Oleh: Raychelle Xavian Ezkyel Hutabarat
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang kian cepat dan individualistis, kita sering lupa bahwa ada satu nilai yang dahulu menjadi wajah khas bangsa ini: keramahan. Bukan sekadar basa-basi, keramahan adalah cara kita mengakui kehadiran orang lain sebagai sesama manusia. Saya pernah membaca buku betapa ramahnya kita menyambut tamu. Mereka yang mungkin baru pertama kita jumpai, kita salami, bahkan kita persilakan masuk ke rumah kita. Mereka yang mungkin membutuhkan pertolongan, tanpa ragu kita temui. Mereka yang sedang bermasalah, kita rangkul. Dulunya kita begitu ramah.
Tapi anehnya, nilai yang dulu begitu lekat itu kini terasa makin jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika kita berhadapan dengan sesama manusia. Di ruang-ruang publik, kita berjumpa, berpapasan, yang ada bukan suasana hangat. Relasi antar manusia semakin dingin dan cenderung transaksional.
Pengalaman sederhana justru mengingatkan saya kembali pada makna itu. Pada Minggu, 23 Agustus 2026, saya bersama seluruh kelas XH mengunjungi sebuah panti asuhan di Sidoarjo, yaitu Panti Asuhan St. Beatrix. Perjalanan singkat dari SMAK St. Louis 1 Surabaya membawa kami pada sebuah ruang yang, tanpa disadari, menjadi cermin tentang bagaimana nilai kemanusiaan seharusnya dirawat.
Kegiatan yang kami lakukan terbilang sederhana: bermain bersama, bernyanyi, dan berbagi sembako. Namun, yang paling membekas bukanlah aktivitas itu sendiri, melainkan suasana yang menyertainya. Anak-anak di sana menyambut kami dengan senyum yang tulus, tanpa jarak, tanpa prasangka. Ramah. Padahal saya baru pertama sekali ke sana. Mereka tidak mengenal kami, kami pun demikian. Tapi suasana terlihat begitu dekat.
Para suster pun hadir dengan sikap hangat yang sama. Mereka menyapa, menyalami, dan membuka ruang perjumpaan yang begitu dekat dengan kami. Tidak ada kesan bahwa kami adalah tamu, dan mereka adalah tuan rumah. Yang terasa justru adalah relasi yang menempatkan kami “dari luar” sebagai “teman di dalam”.
Di sudut lain panti, saya melihat karya-karya anak-anak yang tertata rapi serta sebuah perpustakaan kecil yang penuh buku. Ini bukan hanya soal fasilitas, tetapi tentang bagaimana mereka diajarkan mengisi waktu dengan hal yang bermakna. Ada juga bunga-bunga yang terawat dan hewan peliharaan yang menjadi bagian dari keseharian mereka. Dari sini, tampak bahwa pendidikan di panti tidak hanya menekankan disiplin, tetapi juga kepedulian. Terhadap lingkungan, terhadap makhluk hidup, dan pada akhirnya terhadap sesama manusia. Inilah yang menurut saya membentuk Panti Asuhan ini menjadi tempat yang sangat ramah. Pada manusia mereka begitu ramah, pada hal lain pun mereka melatih diri untuk menyambut, merawat dan mengelolanya. Keramahan mereka yang ada di panti ini, adalah keramahan yang dipelihara dan dijadikan keramahan yang utuh.
Bagi saya pribadi, inilah pelajaran yang paling penting: keramahan. Senyum, sapaan, dan sikap terbuka yang mereka tunjukkan bukanlah hal yang dibuat-buat. Ia adalah hasil dari nilai yang ditanamkan dan dipraktikkan setiap hari. Mungkin di tengah keterbatasan, mereka justru menunjukkan kelimpahan dalam hal kemanusiaan.
Dari pengalaman ini, saya mulai bertanya: mengapa nilai seperti ini justru terasa semakin langka di luar sana? Di kota-kota besar, kita semakin terbiasa berjalan tanpa saling menyapa, berbicara seperlunya, bahkan kadang curiga terhadap orang lain. Keramahan perlahan tergeser oleh kesibukan, dan oleh budaya yang menempatkan individu di atas kebersamaan. Padahal, jika bangsa ini ingin tetap memiliki identitas yang kuat, keramahan tidak boleh hilang. Keramahan membangun kepercayaan, memperkuat solidaritas, dan menciptakan ruang bagi sesama anak bangsa agar hidup lebih manusiawi.
Panti Asuhan St. Beatrix, dengan segala kesederhanaannya, justru menjadi tempat belajar. Panti asuhan itu mengajarkan kembali apa yang mulai kita lupakan. Keramahan bukanlah sesuatu yang besar dan sulit dilakukan. Keramahan tersaji melalui senyuman, sapaan, dan kesediaan untuk membuka diri terhadap orang lain. Perubahan besar bagi bangsa ini justru bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti itu. Dan, mungkin kita perlu mengajak seluruh anak bangsa, “belajarlah keramahan pada Panti Asuhan”.
Penulis adalah siswa SMAK St. Louis 1 Surabaya