GUNUNGSITOLI, BONARINEWS.COM— Polemik pernyataan Jusuf Kalla terkait konflik Poso dan Ambon terus menuai respons. Kali ini, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Gunungsitoli menyampaikan kritik tajam terhadap penggunaan istilah “syahid” yang dinilai tidak tepat dalam konteks teologi Kristen.
Sekretaris Cabang GMKI Gunungsitoli, Yemima Kristina Gulo, menilai bahwa pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan distorsi pemahaman keagamaan.
“Dalam iman Kristen, kemartiran adalah kesediaan menderita demi kebenaran tanpa kekerasan, bukan membunuh sesama. Narasi ini berisiko membangun stigma yang keliru,” tegasnya.
Ia menambahkan, sebagai tokoh bangsa yang dikenal memiliki rekam jejak dalam perdamaian, Jusuf Kalla seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih diksi, terutama menyangkut isu sensitif lintas agama.
Hal senada disampaikan Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan GMKI Gunungsitoli, Rizki Gea. Ia menyoroti bahwa penyederhanaan persoalan dalam pidato publik dapat berdampak luas secara sosial.
“Kami melihat ada penyederhanaan masalah. Meski mungkin bermaksud menjelaskan realitas konflik, pemilihan kata yang menyentuh dogma agama sangat berisiko dan bisa memicu kegaduhan baru,” ujarnya.
GMKI Gunungsitoli juga menyatakan dukungan terhadap langkah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia yang menempuh jalur hukum sebagai bentuk edukasi publik agar setiap tokoh lebih bijak dalam menyampaikan pernyataan.
Meski demikian, GMKI menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga toleransi dan kerukunan di wilayah Kepulauan Nias.
Mereka juga mendorong adanya klarifikasi terbuka dari pihak Jusuf Kalla guna meredam spekulasi yang berkembang di masyarakat.
“Tokoh bangsa seharusnya menghadirkan narasi yang menyejukkan, bukan justru membingungkan pemahaman teologis,” tutupnya.
Penulis Alfa Christofer