JAKARTA, BONARINEWS — Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) membantah narasi dalam Majalah MPA Edisi No. 105/480/2026/TH.XXXXII halaman 28 yang mengaitkan organisasi tersebut dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Aktivis GMNI, Gary Siagian, menilai narasi dalam majalah tersebut sebagai kekeliruan dalam memahami sejarah organisasi mahasiswa. Menurut Gary, GMNI bukan bagian dari PKI dan tidak pernah menjadi organisasi underbow partai komunis.
“GMNI adalah organisasi mahasiswa berlandaskan paham Nasionalisme Indonesia dan menganut ideologi Marhaenisme Bung Karno,” kata Gary saat dihubungi pada 20 September 2026.
Gary mengatakan GMNI berdiri pada 23 Maret 1954 di Surabaya. Menurut dia, sejak awal GMNI berlandaskan Pancasila dan Marhaenisme yang dikembangkan Bung Karno.
“Tidak pernah sama sekali menjadi underbow dari partai komunis manapun,” ujarnya. Ia juga mengatakan GMNI tidak menjadi underbow partai politik setelah Partai Nasional Indonesia (PNI) bubar.
Menurut Gary, organisasi mahasiswa yang secara historis memiliki hubungan dengan PKI adalah Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), bukan GMNI. CGMI termasuk organisasi yang dibubarkan setelah pergolakan politik 1965 bersama sejumlah organisasi yang dikaitkan dengan PKI.
Gary menilai pencantuman GMNI dalam narasi tersebut bukan sekadar persoalan salah ketik. Ia mengatakan kesalahan penulisan nama organisasi seharusnya tidak sampai mengubah identitas dan sejarah organisasi.
“Persoalan ini bukan sekadar salah ketik, tetapi mencerminkan kekeliruan pemahaman yang mendasar mengenai sejarah GMNI,” kata dia.
Menurut Gary, publikasi tersebut berpotensi membentuk pemahaman yang keliru mengenai sejarah GMNI di tengah masyarakat. Karena itu, ia menilai persoalan tersebut perlu dilihat sebagai persoalan akurasi editorial, terutama ketika menyangkut sejarah organisasi.
Gary juga menilai narasi tersebut bertentangan dengan semangat toleransi dan moderasi beragama yang, menurut dia, semestinya menjadi bagian dari penyampaian informasi publik.
Ia berharap kekeliruan tersebut dapat diklarifikasi sehingga informasi mengenai sejarah GMNI tidak berkembang berdasarkan narasi yang dinilai keliru.
Penulis: Dedy Hutajulu