MEDAN, BONARINEWS – Anggota DPR RI Komisi X Sofyan Tan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tingginya kasus HIV/AIDS di Indonesia. Bahkan, ia menyebut ratusan ribu Orang dengan HIV (ODHIV) diperkirakan masih belum mengetahui status kesehatannya dan berpotensi menularkan virus di tengah masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Sofyan Tan saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Cegah HIV/AIDS bertajuk Edukasi untuk Semua Warga Kota Medan yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama DPR RI di Hotel Emerald Garden, Medan, Jumat (29/5/2026).
“Pada 2025 diperkirakan ada sekitar 564 ribu ODHIV di Indonesia. Namun baru sekitar 364 ribu yang mengetahui statusnya. Sisanya masih berada di masyarakat tanpa terdeteksi,” kata Sofyan Tan.
Ia menyebut Indonesia kini berada di peringkat ke-14 dunia dengan jumlah penderita HIV terbanyak dan peringkat ke-9 untuk kasus penularan baru. Setiap tahunnya, terdapat lebih dari 24 ribu kasus baru HIV/AIDS di Indonesia.
Menurut data UNAIDS, hingga akhir 2024 diperkirakan sekitar 40,8 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia. Sementara di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga Maret 2025 sekitar 356.638 ODHIV telah terdeteksi atau sekitar 63 persen dari estimasi total kasus nasional.
Dari jumlah tersebut, sekitar 67 persen telah menjalani terapi antiretroviral (ARV), dan 55 persen di antaranya berhasil menekan jumlah virus hingga tingkat sangat rendah.
Sofyan Tan menegaskan, penularan HIV tidak terjadi melalui kontak biasa, melainkan melalui hubungan seksual tidak aman, transfusi darah, penggunaan jarum suntik tercemar, serta penularan dari ibu ke bayi saat kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Ia juga menyoroti Kota Medan yang disebut menjadi salah satu daerah dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Sumatera Utara. Kondisi itu, menurutnya, berkaitan dengan tingginya angka penyalahgunaan narkoba dan persoalan sosial ekonomi.
“Usia 25 sampai 48 tahun menjadi kelompok paling banyak terjangkit HIV karena berada di masa produktif dan memiliki hasrat seksual tinggi. Gonta-ganti pasangan dan hubungan seksual tidak aman sangat berisiko menyebabkan penularan,” ujarnya.
Data terbaru menunjukkan jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Medan mencapai 9.878 kasus. Dari jumlah tersebut, sekitar 5.813 orang diketahui sedang menjalani pengobatan menggunakan terapi ARV.
Sementara itu, kasus HIV di Sumatera Utara sepanjang tahun 2025 juga menunjukkan tren peningkatan dengan tercatat sebanyak 3.041 kasus baru. Kondisi tersebut semakin memperlihatkan pentingnya edukasi, deteksi dini, serta penguatan layanan pengobatan bagi masyarakat.
Selain itu, tekanan ekonomi dan penyalahgunaan narkoba suntik juga disebut menjadi faktor penyebab tingginya penyebaran HIV/AIDS di masyarakat.
Untuk mencegah penularan, Sofyan Tan mengimbau masyarakat menjaga kesetiaan pada satu pasangan dan menggunakan alat pengaman saat berhubungan seksual.
Sementara itu, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Mirna Widiyanti mengatakan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian HIV/AIDS meski angka infeksi baru mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir.
Menurutnya, pada 2023 Indonesia mencatat lebih dari 515 ribu kasus kumulatif HIV/AIDS dengan prevalensi HIV usia di atas 15 tahun sebesar 0,26 persen.
Beberapa provinsi dengan epidemi HIV tinggi antara lain DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Papua. Bahkan Papua tercatat memiliki prevalensi tertinggi mencapai 2,3 persen.
“Target Indonesia pada 2030 adalah menurunkan infeksi baru HIV menjadi di bawah 5.000 kasus per tahun,” kata Mirna.
Ia menjelaskan, banyak penderita AIDS meninggal bukan secara langsung akibat virus HIV, melainkan karena penyakit penyerta saat sistem imun tubuh sudah sangat lemah.
Mirna juga mengingatkan sejumlah gejala HIV yang perlu diwaspadai seperti demam berkepanjangan, penurunan berat badan drastis, diare terus-menerus, hingga batuk dan sesak napas berkepanjangan.
Selain edukasi pencegahan, kegiatan tersebut juga membahas pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan HIV menggunakan rapid test berlapis guna memastikan hasil diagnosis lebih akurat.