Sofyan Tan Terharu di SLB A Karya Murni Medan, Kalimat Ini Ungkap Makna Cahaya yang Sesungguhnya

Bagikan Artikel

MEDAN, BONARINEWS – Kedatangan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, ke SLB A Karya Murni di Jalan Karya Wisata, Medan Johor, Jumat 28 Agustus 2026, menghadirkan momen penuh haru.

Suara riang anak anak menyambut kedatangan Sofyan Tan. Mereka bernyanyi dengan penuh semangat tanpa merasa rendah diri atas keterbatasan yang dimiliki.

Anak anak di SLB A Karya Murni memang tidak dapat melihat siapa yang datang. Namun, mereka mampu merasakan kehadiran orang lain melalui hati. Tidak terlihat sikap meminta dikasihani. Sebaliknya, keceriaan, keberanian dan harapan justru begitu terasa.

Menariknya, perhatian Sofyan Tan kepada siswa SLB A Karya Murni ternyata bukan baru dimulai ketika dirinya berkunjung ke sekolah tersebut.

Program Indonesia Pintar atau PIP telah bertahun tahun disalurkan kepada siswa SLB A Karya Murni. Bantuan pendidikan tersebut menjadi bagian dari perhatian yang diberikan kepada anak anak yang membutuhkan dukungan untuk mengakses pendidikan.

Saya sejak awal sudah instruksikan SLB SLB yang ada di dekat kami yang membutuhkan bantuan, dicarikan dan diberikan beasiswa PIP, kata Sofyan Tan.

Dengan demikian, kepedulian tersebut telah berjalan sebelum Sofyan Tan datang langsung ke sekolah. Kunjungannya kali ini menjadi kesempatan untuk mendengar secara langsung kebutuhan siswa maupun para guru.

Saat berada di sekolah, Sofyan mengetahui bahwa sebagian besar kegiatan operasional masih mengandalkan donasi serta bantuan dari orang tua siswa yang memiliki kemampuan.

Kondisi tersebut mendorong Sofyan untuk memberikan bantuan secara pribadi. Dari gajinya, ia berencana membeli lima unit kipas angin untuk sekolah.

Selain itu, Sofyan memberikan insentif kepada 16 guru. Masing masing guru mendapatkan Rp500 ribu sehingga total bantuan insentif yang diberikan mencapai Rp8 juta.

Menurut Sofyan, angka lima memiliki makna yang berkaitan dengan Pancasila. Sementara angka delapan menjadi simbol garis yang tidak terputus.

Angka lima mengingatkan pada Pancasila. Sedangkan angka delapan dipilih sebagai simbol garis yang tidak terputus. Mudah mudahan hubungan antara kita semuanya tidak terputus, katanya.

Di balik aktivitas belajar mengajar di SLB A Karya Murni, terdapat perjuangan panjang para guru dalam mendampingi anak anak berkebutuhan khusus.

Kepala Sekolah SLB A Karya Murni, Suster Petriani br Saragih, menceritakan berbagai keterampilan yang diajarkan kepada para siswa.

Mereka tidak hanya belajar membaca dan menulis. Para siswa juga dilatih berjalan sambil mengenali lingkungan, menggunakan laptop, memasak hingga bermain musik.

Semua keterampilan tersebut dipersiapkan agar anak anak memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan secara lebih mandiri di masa depan.

Supaya mereka nanti ada tempatnya untuk masa depan, ujar Suster Petriani.

Perjuangan tersebut menyimpan banyak kisah yang menyentuh hati.

Salah satunya ketika seorang anak bertanya kepada Suster Petriani, Boleh pinjam mata Suster?

Pertanyaan sederhana tersebut muncul karena sang anak ingin mengetahui warna pakaian yang dikenakannya.

Ada pula kisah Jojo, seorang anak tunanetra sekaligus autis yang belum memahami bahwa ibunya telah meninggal dunia. Ia masih sering meminta untuk menelepon mamanya.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, anak anak tersebut tetap memiliki mimpi dan harapan. Bahkan dalam doa mereka terucap keinginan sederhana, Ya Tuhan, semoga kami melihat.

Mendengar kisah tersebut, Sofyan Tan menyampaikan penghormatan kepada para guru SLB A Karya Murni.

Menurutnya, para guru tidak hanya menjalankan pekerjaan sebagai sebuah profesi. Mereka menjalankan tugas tersebut dengan panggilan hati untuk mendampingi anak anak agar memiliki masa depan.

Sebelum meninggalkan sekolah, Sofyan Tan menyampaikan sebuah pesan yang menjadi inti dari pertemuan tersebut.

Cahaya itu ada di dalam hati, bukan di mata. Ada orang yang matanya terang, tapi hatinya tidak bercahaya, ujar Sofyan Tan.

Kunjungan tersebut akhirnya menghadirkan makna yang lebih dalam dari sekadar penyerahan bantuan. Sofyan Tan datang untuk melihat secara langsung kondisi sekolah dan mendengar kebutuhan para siswa.

Namun, anak anak yang tidak dapat melihat justru memberikan pelajaran tentang arti harapan, keteguhan dan kepedulian.

Keterbatasan penglihatan tidak membuat mereka kehilangan mimpi. Di tengah kondisi yang tidak mudah, mereka tetap belajar, bernyanyi, bermain dan mempersiapkan diri untuk masa depan.

Dan jauh sebelum bertemu dengan mereka, kepedulian itu ternyata sudah lebih dulu hadir melalui Program Indonesia Pintar yang terus disalurkan kepada siswa yang membutuhkan.

Karena terkadang, cahaya yang paling berarti bukanlah cahaya yang bisa dilihat oleh mata, melainkan cahaya yang muncul ketika seseorang memilih untuk peduli bahkan sebelum diminta.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *