilangan, hubungan, atau persoalan pribadi. Dalam suasana yang lebih santai, batas antara percakapan biasa dan pembicaraan mengenai kesehatan mental menjadi lebih cair.
Inilah kekuatan komunitas.
Kesehatan mental tidak selalu membutuhkan ruang yang sempurna untuk dibicarakan. Yang dibutuhkan adalah ruang yang membuat seseorang merasa aman untuk memulai.
Lebih dari Sekadar Permainan
Apa yang dilakukan Redcar CF menunjukkan bahwa sepak bola dapat memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar olahraga.
Ia dapat menjadi ruang pertemuan. Tempat membangun persahabatan. Tempat seseorang menemukan kembali rutinitas. Bahkan, dalam situasi tertentu, menjadi salah satu alasan seseorang memilih untuk bertahan menghadapi hari berikutnya.
Tentu saja, komunitas olahraga bukan pengganti tenaga profesional untuk menangani persoalan kesehatan mental yang serius. Namun, komunitas dapat menjadi jembatan penting agar seseorang tidak menghadapi masalahnya sendirian dan lebih berani mencari bantuan ketika membutuhkannya.
Di lapangan, seorang pemain tidak pernah benar-benar bermain sendirian.
Ketika satu pemain kehilangan ruang, pemain lain membantu menutupinya. Ketika seseorang terjatuh, rekan setim membantunya berdiri. Ketika pertandingan terasa berat, semangat tim membuat seseorang terus berlari.
Mungkin prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan.
Tidak semua pertandingan dapat dimenangkan sendirian.
Dan dalam menghadapi persoalan kesehatan mental, terkadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan nasihat panjang, melainkan kehadiran seseorang yang bersedia berkata, kamu tidak sendirian.
Penulis: Ahmad Amri Falah