Ditukar dengan Hewan

Bagikan Artikel

Oleh: Devilaria Damanik

Beberapa hari setelah pengumuman kelulusan sekolah menengah atas, seorang mantan kepala desa datang ke rumah panggung berdinding papan milik Pak Sul.

Rumah itu berdiri di ujung kampung, menghadap sawah yang tak pernah benar-benar menjadi milik mereka. Di bawah kolong rumah, dua belas ekor babi meringkuk di kandang bambu. Setiap pagi Pak Sul membersihkan kandang itu lebih dahulu sebelum menyapa anak-anaknya.

Ita sering memperhatikan itu.

Ketika ia demam, ayahnya hanya berkata agar ia banyak minum air.

Ketika seekor babi kehilangan nafsu makan, ayahnya memanggil mantri hewan dari kecamatan.

Sejak kecil Ita tahu, ada makhluk yang lebih berharga daripada dirinya.


Mantan kepala desa itu datang mengenakan kemeja putih yang terlalu rapi untuk jalanan kampung. Rambutnya telah memutih, tetapi cincin emas di jemarinya berkilau ketika ia menyalami Pak Sul.

Ia datang untuk melamar Esti.

Esti baru lulus sekolah menengah atas. Selisih usianya hanya setahun dengan Ita. Rambutnya lurus, kulitnya bening, senyumnya mudah membuat orang menoleh. Di desa mereka, kecantikan perempuan sering dihitung dengan jumlah ternak yang sanggup dibawa calon suami.

Lelaki itu telah memiliki dua istri.

Pak Sul tetap tersenyum.

“Aku akan memikirkannya,” katanya, meski di dalam hatinya keputusan itu sudah selesai.

Malamnya, setelah tamu pulang, kopi kembali diseduh.

“Bagus,” kata Pak Sul. “Daripada tidak menikah.”

“Lebih baik tidak menikah daripada menjadi istri ketiga.”

Semua mata mengarah kepada Ita.

Pak Sul mengerutkan dahi.

“Kau tahu apa tentang hidup?”

“Aku tahu Ayah sedang menjual Esti.”

Cangkir berhenti di bibir sang ayah.

“Jaga mulutmu.”

“Kalau bukan menjual, lalu apa? Di halaman nanti akan masuk kerbau, sapi, kuda. Bukankah itu harga yang Ayah tunggu?”

Ibunya buru-buru menyela.

“Jangan bicara sembarangan.”

Ita menatap perempuan itu.

“Kenapa Ibu diam saja?”

Karena tidak ada jawaban, Ita melanjutkan.

“Dulu aku heran kenapa babi-babi kita dirawat seperti keluarga. Sekarang aku mengerti. Karena mereka akan dijual. Bedanya dengan kami cuma satu. Kami bisa menangis.”

Tamparan mendarat di pipinya.

Pak Sul berdiri.

“Aku bangga punya anak seperti Esti. Dia tahu cara membahagiakan orang tuanya. Tidak seperti kau.”

Malam itu Ita menangis di belakang rumah.

Esti datang memeluknya.

“Aku takut, Kak.”

Ita memeluk adiknya lebih erat.

“Aku juga.”


Sebulan kemudian pesta berlangsung.

Belasan ekor ternak memenuhi halaman.

Orang-orang datang mengucapkan selamat.

Pak Sul berjalan mengelilingi kerbau dan sapi seperti seorang saudagar yang baru pulang dari pasar.

Tak seorang pun melihat Esti menangis ketika kendaraan yang membawanya mulai bergerak meninggalkan kampung.

Hanya Ita.

Sebelum kendaraan itu hilang di tikungan, Ita berbisik pelan,

“Aku akan menjemputmu.”

Ia sendiri tidak percaya pada janjinya.


Malam itu juga Ita pergi.

Ia membawa ransel hitam bekas sekolah dasar yang jahitannya hampir terlepas. Isinya hanya dua potong pakaian, selembar ijazah, dan sebuah foto dirinya bersama Esti ketika masih kecil.

Ia berjalan tanpa tujuan.

Ketika haus ia minum dari sungai.

Ketika lapar ia tidur agar lupa rasa lapar.

Menjelang pagi sebuah truk berhenti.

“Mau ke kota?” tanya sopir.

Ita mengangguk.

Selama perjalanan, ia melihat wajahnya sendiri di kaca jendela.

Dahi yang menonjol.

Gigi yang maju.

Kulit legam yang membuatnya selalu dibandingkan dengan Esti.

Ia teringat ucapan ayahnya bertahun-tahun lalu.

“Kalau saja kau secantik adikmu…”

Kalimat itu ternyata tidak pernah selesai di dalam dirinya.


Di sebuah rumah makan dekat dermaga, Ita hanya memandangi orang-orang menyuap nasi.

Perutnya sudah dua hari kosong.

Seorang perempuan paruh baya menarik kursi di depannya.

“Duduklah.”

Ita ragu.

Perempuan itu mendorong sepiring nasi ke arahnya.

“Makan dulu.”

Air mata Ita jatuh bahkan sebelum suapan pertama masuk ke mulutnya.

“Namamu?”

“Ita.”

“Aku Rani.”

Tidak ada pertanyaan tentang mengapa wajah Ita sembap.

Tidak ada pertanyaan tentang keluarganya.

Hanya satu kalimat.

“Kalau kau belum punya tempat pulang, tinggallah denganku sampai kau menemukan hidupmu sendiri.”


Rani bukan orang kaya.

Ia mengelola usaha pemasok kebutuhan kapal.

Gudangnya kecil.

Rumahnya sederhana.

Namun, untuk pertama kalinya Ita mengenal seseorang yang melihat manusia bukan dari wajahnya.

Pagi hari Ita bekerja.

Malam hari ia belajar.

Belajar membaca buku yang lebih tebal daripada buku pelajaran sekolah.

Belajar membuat pembukuan.

Belajar berbicara kepada orang-orang yang dulu membuatnya gemetar.

Ketika tabungannya cukup, Rani mengajaknya ke dokter gigi.

“Supaya cantik?” tanya Ita.

Rani tersenyum.

“Supaya kau berhenti membenci bayanganmu sendiri.”


Tahun-tahun berlalu.

Usaha mereka berkembang.

Ita dipercaya mengelola pembelian ternak dari berbagai daerah.

Ironis.

Hidupnya justru dibangun oleh perdagangan hewan.

Setiap kali menawar seekor kerbau, ia selalu teringat Esti.

“Berapa harganya?”

Kalimat itu berubah menjadi suara ayahnya.

Lambat laun Ita menyadari sesuatu.

Yang menghancurkan hidup Esti bukan kerbaunya.

Bukan sapinya.

Melainkan orang-orang yang percaya bahwa manusia bisa memiliki harga.


Suatu sore, surat dari kampung datang.

Esti melahirkan anak ketiga.

Pak Panji sedang mencalonkan diri menjadi kepala desa lagi.

Pak Sul sering bercerita kepada tetangga bahwa keberuntungan keluarganya dimulai ketika Esti menikah.

Ita membaca surat itu berkali-kali.

Lalu melipatnya perlahan.

Malam itu ia tidak tidur.

Pagi harinya ia berkata kepada Rani,

“Aku ingin pulang.”

Rani hanya memandangnya.

“Untuk memaafkan?”

Ita tidak menjawab.

“Kalau hatimu masih dipenuhi dendam, jangan pulang.”

Ita tetap berangkat.

Rani tidak menahan.

Ada perjalanan yang tidak bisa dihentikan siapa pun.


Delapan tahun setelah meninggalkan desa, Ita kembali.

Ia datang bersama truk-truk berisi kerbau, sapi, dan kuda.

Lebih banyak daripada yang dahulu diterima Pak Sul ketika menikahkan Esti.

Ayahnya menangis haru.

“Akhirnya kau berhasil.”

Ita tersenyum.

“Iya, Yah.”

Hari itu babi-babi disembelih.

Orang sekampung berpesta.

Pak Sul terus menceritakan keberhasilan anak sulungnya.

Tak ada yang sadar bahwa Ita sama sekali tidak menikmati makanan di hadapannya.

Matanya hanya memandangi kandang babi yang kini kosong.

Ia tiba-tiba teringat masa kecilnya.

Ayah yang lebih cemas ketika seekor babi sakit daripada ketika anaknya demam.

Ia tersenyum.

Ternyata ingatan tidak pernah benar-benar mati.


Dentuman pertama memecah pesta.

Ibunya roboh.

Dentuman kedua menghancurkan lutut kanan Pak Sul.

Dentuman ketiga menghancurkan lutut kirinya.

Jeritan memenuhi halaman.

Pak Sul merangkak sambil menangis.

“Kenapa…?”

Ita mendekat.

“Ayah masih ingat berapa ekor kerbau yang Ayah terima waktu Esti menikah?”

Pak Sul hanya merintih.

“Aku ingat.”

Ia memandang puluhan ternak yang dibawanya.

“Hari ini aku membawa lebih banyak.”

Matanya basah.

“Dulu Ayah mengajariku bahwa manusia bisa ditukar dengan hewan.”

Ia menggeleng pelan.

“Ternyata tidak.”

Suasana menjadi sunyi.

“Karena sebanyak apa pun hewan yang kubawa hari ini, Esti tetap tidak mendapatkan kembali hidup yang dirampas darinya.”

Pistol di tangan Ita mulai bergetar.

Bukan karena takut.

Karena akhirnya ia mengerti.

Tidak ada pembalasan yang mampu mengembalikan masa lalu.

Ia memandang langit yang mulai memerah.

“Aku terlambat.”

Lalu laras pistol itu ia arahkan ke mulutnya.

Dentuman terakhir menutup segala suara.


Dua hari kemudian, Esti pulang dari rumah sakit bersama bayi yang masih berbau susu.

Ia tidak menangis ketika melihat jenazah kakaknya.

Ia hanya duduk di samping peti kayu itu.

Adik bungsunya menyerahkan sepucuk surat.

Tulisan tangan Ita masih rapi.

Esti,

Aku pernah berjanji akan menjemputmu.

Aku gagal.

Aku kira membalas dendam dapat membebaskanmu.

Ternyata yang kubebaskan hanya kemarahanku sendiri.

Jangan hidup seperti aku.

Besarkan anakmu agar ia tak pernah belajar bahwa harga seorang perempuan dapat dihitung dengan jumlah ternak.

Jika suatu hari ia bertanya apa arti merdeka, katakan kepadanya: merdeka adalah ketika seseorang boleh memilih hidupnya sendiri.

Maaf karena aku pulang membawa kematian, bukan kepulanganmu.

Terima kasih pernah menjadi satu-satunya rumah yang kumiliki.

Dengan cinta,

Ita

Esti melipat surat itu perlahan.

Di luar rumah, kerbau-kerbau yang dibawa Ita masih berdiri diikat pada tiang-tiang kayu.

Tak seorang pun mau menyentuhnya.

Untuk pertama kalinya, seluruh kampung memandang hewan-hewan itu bukan sebagai harta, melainkan sebagai saksi bisu bahwa harga seorang manusia tak pernah dapat ditentukan oleh apa pun yang berkaki empat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *